FUKUOKA – Seniman Environmental Art, Temanku Lima Benua, diundang ke Jepang untuk mengikuti acara Exhibition and Live Drawing bertajuk “Capturing From Indonesian Soul” di Fukuoka. Acara yang berlangsung dari 1 hingga 5 Oktober 2026 ini menjadi ajang bagi Temanku Lima Benua untuk menyampaikan pesan mengenai diplomasi budaya generasi Z (Gen Z).
Kegiatan ini difasilitasi oleh Bidang Kebudayaan, Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerjasama, Kementerian Kebudayaan RI. Pada sesi Diplomatic Reception yang digelar 1 Oktober 2026, Temanku Lima Benua menyampaikan pidato yang menekankan pentingnya diplomasi kebudayaan. Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Duta Besar Jepang, Maria Renata Hutagalung, para diplomat Jepang, Perhimpunan Pelajar Indonesia Fukuoka, dan KBRI Tokyo.
Dalam pidatonya, Temanku Lima Benua menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada Gen Z untuk berbagi cerita, karya, dan budaya. Ia juga mengapresiasi hubungan persahabatan yang terjalin erat antara Indonesia dan Jepang. Mengenalkan diri, ia menjelaskan makna namanya yang memiliki doa untuk memiliki teman di lima benua, termasuk di Jepang.
“Nama saya Temanku Lima Benua, dalam Bahasa Inggris di terjemahkan ‘The Five Continents Friendship’, terlahir dengan nama itu, dan doa semoga punya teman di Lima Benua, salah satunya di Jepang,” ujar Temanku Lima Benua.
Temanku Lima Benua yang kini bekerja di Kementerian Kebudayaan RI, menjelaskan bahwa kementerian ini didirikan terpisah dari kementerian sebelumnya pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia memaparkan empat narasi strategis Kementerian Kebudayaan: peran kebudayaan sebagai pemersatu, kekuatan ekonomi, kekuatan diplomasi, dan pembentuk jati diri bangsa. Sebagai Culture Ambassador Gen Z, tujuannya adalah menjadi agen diplomasi yang mampu mendobrak batasan dan menjadikan diplomasi lebih inklusif.
Ia juga menyampaikan pesan penting dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengenai kebudayaan sebagai kekuatan Indonesia. Dengan kekayaan biodiversitas budaya yang dimiliki, Indonesia terus berupaya memajukan kebudayaan nasionalnya. “Indonesia tidak hanya memiliki budaya yang melimpah dan hidup, melainkan alam dan lingkungan harus hidup selaras dan harmonis, sesuai dengan Asta Cita ke-8 Bapak Presiden Prabowo,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Temanku Lima Benua berbagi kisah tentang kucing bernama Meong Palo Karella yang diceritakan neneknya sejak kecil. Kisah ini, yang tertulis dalam Sureq La Galigo (Naskah kuno terpanjang di dunia), bercerita tentang kucing yang menjadi teman setia Dewi Sri atau Dewi Padi, menjaga hasil panen, dan mengajarkan manusia untuk menghormati kerja keras petani serta merawat alam.
Ia membandingkan kisah tersebut dengan mitos kucing di Jepang, seperti Nekomata dan Bakeneko, serta simbol Maneki Neko yang dipercaya membawa rezeki dan kekayaan, serta simbol perlindungan dari roh jahat. “Sama halnya di Jepang mempunyai mitos kucing Nekomata karma Bakeneko yang di hormati, seperti simbol Maneki neko yang dipercayai membawa rezeki dan kekayaan termasuk pelanggan bagi pemilik Hotel, Toko, dan Bisnis. Bahkan kucing hitam di Jepang dipercaya membawa keberuntungan serta kebahagiaan, dan simbol perlindungan dari roh jahat,” jelasnya.
Temanku Lima Benua menilai kedekatan masyarakat Indonesia dengan budaya populer Jepang, seperti karakter Hello Kitty dan Doraemon, dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia. Ia menyebut karakter-karakter tersebut akrab di telinga berbagai generasi di Indonesia, namun Indonesia juga memiliki cerita seperti Meong Palo Karella.
Kisah Meong Palo Karella ini dikembangkan menjadi karya visual berupa batik sepanjang tiga meter, instalasi lingkungan dari kertas bekas, dan permainan tradisional. Karya-karya ini ditampilkan secara inklusif dalam Pesta Indonesia Fukuoka 2026, yang diharapkan dapat membangun persahabatan dan kolaborasi antara masyarakat Indonesia dan Jepang. “Harapan kami mengikuti kegiatan ini adalah menjalin persahabatan, kolaborasi, dan supaya masyarakat Jepang datang ke Indonesia. Kami ingin menunjukkan bahwa orang Indonesia ramah tamah dan Indonesia kaya akan biodiversitas,” tuturnya.
Pameran batik berukuran 3×2,5 meter dengan instalasi lingkungan bertema kucing dan live drawing digelar di Pesta Indonesia Fukuoka 2026 pada 3-4 Oktober 2026. Acara ini juga berkolaborasi dengan seniman musik Jepang seperti Manon, DJ NUKU, Bagus Hasegawa, Mickey, dan Yas Sun Bunch. Pameran yang dibuka di One Fukuoka Hotel pada 2 Oktober 2026 ini dihadiri oleh masyarakat Jepang, NGO, KBRI Tokyo, PPI Fukuoka, dan seniman Jepang.