Jakarta – Kementerian Transmigrasi bekerja sama dengan Universitas Diponegoro (Undip) dan Technical University of Munich (TUM), Jerman, melanjutkan penyelenggaraan Summer Course 2026. Program ini berfokus pada inovasi kawasan transmigrasi berbasis pertumbuhan hijau (green growth) dan dilanjutkan dengan agenda aksi lingkungan serta pemberdayaan masyarakat di Tanjung Banon, Kecamatan Galang, Batam.
Sebanyak 20 akademisi dari TUM Jerman berpartisipasi dalam program sepuluh hari ini. Kehadiran mereka membawa perspektif global untuk mengamati dinamika sosial dan ekologis kawasan transmigrasi Rempang Eco City. Temuan dari para akademisi TUM Jerman ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi kebijakan strategis bagi pengembangan kawasan tersebut.
Melalui pendekatan terjun langsung dan pembelajaran berbasis pengalaman, para delegasi diajak untuk memahami pentingnya penyesuaian teori perencanaan tata ruang global dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Hal ini menekankan bahwa solusi yang berkelanjutan harus berakar pada pemahaman mendalam mengenai konteks lokal.
“Melalui kolaborasi ini, kita membawa global perspective ke kawasan transmigrasi untuk memahami pandangan dunia terhadap potensi wilayah ini. Kombinasi antara kearifan masyarakat lokal, akademisi nasional, serta jaringan penelitian internasional diharapkan melahirkan solusi yang lebih inovatif, adil, serta meningkatkan kepercayaan diri dalam memajukan kawasan transmigrasi,” ujar Penanggung Jawab UNDIP Summer Course 2026, Prof. Dr.-Ing. Wiwandari Handayani, dalam keterangan tertulis, Kamis (7/10/2026).
Pada hari kelima pelaksanaan program, para delegasi mengikuti agenda aksi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di Tanjung Banon, Kecamatan Galang, Batam. Mereka secara langsung mengunjungi dan mempraktikkan pembuatan batik ecoprint bersama warga lokal, menunjukkan antusiasme dalam menyerap pengetahuan tentang teknik pewarnaan alami yang ramah lingkungan.
Selain itu, para delegasi juga mengunjungi SMA Negeri 30 Batam di kawasan Rempang Eco City. Kunjungan ini menjadi ajang interaksi budaya, di mana mereka memperkenalkan budaya Jerman, bermain bersama, serta memberikan motivasi kepada para siswa transmigran.
Kunjungan lapangan ini meninggalkan kesan mendalam bagi peserta internasional. Salah satu delegasi asal TUM Jerman, Kim Lara, berbagi pengalamannya berinteraksi langsung dengan warga dan siswa. “Kami pergi ke toko batik dan belajar tentang budayanya, bagaimana mereka melukis segalanya, dan kami belajar tentang di mana mereka menjualnya dan apa yang ingin mereka lakukan dengannya. Dan kemudian kami pergi ke sekolah untuk belajar tentang anak-anak dan budayanya dan apa yang mungkin ingin mereka lakukan nanti dalam hidup,” ungkap Kim Lara.
Para siswa lokal, seperti Jenifer dari SMAN 30 Batam, menyambut baik kunjungan tersebut. “Seneng, mereka ramah terus baik, terus mereka sangat menarik. Membuat kesan ke aku mereka ramah-ramah ya terus super-super baik. Mereka bilang mau difasilitasi apa dan memberikan informasi tentang kuliah di Jerman,” tutur Jenifer.
Delegasi Summer Course 2026 dibagi ke dalam empat fokus utama: strategi pengembangan ekonomi, pengelolaan pertanahan dan lanskap, pengelolaan lingkungan dan ekologi, serta strategi pengembangan masyarakat dan sosial. Pembagian ini memastikan setiap aspek pembangunan kawasan transmigrasi dikaji secara mendalam.
Pengembangan kawasan transmigrasi yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Beliau menekankan bahwa pembangunan nasional tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memastikan manfaat pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Pandangan ini juga diperkuat oleh Menko IPK Agus Harimurti Yudhoyono, yang melihat adanya pergeseran paradigma baru dalam konsep transmigrasi. Fokusnya kini bergeser dari sekadar pemindahan penduduk, menjadi pengembangan kawasan agar mampu menarik investasi dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman menambahkan bahwa setiap kawasan transmigrasi perlu dikembangkan sesuai dengan keunggulan sektor masing-masing. “Setiap kawasan transmigrasi memiliki keunggulan yang berbeda. Ada yang kuat di sektor digital, ada yang potensial untuk industri maritim, energi, pertanian, maupun sektor lainnya. Pengembangannya harus mengikuti keunggulan masing-masing kawasan,” tutup Iftitah Sulaiman.