Pembangunan hunian tetap (huntap) untuk masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, kini memasuki tahap baru. Sebanyak 178 unit huntap relokasi terpusat dibangun di Gampong Alur Jambu, Kecamatan Bandar Pusaka, di atas lahan seluas sekitar 10 hektare. Proyek ini mengadopsi teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) yang dirancang tahan gempa dan mampu mempercepat proses konstruksi.
Proses pembangunan secara simbolis dimulai dengan peletakan batu pertama pada Kamis (8/10). Deputi Bidang Koordinasi Pembangunan Perumahan dan Sarana Prasarana Permukiman Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Ronny Hutahayan, menyatakan bahwa percepatan pembangunan ini bertujuan agar masyarakat tidak perlu berlama-lama tinggal di hunian sementara.
“Harapan kita sederhana bahwa rumah-rumah ini bisa selesai dengan baik, aman untuk ditempati, dan masyarakat tidak perlu lagi berlama-lama tinggal dalam hunian sementara,” ujar Ronny dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10/2026).
Pembangunan huntap ini tidak hanya mencakup unit rumah, tetapi juga prasarana, sarana, dan utilitas umum (PSU). Fasilitas seperti jalan lingkungan, pasokan listrik, air bersih, dan sarana pendukung lainnya disiapkan agar kawasan tersebut dapat langsung berfungsi optimal saat dihuni.
Pemilihan teknologi RISHA didasari oleh sistem komponen pracetak yang dimilikinya. Hal ini memungkinkan pembangunan berlangsung lebih cepat dan efisien karena tidak memerlukan waktu pengerasan struktur beton konvensional, sembari tetap menjaga standar mutu, keamanan, dan kenyamanan bangunan.
Secara keseluruhan, target pembangunan huntap di Aceh Tamiang pada tahun 2026 adalah 2.399 unit, dan seluruhnya telah terikat dalam kontrak. Proyek-proyek ini memiliki waktu pelaksanaan sekitar 90 hari dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026.
Selain di Gampong Alur Jambu, pembangunan huntap relokasi terpusat di Kecamatan Bandar Pusaka juga mencakup 246 unit di Gampong Babo yang berlokasi di lahan seluas 13 hektare. Di Lubuk Sidup, sebanyak 169 unit huntap akan dibangun di lahan seluas 4,23 hektare, dengan target penyelesaian dan penyerahan paling lambat pada 31 Desember 2026, setelah masa pelaksanaan sekitar 99 hari.
Persiapan lokasi huntap lainnya terus ditingkatkan. Gampong Pantai Tinjau telah menyiapkan lahan seluas 8,7 hektare yang didukung sertifikat elektronik untuk rencana pembangunan 160 unit huntap.
Sementara itu, pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Karang Baru telah mencapai 80 persen progresnya. Untuk akses pendukung kawasan Lubuk Sidup, Jembatan Aras Sembilan sedang dalam proses tender.
Kepala Pos Komando Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Provinsi Aceh, Safrizal Z.A., menekankan bahwa kegiatan groundbreaking ini lebih dari sekadar seremoni. Ia melihatnya sebagai tonggak dimulainya pembangunan kehidupan yang lebih permanen bagi masyarakat terdampak bencana.
“Groundbreaking hari ini bukan hanya peletakan batu pertama. Kita sedang menandai peralihan dari penanganan kedaruratan menuju rekonstruksi kehidupan yang lebih permanen,” ujar Safrizal.
Safrizal menegaskan pentingnya percepatan pembangunan tanpa mengorbankan kepastian lahan, kualitas bangunan, kesiapan PSU, serta akuntabilitas pelaksanaan. Ia menekankan prinsip “cepat dan pasti” dalam setiap aspek proyek.
“Saya ingin menekankan dua kata: cepat dan pasti. Cepat dalam pembangunan. Pasti dalam lahan. Pasti dalam kualitas. Pasti dalam PSU, dan pasti dalam manfaat yang diterima masyarakat. Prinsipnya No Fraud and No Corruption,” tegas Safrizal.