Siswa Prafi Dibekali Keterampilan Konselor Sebaya untuk Dukung Kesehatan Mental Remaja

MANOKWARI – Siswa di kawasan transmigrasi Prafi, Manokwari, Papua Barat, kini memiliki dukungan sebaya dalam menghadapi permasalahan. Tim 4 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (UNAIR) telah menyelenggarakan pelatihan bagi siswa di tiga sekolah di Distrik Prafi untuk menjadi konselor sebaya.

Program ini bertujuan membekali para siswa dengan kemampuan mengenali masalah yang dihadapi teman sebaya, serta berfungsi sebagai jembatan untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut dari guru atau puskesmas sebelum masalah tersebut membesar. Pemilihan remaja sebagai sasaran pelatihan didasari pada lingkungan transmigrasi yang kerap kali membuat mereka rentan mengalami penurunan rasa percaya diri, padahal mereka diharapkan menjadi penggerak masa depan daerah.

Manfaat pelatihan ini dirasakan langsung oleh Sadiqah Adzana Islami, siswa kelas 9C SMP Negeri 8 Prafi yang kini menjadi kader konselor sebaya. “Saya mendapatkan banyak materi dari kakak-kakaknya, tentang mengenali emosi, terus berpikir sebelum bertindak,” ujar Sadiqah, dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (11/10/2026). Ia mengaku siap menjalankan perannya dan berharap remaja di Prafi dapat mengendalikan emosi serta berpikir sebelum bertindak. Sadiqah berencana menyusun program konseling bersama teman-temannya.

Riyanto, guru SMP Negeri 8 Prafi, menyambut baik pelatihan ini sebagai jawaban atas tantangan pergaulan remaja yang dinilainya sudah melewati batas kewajaran. “Kami bersyukur teman-teman dari Tim Patriot boleh berkunjung ke sekolah kami untuk lebih memfasilitasi, bagaimana proses selanjutnya terkait pergaulan yang dihadapi oleh remaja sekarang,” kata Riyanto. Ia menambahkan, “Program ini sangat bermanfaat untuk sekolah kami, khususnya bagi siswa-siswa kami, karena sangat membantu untuk hal-hal yang positif, bagaimana kita membina anak-anak ke depan.”

Prof Endang Retno Surjaningrum PhD, Psikolog, selaku Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot UNAIR, menjelaskan bahwa pelatihan ini berangkat dari temuan di lapangan mengenai rendahnya rasa percaya diri pada remaja di kawasan transmigrasi. Siswa diajarkan cara mengenali tanda-tanda teman yang membutuhkan bantuan, cara mendekati mereka, serta keterampilan membangun rasa percaya diri dan berpikir kritis. “Kami harapkan generasi muda ini nanti yang akan mempunyai daya kreatif untuk membangun wilayahnya,” ujar Prof Endang.

Kegiatan pelatihan dirancang menggunakan bahasa yang positif dan tidak bersifat larangan, dengan harapan siswa berubah atas kesadaran diri, bukan karena takut dimarahi. Pasca-pelatihan, ketiga sekolah kini telah membentuk organisasi konselor sebaya yang didukung oleh guru pendamping. Mereka juga mulai melatih siswa lain yang belum sempat mengikuti sesi pelatihan.

Selanjutnya, program akan berlanjut dengan sosialisasi kepada orang tua pada pekan depan. Tujuannya adalah untuk memastikan dukungan dari rumah dan sekolah berjalan selaras. Langkah ini sejalan dengan perhatian Presiden RI Prabowo Subianto terhadap penguatan karakter dan mental anak Indonesia. “Yang penting hatimu teguh, hati kita baik. Kalau kita diejek, kita balas dengan sopan santun, semakin dihina, semakin kau teguh, semakin berani, semakin sopan,” kata Prabowo.

Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan peran krusial generasi muda dalam pembangunan. “Generasi muda terutama, yang diharapkan berada di depan karena Indonesia membutuhkan tenaga dan pemikiran terbaik kita,” ujar AHY.

Sementara itu, Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara berpesan agar latar belakang tidak menghalangi anak muda untuk percaya diri. “Jangan pernah merasa minder karena berasal dari keluarga sederhana. Yang menentukan adalah kerja keras, karakter, dan kemauan untuk terus belajar,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar