Jakarta – Wakil Menteri Sosial (Wamensos) RI, Agus Jabo Priyono, menekankan bahwa Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung memiliki peran krusial sebagai ‘soko guru’ atau pilar utama dalam memperkuat pendidikan karakter dan pengasuhan bagi siswa Sekolah Rakyat.
Penegasan ini disampaikan Agus saat menerima audiensi dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Poltekesos Bandung di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, pada Senin (12/10/2026). Ia menilai bekal keilmuan pekerjaan sosial yang dimiliki mahasiswa dan alumni Poltekesos sangat dibutuhkan untuk mendukung berbagai program Kementerian Sosial, termasuk dalam hal pendampingan siswa Sekolah Rakyat.
“Poltekesos harus menjadi soko guru utama untuk mendukung program-program Kemensos,” ujar Agus dalam keterangan tertulisnya.
Agus mengapresiasi masukan yang diberikan oleh mahasiswa Poltekesos. Menurutnya, Sekolah Rakyat merupakan salah satu jalan penting dalam pengentasan kemiskinan melalui pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan formal dan pendidikan karakter harus berjalan beriringan sebagai satu kesatuan.
“Pendidikan formal ya, pendidikan karakter juga ya,” tegas Agus.
Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa konsep sekolah berasrama memungkinkan proses pendidikan berlangsung secara berkesinambungan. Ia menekankan pentingnya pengasuhan yang memperhatikan pengalaman dan persoalan sosial yang dihadapi oleh setiap siswa. Pendampingan, menurutnya, tidak cukup dilakukan secara kolektif, melainkan harus juga memahami kebutuhan anak secara personal.
Agus memandang lingkungan pengasuhan di Sekolah Rakyat sebagai miniatur keluarga yang sangat berperan dalam pembentukan karakter anak. Oleh sebab itu, wali asuh perlu memiliki kemampuan mendidik sekaligus pemahaman mendalam tentang pekerjaan sosial untuk membantu anak membangun kebiasaan yang baik.
“Bagi saya yang namanya wali asuh itu menjadi sangat penting karena memang dasar pembangunan pendidikan baik itu dimulai dari karakter,” kata Agus.
Untuk itu, Agus mendorong mahasiswa tingkat akhir Poltekesos untuk terlibat langsung dalam kegiatan praktikum atau bahkan tinggal bersama di Sekolah Rakyat. Keterlibatan ini dianggap penting agar mahasiswa dapat memahami kondisi lapangan, proses pelaksanaan program, serta menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi.
Wamensos juga membuka peluang untuk mengajak mahasiswa dalam kunjungan langsung ke Sekolah Rakyat. Pengalaman nyata ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman dan penghayatan mahasiswa terhadap esensi pekerjaan sosial.
Agus berharap komunikasi dengan mahasiswa Poltekesos dapat terus terjalin sebagai ruang untuk bertukar gagasan dan memperkuat pelaksanaan program-program sosial yang ada. “Ini baru awalan, kita akan terus berinteraksi nanti,” ucapnya.
Dalam audiensi tersebut, delegasi BEM Poltekesos Bandung yang dipimpin oleh Presiden Mahasiswa Fahrezi Luthfie bersama Wakil Presiden Mahasiswa Reinhard Matthew Jona Lumban Gaol, menyampaikan temuan dari kegiatan praktikum mahasiswa di Sekolah Rakyat. Temuan ini berfokus pada upaya penguatan tata kelola wali asuh dan wali asrama melalui pendekatan pekerjaan sosial dan rehabilitasi anak.
Fahrezi Luthfie memaparkan temuan mahasiswa terkait pelaksanaan tugas wali asuh dan wali asrama. Ia menyoroti perlunya penguatan pengasuhan yang berbasis pada pekerjaan sosial dan rehabilitasi anak, agar tidak hanya sebatas pengawasan kegiatan sehari-hari.
Terdapat tiga rekomendasi utama yang disampaikan, yaitu penyusunan regulasi khusus atau petunjuk teknis bagi wali asuh dan wali asrama, penetapan standar kompetensi dengan sertifikasi pekerja sosial profesional, serta pembentukan unit pekerja sosial dan rehabilitasi anak.