Profil Jenderal Suyudi Ario Seto: Dari Pemberantasan Narkoba hingga Penangkapan Buron Internasional

Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik Jenderal Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) baru, menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1994 ini kembali ke Markas Besar Polri setelah sebelumnya menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) selama setahun.

Sebelum mencapai puncak kariernya di institusi kepolisian, Jenderal Suyudi Ario Seto telah menorehkan sejumlah prestasi signifikan. Selama memimpin BNN RI, Suyudi dan timnya berhasil menggagalkan peredaran berton-ton narkoba yang mencoba masuk ke wilayah Indonesia. Ia juga secara konsisten mendorong pelarangan vape, mengingat potensi penyalahgunaannya sebagai modus baru dalam peredaran narkotika. Sebelumnya, Suyudi juga pernah menjabat sebagai Kapolda Banten dengan berbagai program inovatif yang telah diluncurkannya.

Profil Singkat Suyudi Ario Seto

Lahir di Jakarta pada 14 Juli 1973, Suyudi Ario Seto lulus dari Akpol pada tahun 1994. Ia melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2003 dan Sekolah Pimpinan Tinggi (Sespimti) pada 2018, meraih gelar sarjana hukum dan magister sains. Dalam pencapaian akademisnya, Suyudi dianugerahi Doktor Honoris Causa Ilmu Hukum dari Universitas Tarumanegara pada Januari 2026 atas kontribusinya dalam kebijakan penanganan narkoba. Menjabat sebagai Kepala BNN pada 2025, ia merupakan alumni Akpol 94 pertama yang mencapai pangkat bintang tiga.

Perjalanan karier Suyudi di Korps Bhayangkara diwarnai pengalaman panjang dalam penugasan di bidang reserse. Ia memulai kariernya sebagai Kanit II Resmob Polda Metro Jaya. Suyudi Ario juga pernah memegang sejumlah jabatan penting di berbagai Polres di wilayah hukum Polda Metro Jaya, termasuk Kapolsek Pasar Minggu hingga Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat. Kariernya terus menanjak hingga menjabat Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada 2011, Kapolres Metro Jakarta Pusat pada 2017, dan Dirreskrimum Polda Metro Jaya pada 2019.

Di lingkungan Bareskrim Polri, Suyudi Ario juga pernah memegang jabatan strategis sebagai Wadirtipideksus dan Wadirtipidsiber Bareskrim Polri pada tahun 2020. Pada tahun 2023, ia dipercaya menjabat sebagai Wakapolda Metro Jaya, yang secara resmi membuatnya menyandang pangkat jenderal polisi bintang satu atau Brigadir Jenderal. Hanya setahun setelah menjabat Wakapolda Metro Jaya, Suyudi diangkat menjadi Kapolda Banten pada 2024, dengan kenaikan pangkat menjadi Inspektur Jenderal atau jenderal bintang dua.

Pada 25 Agustus 2025, Suyudi dilantik oleh Presiden Prabowo sebagai Kepala BNN. Pelantikan ini didasarkan pada Keppres Nomor 118 TPA Tahun 2025 mengenai pemberhentian dan pengangkatan dalam jabatan tinggi utama di lingkungan BNN.

Kepemimpinan Suyudi di Polda Banten

Sebelum menduduki posisi Kapolri, Jenderal Suyudi pernah memegang komando sebagai Kapolda Banten sejak tahun 2024. Dalam fokus kepemimpinannya, Suyudi Ario Seto menekankan pelayanan terhadap masyarakat dengan menginisiasi beberapa program penting. Di antaranya adalah Warung Bhabinkamtibmas (Warbin), yang menjadi wadah bagi warga untuk menyampaikan saran dan masukan kepada polisi Bhabinkamtibmas secara santai. Program lain adalah Pecak (Pergelaran Cepat Anggota Kepolisian Polda Banten) dan Poliran (Polisi Peduli Pengangguran).

