Wantimpres Bentuk Tiga Bidang Strategis, Bamsoet Jelaskan Pembagian Tugas

JAKARTA – Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) telah menggelar rapat pleno kedua dan menghasilkan kesepakatan mengenai pembagian tiga bidang strategis. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat efektivitas pemberian nasihat dan pertimbangan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Tiga bidang tersebut adalah Bidang Politik, Hukum dan Keamanan yang diketuai oleh Agum Gumelar, Bidang Kesejahteraan Sosial yang dipimpin oleh Pratikno, dan Bidang Ekonomi dan Keuangan yang diketuai oleh Chairul Tanjung. Diharapkan, pembagian ini akan meningkatkan koordinasi lintas sektor dan menghasilkan rekomendasi yang lebih fokus, cepat, serta tepat sasaran.

Anggota Wantimpres, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menjelaskan bahwa penyederhanaan menjadi tiga bidang ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas kerja Wantimpres. “Presiden Prabowo membutuhkan masukan yang objektif, tajam, berbasis data, dan menawarkan solusi nyata. Tantangan nasional semakin kompleks, mulai dari geopolitik, keamanan, penegakan hukum, tekanan ekonomi global, hingga kemiskinan dan pengangguran. Wantimpres harus mampu membaca persoalan lebih awal, mengidentifikasi akar masalah, serta memberikan pilihan kebijakan yang bisa segera dijalankan Presiden,” kata Bamsoet seusai Rapat Pleno Kedua Wantimpres di Kantor Sekretaris Negara Jakarta, Kamis (15/10/26).

Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan

Bamsoet sendiri tergabung dalam Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. Bidang ini diketuai oleh Agum Gumelar dan beranggotakan sembilan orang, termasuk dirinya, Budi Gunawan, Rocky Gerung, Anwar Usman, Margarito Kamis, Mohammad Hatta, Ida Bagus Purwalaksana, dan Yahya Cholil Staquf. Bidang ini bermitra dengan Kemenko Politik dan Keamanan serta Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Cakupannya meliputi Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Hukum, Kementerian HAM, serta Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, termasuk Kejaksaan Agung, TNI, dan Polri. Fokus utamanya adalah memperkuat stabilitas politik, supremasi hukum, perlindungan HAM, pertahanan negara, keamanan nasional, serta menghadapi ancaman siber dan kejahatan lintas negara.

“Stabilitas politik dan keamanan merupakan fondasi pembangunan nasional. Ancaman sekarang semakin rumit, dari konflik geopolitik, serangan siber, disinformasi, penyalahgunaan artificial intelligence, hingga kejahatan lintas negara. Wantimpres harus mampu memberikan peringatan dini dan rekomendasi strategis sebelum persoalan berkembang menjadi krisis. Penegakan hukum yang adil, kepastian hukum, profesionalisme aparat, dan kepercayaan rakyat terhadap negara harus menjadi perhatian utama,” ujar Bamsoet.

Bidang Kesejahteraan Sosial

Dipimpin oleh Pratikno, Bidang Kesejahteraan Sosial memiliki sepuluh anggota. Di antaranya adalah Dato’ Sri Tahir, Sinta Nuriyah Wahid, Muhammad Quraish Shihab, Anwar Iskandar, Salim Segaf Al-Jufri, Said Aqil Siroj, Philip Kuntjoro Wijaya, Budi Santoso Tanuwibowo, dan Jacky Manuputty. Bidang ini bermitra dengan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Kemenko Pemberdayaan Masyarakat.

Mitra bidang ini mencakup kementerian yang menangani agama dan haji, pendidikan, kebudayaan, kesehatan, perempuan dan anak, kependudukan dan keluarga, pemuda dan olahraga, sosial, pekerja migran, pembangunan desa, koperasi, UMKM, serta ekonomi kreatif. Perannya adalah mengkaji efektivitas perlindungan sosial, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengentasan kemiskinan, pemerataan pelayanan dasar, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Keberhasilan pembangunan harus diukur dari perubahan kehidupan rakyat. Apakah kemiskinan berkurang, lapangan kerja bertambah, pendidikan dan kesehatan semakin terjangkau, serta petani, nelayan, buruh, dan UMKM semakin sejahtera. Program Makan Bergizi Gratis, perlindungan sosial, koperasi, dan pemberdayaan desa harus benar-benar tepat sasaran. Jangan sampai anggaran besar sudah dikeluarkan, tetapi persoalan mendasar masyarakat belum terselesaikan. Wantimpres harus membantu Presiden menemukan hambatan pelaksanaan program sekaligus jalan keluarnya,” tegas Bamsoet.

Bidang Ekonomi dan Keuangan

Bidang Ekonomi dan Keuangan, yang diketuai oleh Chairul Tanjung, beranggotakan tujuh orang. Anggota bidang ini meliputi Muhammad Hatta Rajasa, Jusuf Hamka, Soekarwo, Muhammad Qodari, Ignasius Jonan, dan Jusuf Wanandi. Bidang ini memiliki cakupan mitra yang paling luas.

Mitra strategisnya meliputi Kemenko Perekonomian, Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kemenko Pangan, serta koordinasi bidang Hilirisasi dan Transisi Energi. Kementerian yang menjadi mitra termasuk yang menangani investasi, industri, perdagangan, ketenagakerjaan, pariwisata, energi, pekerjaan umum, perumahan, pertanahan, transmigrasi, perhubungan, pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, lingkungan hidup, serta Badan Pangan Nasional dan Badan Gizi Nasional. Selain itu, mitra lainnya adalah Kementerian Keuangan, Bappenas, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan.

Bidang ini diharapkan mampu menyelaraskan kebijakan fiskal, moneter, investasi, hilirisasi, infrastruktur, ketahanan pangan dan energi, serta penciptaan lapangan kerja. “Target pertumbuhan ekonomi 8 persen membutuhkan terobosan besar. Investasi harus menghasilkan industri produktif dan lapangan kerja berkualitas, hilirisasi harus memperbesar nilai tambah nasional, sementara ketahanan pangan dan energi harus mengurangi ketergantungan impor. Wantimpres perlu memberikan analisis mengapa investasi belum optimal, biaya logistik masih tinggi, industri menghadapi tekanan, serta bagaimana kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil dapat bergerak lebih selaras untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi,” jelas Bamsoet.

Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran ini menekankan bahwa keberhasilan pembidangan ini sangat bergantung pada kemampuan ketiga bidang untuk bekerja secara terpadu. Ia mencontohkan persoalan kelangkaan BBM yang berkaitan dengan ketahanan energi, distribusi, harga pangan, inflasi, hingga stabilitas sosial. Demikian pula pengangguran yang terkait dengan investasi, pendidikan, industri, dan kualitas tenaga kerja.

Oleh karena itu, Wantimpres perlu memperkuat koordinasi antar kementerian, memanfaatkan data BPS dan Bappenas, serta menyusun rekomendasi lintas sektor yang terukur. “Wantimpres harus berani menyampaikan pandangan yang objektif kepada presiden, termasuk ketika suatu kebijakan perlu diperbaiki. Rekomendasi harus menjelaskan akar persoalan, dampaknya, langkah penyelesaian, serta kementerian atau lembaga yang bertanggung jawab. Dengan tiga bidang yang bekerja secara sinergis, Wantimpres dapat semakin mampu membantu Presiden Prabowo mengambil keputusan yang cepat, tepat, dan berpihak pada kepentingan nasional serta kesejahteraan rakyat,” pungkas Bamsoet.

Tinggalkan komentar