Solusi Berbasis Alam di Timbulsloko: Harapan Baru Lawan Abrasi Pantura Jawa

Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) meluncurkan program Nature-Based Solution (NbS) di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Inisiatif ini menggabungkan upaya pemulihan ekosistem mangrove dengan pemasangan alat pemecah ombak (APO) HexBRIck. Program ini diharapkan membawa perubahan positif dan harapan baru bagi masyarakat yang telah lama berjuang menghadapi abrasi ekstrem.

Kawasan Pantai Utara Jawa, termasuk Timbulsloko, telah bertahun-tahun menghadapi ancaman serius akibat penurunan muka tanah (land subsidence), tekanan pembangunan, dan dampak perubahan iklim. Fenomena ini memicu abrasi parah dan banjir rob yang mengikis garis pantai secara signifikan. Desa Timbulsloko mencatat laju abrasi rata-rata 279 meter per tahun, menjadikannya yang tertinggi di seluruh Pantura Jawa. Akibatnya, ribuan hektare lahan tambak, permukiman, dan hutan mangrove terancam tenggelam.

Mat Sairi (53), seorang warga Dusun Wonorejo, Timbulsloko, menceritakan bagaimana abrasi telah mengubah desanya. “Desa ini dulunya itu pesawahan semua, kanan kiri itu sawah semua, sepanjang mulai dari Jalan Raya Onggorawe sampai ke sini semua sawah. Depan rumah itu ya ada tanaman pohon pisang, ada kelapa banyak sekali,” ujarnya mengenang masa lalu. Sejak tahun 1992, air asin mulai merambah wilayah permukiman, memaksa sawah-sawah yang menjadi sumber mata pencaharian beralih fungsi menjadi tambak.

Meskipun sempat memberikan kesejahteraan hingga tahun 2010, tambak-tambak tersebut akhirnya takluk oleh abrasi yang semakin menggerus permukiman. “Tambak itu sampai tahun 2010 masih lumayan, masih bisa untuk produksi bandeng, ikan terus, sampai makin sejahtera walaupun itu berubah jadi tambak,” tutur Sairi. Namun, abrasi terus merangsek hingga ke belakang rumah warga, memaksa banyak penduduk mempertimbangkan untuk pindah.

Kehancuran tambak akibat abrasi juga merenggut mata pencaharian warga. Sebagai bentuk adaptasi, banyak warga yang beralih profesi, termasuk menjadi pekerja pembuatan Alat Pemecah Ombak (APO) HexBRIck. Inovasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini berbentuk struktur heksagonal yang dirancang untuk meredam energi gelombang, memerangkap sedimen, serta mendukung pertumbuhan mangrove.

Implementasi program NbS ini melibatkan masyarakat Desa Timbulsloko secara langsung dalam proses pencetakan dan pemasangan HexBRIck. Keterlibatan ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi tetapi juga membekali warga dengan keterampilan teknis dan menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap upaya perlindungan pesisir.

Desa Timbulsloko dipilih sebagai lokasi percontohan (demonstration plot) program ini. Keberhasilan implementasi di Timbulsloko akan menjadi dasar untuk perluasan program hybrid NbS ke seluruh pesisir Pantai Utara Jawa, dengan menyesuaikan kebutuhan kondisi lingkungan di setiap lokasi dan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama.

Sairi mengungkapkan bahwa sekitar 30 warga Desa Timbulsloko, kebanyakan nelayan dengan penghasilan tidak tetap, terlibat dalam pembuatan HexBRIck. “Rata-rata itu orang nelayan, karena nelayan itu kan dia kan penghasilan tidak tetap, jadi kalau ikut kerja ini kan bisa tetap gitu (penghasilannya),” jelasnya. Pekerjaan ini memberikan penghasilan yang lebih stabil, berkisar antara Rp 120.000 hingga Rp 150.000 per hari.

Menurut Sairi, program NbS ini adalah harapan yang telah lama dinantikan masyarakat Timbulsloko. “Karena masyarakat itu memang mengharapkan itu dari dulu, kapan ini bisa dicegah, masa laut semakin mendekat, mendekat, satu tahun saja mendekat. Itu masyarakat sangat 100 persen lebih setuju,” katanya. Ia menambahkan, “kita sangat senang sekali karena kita dibantu setelah mengharapkan bertahun-tahun, siapa yang menangani kok laut lebih cepat musibahnya daripada daratannya.”

Setelah melalui berbagai sosialisasi, masyarakat akhirnya dapat bernapas lega karena program ini akan segera terlaksana. “Inilah yang sungguh-sungguh yang kita nanti. Jadi masyarakat sangat senang sekali,” ungkap Sairi.

Sunarti (53), warga lainnya, juga merasakan dampak positif proyek ini. Warungnya yang berlokasi dekat dengan lokasi demonstration plot kini mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan. “Biasanya dapat Rp 20 ribu aja susah, ini sehari bisa dapat Rp 50 ribu lebih,” ujarnya. Suaminya, Suwardi, yang sebelumnya bekerja sebagai kuli bangunan di Semarang, kini turut terlibat dalam pembuatan HexBRIck, mengurangi beban perjalanan mencari nafkah.

Sunarti bersyukur karena lapak jualan dan rumahnya kini tidak lagi diterpa ombak. Ia berharap perbaikan infrastruktur lain dapat menyusul. “Sekarang udah alhamdulillah ada pemecah ombak, ada yang bantu. Saya orang kecil, saya jualan udah enggak kena ombak lagi. Terima kasih dapat bantuan pemecah ombak dari BOPPJ. Kalau bisa ditambah lagi biar kampungnya semakin aman, dapat bantuan lagi pemecah ombak lautnya, ini jalan-jalannya juga semoga bisa ikut diperbaiki,” harapnya.

Tinggalkan komentar