PALEMBANG – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti langit Palembang, Sumatera Selatan, mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II. Pada Kamis (8/10/2026) pukul 13.00 WIB, jarak pandang di bandara dilaporkan hanya mencapai 400 meter, jauh di bawah batas minimal operasional, yang berdampak pada 15 penerbangan.
General Manager Bandara SMB II Palembang, Ahmad Syaugi Sahab, menyatakan bahwa gangguan ini memengaruhi penerbangan baik keberangkatan maupun kedatangan. “Visibility below minimal 400 meter,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Kondisi jarak pandang yang buruk ini bukan kali pertama terjadi di Bandara SMB II. Sebelumnya, aktivitas penerbangan juga kerap terganggu akibat kabut asap yang menurunkan jarak pandang di bawah batas aman operasional.
Pihak bandara terus memantau perkembangan jarak pandang dan cuaca demi memastikan keselamatan operasional. Penumpang diimbau untuk terus memantau informasi penerbangan dan berkoordinasi dengan maskapai masing-masing mengenai perkembangan jadwal.
Kasus ISPA Meningkat di Palembang
Selain mengganggu sektor penerbangan, kabut asap juga memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Palembang. Sejumlah pasien bahkan terpaksa menjalani perawatan inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Palembang BARI.
Direktur RSUD Palembang BARI, dr Amalia, mengungkapkan bahwa penanganan pasien ISPA telah berlangsung sejak Juli 2026. Memasuki Oktober, terjadi peningkatan signifikan jumlah pasien yang dirawat. “Nah di Oktober ini, dari tanggal 1 sampai 7 sudah ada 36 pasien. Kalau melihat rentang waktunya, di Oktober ini malah meningkat dibandingkan September yang merupakan kasus tertinggi saat itu,” kata Amalia pada Rabu (7/10/2026).
Hingga 7 Oktober, tercatat ada delapan pasien ISPA yang masih menjalani rawat inap, mayoritas di antaranya adalah anak-anak. “Kita ada merawat pasien 8, enam pasien anak-anak dan dua pasien dewasa. yang dirawat itu biasanya ya disertai gejala sesak napas, atau juga komplikasi asmanya kambuh,” jelasnya.
Salah seorang warga Kertapati, Desti, mengaku kedua anaknya mengalami batuk-batuk setelah sering beraktivitas di luar rumah. “Anak aku dua, di rumah batuk-batuk. Anak-anak kan sering main di luar rumah, asap juga semakin hari makin tebal,” keluhnya.
Wamen LHK Minta Maaf dan Imbau Masyarakat
Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK), Diaz Faisal Malik Hendropriyono, yang melakukan kunjungan kerja ke Palembang, turut merasakan dampak asap sejak kedatangannya pada Rabu pagi. Ia menekankan pentingnya penanganan karhutla yang lebih masif di Sumatera Selatan untuk mengurangi dampak asap.
“Kita mohon maaf kepada masyarakat Palembang dan Sumsel bahwa (bencana asap akibat karhutla) ini terjadi. Terhirup sih memang (asapnya),” ujar Diaz pada Rabu (7/10/2026).
Dalam kunjungan kerjanya, Wamen LHK meninjau salah satu titik karhutla di Talang Jambe sebelum menggelar rapat koordinasi dengan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan perwakilan 43 perusahaan perkebunan di Kantor BPBD Sumsel.
Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk bekerja keras menanggulangi karhutla demi terciptanya kualitas udara yang lebih baik. “Bagaimanapun caranya, kita harus bekerja keras supaya masyarakat bisa menikmati (udara) dengan baik-baik saja. Jadi, kami akan lakukan penanganan yang lebih baik,” tuturnya.
Wamen LHK juga mengimbau masyarakat untuk melakukan antisipasi dengan menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah. “Masyarakat Palembang jangan lupa pakai masker,” tambahnya.