Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Gajah Mada (UGM) memberikan pendampingan kepada warga Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, Papua Selatan, untuk meningkatkan kualitas produk pangan siap saji. Produk seperti kue kering, keripik singkong, dan keripik rambak yang telah lama diproduksi warga, kini didorong untuk naik kelas melalui pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam promosi dan pemasarannya.
Inovasi pendampingan ini disambut baik oleh masyarakat. Salah satu penerima manfaat, Dewi, mengungkapkan bahwa workshop tersebut memberinya wawasan baru dalam mengelola usaha. “Selama ini kami lebih banyak berfokus pada membuat produknya. Dari workshop ini kami mendapatkan pemahaman bahwa kemasan dan cara memperkenalkan produk juga sangat penting,” ujar Dewi, Jumat (9/10/2026). Ia juga menambahkan, “Kami juga jadi tahu bahwa AI bisa dimanfaatkan untuk membantu membuat promosi.”
Ketua TEP UGM bidang Digitalisasi, Dr. Faiz Zamzami, menjelaskan bahwa produk masyarakat Muting memiliki potensi besar namun terkendala dalam pengembangan dan pengemasan agar memiliki daya saing. “Oleh karena itu, pengemasan, branding, dan pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian penting yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat,” katanya.
Pelatihan yang dirancang TEP UGM mencakup tiga materi utama. Sesi pertama fokus pada pembangunan identitas produk melalui kemasan yang menarik. Sesi kedua membekali warga dengan standar teknis pengemasan, termasuk aspek keamanan dan penyimpanan. Sesi terakhir mengajak warga praktik langsung menggunakan AI untuk mencari ide promosi dan membuat materi visual pemasaran.
TEP UGM juga memfasilitasi produk masyarakat untuk masuk ke ekosistem digital melalui platform Digipangan.id, yang bertujuan memudahkan calon konsumen menemukan produk olahan dari Muting dan membuka peluang pemasaran lebih luas.
Langkah pemberdayaan dan digitalisasi ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan ekonomi digital menyentuh seluruh pelosok negeri. “Digitalisasi bukan lagi sekadar tren, melainkan sebuah keharusan bagi UMKM dan ekonomi desa kita untuk naik kelas serta mandiri di tengah persaingan global,” tegas Presiden RI Prabowo Subianto.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI (Menko Infra), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan pentingnya pengembangan ekosistem usaha bersamaan dengan pembangunan wilayah. “Pembangunan kewilayahan yang kita lakukan tidak hanya sebatas infrastruktur fisik, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi masyarakatnya melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi yang tepat guna,” ujar AHY.
Visi ini juga menjadi pilar dalam transformasi kawasan transmigrasi yang digagas oleh Menteri Transmigrasi RI (Mentrans), M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. “Kawasan transmigrasi harus bertransformasi menjadi lumbung ekonomi baru. Produk-produk lokal dari para transmigran harus bisa menembus pasar nasional dengan sentuhan kreativitas dan digitalisasi,” pungkasnya.