Program Poliran dibentuk sebagai respons terhadap tingginya angka pengangguran di Banten yang mencapai 450 ribu warga, yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Suyudi menegaskan bahwa Polri harus mengambil kebijakan peduli terhadap pengangguran melalui solusi 3M: merekrut, melatih, dan menyalurkan tenaga kerja. Ia juga menekankan pentingnya jajaran untuk bersikap humanis, eksis, bermanfaat, antisipatif, dan tegas dalam menjalankan tugas.

Operasi Kampung Narkoba di 34 Provinsi

Di bawah kepemimpinan Jenderal Suyudi Ario Seto, BNN berhasil membersihkan sejumlah kampung dari peredaran narkoba. Operasi besar-besaran yang digelar selama tiga hari, dari 5 hingga 7 November 2025, dilaksanakan serentak di 34 provinsi se-Indonesia. Total 53 lokasi kawasan atau kampung rawan narkotika menjadi sasaran operasi ini.

Kampung Ambon dan Kampung Bahari di Jakarta turut menjadi target operasi penindakan narkoba, yang menghasilkan penangkapan 35 orang dari kedua lokasi tersebut. Secara keseluruhan, tim gabungan berhasil menangkap 1.259 orang yang diduga terlibat dalam peredaran dan penyalahgunaan narkotika. Sejumlah barang bukti narkotika juga diamankan, termasuk 126.325,72 gram sabu, 126,32 kg ganja, dan 1.428 butir pil ekstasi. Petugas juga mengamankan uang tunai senilai Rp 1.543.699.000 dan uang tunai diduga palsu sebesar Rp 5,5 juta.

Operasi serupa juga dilakukan pada 16 Agustus 2026, ketika BNN menggerebek Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dalam operasi ini, disita barang bukti berupa ganja atau gorila, uang tunai, senjata api, samurai, peluru, ponsel, dan aset lainnya, termasuk dua unit mobil mewah (BMW dan Vespa).

Penangkapan Buron Internasional

Di bawah kepemimpinan Suyudi, BNN juga berhasil menangkap salah satu buron Interpol yang menarik perhatian publik, yaitu Dewi Astutik alias PA (43), seorang bandar narkoba senilai Rp 5 triliun. Penangkapan ini dilakukan di Kamboja.

Dewi Astutik diduga masuk ke Kamboja pada Februari 2023 dan sempat bekerja di tempat penipuan daring (scamming). Ia kemudian bertemu dengan seorang warga negara Nigeria berinisial DON, yang dikenal sebagai ‘godfather’, dan bersekongkol untuk melakukan jual beli narkotika ke berbagai negara. DON sendiri telah ditangkap dan dibawa ke Amerika Serikat, serta menjadi buron Drug Enforcement Administration (DEA).

Nama Dewi Astutik telah resmi masuk dalam daftar red notice Interpol sejak 3 Oktober 2024 dan juga merupakan buronan pemerintah Korea Selatan. Penangkapan Dewi Astutik pada 1 Desember 2025 di Kamboja merupakan hasil kolaborasi internasional antara BNN RI dengan berbagai instansi, termasuk Bais perwakilan Kamboja, Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Polri (Interpol), Bea Cukai, Kemenkeu, dan Kemlu.

Pengungkapan 2,6 Ton Sabu Cair

Prestasi gemilang lainnya di bawah kepemimpinan Suyudi Ario Seto adalah pengungkapan 2,6 ton sabu cair di perairan Karimun, Kepulauan Riau, pada Agustus 2026. Dalam operasi tersebut, 10 awak kapal yang semuanya merupakan warga negara asing asal Myanmar berhasil diamankan. Suyudi menegaskan bahwa pengungkapan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan upaya penyelamatan nyawa manusia dalam skala masif.

Saat menjabat di BNN, Suyudi juga mendorong penguatan kebijakan tata kelola peredaran rokok elektrik atau vape karena temuan zat berbahaya di dalamnya. Sepanjang tahun 2026, BNN telah menyita berbagai barang bukti, termasuk etomidate, cartridge vape, ketamin, bunga ganja, serta metamfitamina cair. Pengungkapan barang bukti ini tersebar di berbagai wilayah seperti Gresik, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Bali, Jambi, dan Maluku.

Tinggalkan komentar