Anak-anak Pengemis di Glodok Resahkan Wisatawan, Minta Uang hingga Mengikuti

Sejumlah pengunjung mengeluhkan keberadaan anak-anak yang meminta uang dan menawarkan tisu kepada wisatawan di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Mereka berharap pemerintah turun tangan agar aktivitas wisata di kawasan tersebut tetap nyaman dan tertib. Keluhan ini mencuat setelah sebuah video viral di media sosial yang menunjukkan seorang turis asing diduga diikuti oleh anak kecil yang terus meminta uang di Glodok.

Salah seorang pengunjung, Cila (26), merasa terganggu dengan situasi tersebut. Ia berpendapat bahwa anak-anak yang meminta-minta atau menawarkan tisu seharusnya tidak memaksa jika pengunjung sudah menolak. “Sebenarnya cukup mengganggu kalau kita lagi jalan-jalan, lalu didatangi terus untuk dimintai uang. Dan nggak cuma di Glodok saja, hampir di tempat keramaian semua begitu,” kata Cila.

Cila menceritakan pengalamannya pernah membeli tisu seharga Rp 5 ribu karena merasa kasihan. Namun, setelah ia membeli dari satu anak, anak-anak lain justru mendatanginya dan meminta agar dirinya kembali membeli tisu. “Awalnya kasihan, ya sudah aku beli tisunya satu Rp 5 ribu. Eh, habis aku beli di anak ini, anak lainnya datangi aku minta dibeli juga. Maksa pula. Jadi ya nyebelin saja sih, kasihan jadi hilang,” ujarnya.

Meskipun merasa terganggu, Cila juga mengungkapkan keprihatinannya melihat anak-anak yang masih kecil harus meminta-minta di jalanan. Ia menilai perlu ada penelusuran lebih lanjut mengenai kondisi keluarga anak-anak tersebut, termasuk kemungkinan adanya orang dewasa yang menyuruh mereka mencari uang. “Kalau memang ada orang tua yang menyuruh anaknya meminta-minta, itu yang harus diperiksa. Jangan sampai anak dijadikan cara buat mendapatkan uang. Tapi ya harus ditelusuri dulu faktanya, jangan sampai kita langsung menuduh tanpa mengetahui kondisi sebenarnya juga,” tuturnya.

Menurut Cila, persoalan ini perlu ditangani secara menyeluruh, tidak hanya sekadar menertibkan anak-anak yang berada di jalan. Pemerintah perlu mencari tahu penyebab mereka meminta-minta agar penanganan yang dilakukan bisa tepat sasaran. “Menurutku, harus dicari tahu kenapa anak-anak itu sampai meminta-minta. Apakah karena kondisi ekonomi keluarga atau ada faktor lain. Jadi penanganannya jangan hanya di jalan, tetapi juga melihat keadaan keluarganya. Intinya pemerintah turun tangan,” ungkapnya.

Cila juga menyayangkan apabila wisatawan merasa tidak nyaman saat berkunjung ke Glodok, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu tujuan wisata sejarah dan kuliner yang menarik perhatian pengunjung lokal maupun wisatawan asing.

Pengunjung lainnya, Edi (48), turut merasakan hal serupa. Ia kerap melihat anak-anak mendatangi wisatawan untuk meminta uang atau menawarkan tisu di kawasan tersebut. “Sering, nggak cuma di Glodok saja. Di tempat yang ramai pengunjung pasti ada. Biasanya mereka mendekati orang-orang yang sedang jalan-jalan atau wisatawan yang lagi lihat-lihat, terus minta buat makan. Kasihan aslinya,” kata Edi.

Namun, Edi menilai tindakan anak-anak yang terus mendesak pengunjung meski sudah ditolak dapat mengganggu kenyamanan. Ia berpendapat bahwa wisatawan seharusnya bisa menikmati suasana Glodok tanpa merasa terpaksa memberikan uang atau membeli barang. Edi mengaku biasanya melihat anak-anak tersebut berjalan sendiri, namun ia menilai perlu ada pemeriksaan untuk mengetahui apakah mereka meminta-minta atas inisiatif sendiri atau ada orang dewasa yang mengarahkan.

“Menurut saya, perlu ada petugas yang memantau kawasan tersebut. Anak-anaknya jangan hanya ditertibkan, tetapi juga diperiksa bagaimana kondisi mereka. Kalau memang membutuhkan bantuan, harus dibantu supaya tidak terus berada di jalan,” ujarnya. Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk menangani persoalan tersebut, sehingga kawasan Glodok bisa menjadi tempat wisata yang lebih tertib dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan asing.

Sebelumnya, terlihat dari unggahan di Instagram pada Sabtu (24/10), seorang turis asing bernama Dale Philip berjalan di kawasan Glodok. Dalam video yang beredar, seorang anak kecil tampak menghampiri dan terus mengikuti langkahnya meskipun Dale beberapa kali menolak dengan mengatakan, “No, no.” Dale menduga anak tersebut diarahkan oleh ibunya untuk terus mengikutinya dan meminta uang.

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Suku Dinas Sosial (Sudinsos) Jakarta Barat, Fajar Laksono, mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan aparat kewilayahan, termasuk pengurus RT dan RW, untuk menelusuri kondisi anak beserta keluarganya. “Apabila ditemukan anak yang membutuhkan perlindungan dan pendampingan sosial, akan dilakukan asesmen terhadap kondisi sosial, ekonomi, serta lingkungan keluarga guna menentukan bentuk penanganan yang tepat, dengan mengutamakan perlindungan hak anak,” kata Fajar.

Fajar menambahkan, pihaknya juga akan memberikan edukasi dan pendampingan kepada keluarga tersebut. Hal ini dilakukan agar anak tidak dilibatkan dalam aktivitas yang berpotensi mengganggu pemenuhan hak serta keselamatannya.

Tinggalkan komentar