Kondisi cuaca panas dan terik tengah melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Narasi yang ramai beredar di media sosial mengaitkan fenomena suhu udara yang tinggi ini dengan posisi Matahari yang berada tepat di atas Pulau Jawa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai hal ini.
Menurut laporan BMKG, fenomena yang berkaitan dengan gerak semu harian Matahari, yaitu Kulminasi Utama, memang tengah terjadi di wilayah Pulau Jawa pada pertengahan Oktober.
Fenomena Kulminasi Utama di Pulau Jawa
BMKG menjelaskan bahwa fenomena Matahari tepat berada di atas kepala dikenal sebagai Kulminasi Utama atau Hari “Tanpa Bayangan”. Fenomena ini terjadi ketika Matahari berada tepat di posisi paling tinggi di langit atau titik zenit saat tengah hari.
Penyebab utama fenomena ini adalah ketidaksejajaran antara bidang ekuator Bumi dan bidang ekliptika. Hal ini menyebabkan posisi Matahari dari Bumi terlihat terus bergeser sepanjang tahun antara 23,5° LU hingga 23,5° LS, yang dikenal sebagai gerak semu harian Matahari.
Secara nasional, periode Kulminasi Utama II terjadi bertahap mulai dari Sabang, Aceh pada 7 September hingga Baa, Nusa Tenggara Timur pada 21 Oktober. Khusus untuk wilayah Pulau Jawa, fenomena gerak semu Matahari ini melintas pada pertengahan Oktober. Beberapa kota besar di Jawa mengalami Kulminasi Utama pada tanggal berikut: Jakarta Pusat dan Serang pada 9 Oktober 2026, Bandung dan Semarang pada 11 Oktober 2026, Surabaya pada 12 Oktober 2026, serta Yogyakarta pada 13 Oktober 2026.
Selain disebabkan oleh posisi semu Matahari, kondisi terik menyengat di pertengahan Oktober ini juga berkaitan dengan dinamika musim. Wilayah Pulau Jawa saat ini secara umum masih berada dalam periode musim kemarau dengan tutupan awan yang sangat minim.
Prediksi Akhir Musim Kemarau dan Awal Musim Hujan
BMKG mencatat bahwa puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia sebenarnya telah terlewati pada Agustus lalu. Kendati demikian, minimnya tutupan awan serta durasi musim kemarau tahun ini yang diprakirakan berlangsung lebih panjang dari kondisi normalnya membuat radiasi sinar Matahari terasa sangat panas menyengat di permukaan Bumi sepanjang Oktober.
Terkait kapan musim kemarau berakhir, BMKG memprakirakan bahwa kedatangan awal musim hujan di mayoritas wilayah Indonesia akan mengalami keterlambatan atau mundur jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologisnya. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi baru akan memasuki awal musim hujan secara bertahap mulai bulan November hingga Desember mendatang.
Waktu masuknya musim hujan ini bervariasi di setiap daerah. Awal musim hujan diprediksi mulai masuk pada bulan November di sebagian kecil wilayah Jawa dan Sumatera, lalu meluas ke sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara pada bulan Desember. Kondisi ini salah satunya dipengaruhi oleh indikator iklim global di mana fenomena El Niño berada pada fase Sangat Kuat.