JAKARTA – Polisi telah menetapkan sopir mobil listrik BYD berinisial S (46) sebagai tersangka dalam kasus kecelakaan beruntun yang terjadi di Jalan Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Insiden tersebut mengakibatkan empat mobil rusak dan seorang pengemudi ojek online (ojol), Hasan Syukur (56), terlindas.
Menurut keterangan yang disampaikan kepada polisi, tersangka S mengaku melamun dan mengantuk saat mengemudikan kendaraannya. “Jadi hasil pemeriksaan sementara, yang bersangkutan melamun, ngantuk,” ujar Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Muhammad Adiel Aristo.
Tersangka S dilaporkan menginjak pedal gas hingga kendaraannya hilang kendali. Panik akibat kejadian tersebut, ia justru semakin menginjak gas, yang berujung pada tabrakan dan melindas korban. “Terinjak gas, kemudian panik kaget, hilang kontrol, gasnya semakin terinjak. Kita juga masih mau mendalami terkait dengan fungsi gas dan rem dari kendaraan. Apakah ada permasalahan pada kendaraan tersebut,” tambah Adiel.
Hasil tes urine terhadap tersangka menunjukkan negatif dari konsumsi alkohol dan narkotika. Ia kini telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.
Kondisi Sopir Ojol Pasca-Kecelakaan
Hasan Syukur, pengemudi ojol yang menjadi korban, telah menjalani operasi pada Sabtu (24/10). Saat ini, korban masih dalam pemantauan intensif oleh pihak Rumah Sakit Fatmawati. “Korban baru selesai pengambilan tindakan operasi, masih dalam observasi di Rumah Sakit Fatmawati,” jelas AKBP Muhammad Adiel Aristo.
Cedera Serius, Termasuk Patah Kaki dan Paru-paru Bocor
Menantu korban, Eko Priyono (34), mengungkapkan detail cedera yang dialami ayah mertuanya. Hasan Syukur mengalami patah tulang pada bagian kaki. Selain itu, terdapat keretakan pada bagian badan dan sedikit kebocoran pada paru-paru. “Patah yang kaki. Kalau yang bagian badan pada retak sama itu, paru-parunya ada yang kena bocor lah sedikit gitu,” kata Eko.
Operasi penanganan cedera tersebut telah dilaksanakan pada Sabtu sore, meliputi area pundak hingga pinggang, serta kaki korban. “Kalau operasi hari Sabtu pukul 15.00-lah, 3 sore. Dioperasinya bagian dari pundak sampai pinggang sama kaki,” ungkap Eko.
Perawatan Intensif dan Bantuan Pernapasan
Meskipun kondisi Hasan Syukur dilaporkan stabil, ia belum dapat berkomunikasi karena masih dalam pengaruh obat penenang pasca-operasi. Ia juga mengalami demam dan memerlukan dosis antibiotik yang lebih tinggi. “Kalau keadaan sih stabil, cuman Bapak sekarang belum bisa bicara. Dikarenakan masih dalam obat penenang, soalnya habis dioperasi. Dan sekarang saat ini juga Bapak lagi demam. Harus apa, obat antibiotiknya harus dikasih lebih tinggi lagi. Jadinya Bapak belum bisa bicara sama sekali. Kalau keadaan mah stabil katanya,” ujar Eko.
Selain itu, Hasan Syukur masih membutuhkan bantuan selang untuk bernapas karena belum bisa melakukannya secara mandiri. “Sekarang napasnya masih dibantu pakai selang. Belum bisa napas sendiri,” tuturnya.
Sosok Hasan Syukur: Pekerja Keras Demi Keluarga
Keluarga menggambarkan Hasan Syukur sebagai sosok pekerja keras. Meskipun usianya sudah lanjut, ia tetap bersemangat mencari nafkah. “Bapak sih pekerja keras ya. Ya tiap hari kerja, udah tua juga disuruh di rumah aja nggak mau,” kata Eko.
Bahkan, Hasan menolak permintaan keluarga untuk tinggal menetap di Serang, Banten, dan memilih untuk tetap merantau ke Jakarta demi bekerja. “Kalau disuruh di rumah sama, sama istri aja nggak mau. Penginnya masih merantau aja,” ungkapnya.
Penghasilan yang diperoleh Hasan sebagai sopir ojol sebagian besar diserahkan kepada istrinya. Ia juga kerap menggunakan sebagian rezekinya untuk mengajak cucu-cucunya berlibur. Hasan meninggalkan istri, anak, dan dua cucunya di Serang, sementara ia tinggal di Cengkareng, Jakarta Barat, selama bekerja di ibu kota.