Tiga Inovator Teknologi Kesehatan Raih Pengakuan DPD RI Awards 2026

Dewan Pakar DPD RI Awards 2026 telah mengumumkan tiga besar finalis untuk kategori Inovator Teknologi Kesehatan. Ketiga individu ini dinilai karena kontribusi terobosan mereka yang memberikan dampak positif signifikan bagi dunia kesehatan di Indonesia.

Pengumuman ini merupakan hasil dari rapat perdana Dewan Pakar yang diselenggarakan di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Senin, 5 Oktober 2026. DPD RI Awards 2026 sendiri memiliki empat kategori utama, yaitu Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan, dan Pelestari Budaya Daerah.

Dewan Pakar yang bertugas dalam pemilihan ini terdiri dari tokoh-tokoh terkemuka, termasuk Menteri Kebudayaan RI Prof. (Hon) Dr. H. Fadli Zon, SS, M.Sc; Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si; Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol; Anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H; serta Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc.

Profil Tiga Besar Inovator Teknologi Kesehatan

Berikut adalah profil singkat dari tiga sosok yang berhasil masuk dalam daftar finalis DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Teknologi Kesehatan:

1. Nur Arning Tengara Kasih (DKI Jakarta)

Nur Arning Tengara Kasih mengembangkan SOBIKU Indonesia atau Sobat Peduli Kanker Anak untuk Indonesia. Platform digital ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem deteksi dini kanker anak di tingkat masyarakat.

Aplikasi SOBIKU Indonesia dilengkapi dengan berbagai fitur, termasuk skrining gejala kanker anak, penyediaan informasi rumah singgah, artikel edukasi, wadah komunitas, opsi donasi, serta Sobiku Store. Program utama SOBIKU Indonesia meliputi edukasi kanker anak bekerja sama dengan tenaga medis, pelatihan bagi kader Posyandu, skrining gejala kanker anak di Posyandu menggunakan aplikasi, dan dukungan psikososial bagi anak serta orang tua pejuang kanker. Acuan skrining yang digunakan dikembangkan berdasarkan masukan dari dokter subspesialis hemato-onkologi anak dan panduan dari Kementerian Kesehatan RI.

2. Megi Riomandala (Bengkulu)

Megi Riomandala adalah penggagas inovasi Sikeling Pusako atau Sistem Informasi Kesehatan Lingkungan Puskesmas Semelako. Inisiatif ini merupakan upaya digitalisasi pelayanan kesehatan lingkungan di Puskesmas Semelako, Kabupaten Lebong, Bengkulu.

Sikeling Pusako lahir pada tahun 2019 dari kepedulian Megi terhadap masalah kesehatan lingkungan masyarakat. Awalnya, ia mengembangkan PETISI (Pemetaan Sanitasi) untuk mengatasi permasalahan pembuangan air besar di sungai oleh masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai. Inisiatif ini kemudian berkembang menjadi Sikeling Pusako pada tahun 2022, sebuah sistem digital untuk pendataan, pemetaan, pemantauan, dan pelayanan kesehatan lingkungan yang terus dikembangkan hingga kini. Dampak nyata dari inovasi ini terlihat dari peningkatan desa Open Defecation Free (ODF) atau desa stop buang air besar sembarangan, yang meningkat dari 0 desa pada tahun 2019 menjadi 100% pada tahun 2024.

3. Siti Nurmaini (Sumatera Selatan)

Siti Nurmaini mengembangkan aplikasi TeleOTIVA, sebuah inovasi kesehatan digital yang mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI), computer vision, dan telemedicine. Tujuannya adalah untuk mendukung skrining dan deteksi dini kanker serviks.

Aplikasi ini dirancang untuk membantu tenaga kesehatan dalam mendokumentasikan citra serviks, mengidentifikasi area dan lesi yang dicurigai, serta menyediakan informasi pendukung untuk evaluasi dan pengambilan keputusan klinis. Melalui fitur telemedicine, hasil pemeriksaan dapat dikonsultasikan dengan tenaga medis atau dokter spesialis tanpa terhalang jarak, sehingga berpotensi memperluas akses layanan skrining di puskesmas dan wilayah yang kekurangan tenaga spesialis. TeleOTIVA juga menyediakan dokumentasi pemeriksaan dan pemantauan tindak lanjut pasien secara digital. Inovasi ini dikembangkan sebagai sistem pendukung keputusan klinis, bukan sebagai pengganti tenaga medis, dan dapat diakses melalui platform aplikasi digital.

Tinggalkan komentar