Sekolah Rakyat Kemensos: Jembatan Pendidikan untuk 28.000 Lebih Anak Kurang Mampu

Kementerian Sosial (Kemensos) terus berupaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui program Sekolah Rakyat. Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menjelaskan bahwa program ini dirancang khusus untuk memberikan kesempatan belajar yang layak tanpa terhalang oleh kondisi ekonomi keluarga.

Gus Ipul menegaskan bahwa seluruh siswa yang terdaftar dalam Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang masuk dalam Desil 1 dan Desil 2 pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) atau yang sebelumnya dikenal sebagai Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Oleh karena itu, proses seleksi tidak didasarkan pada tes akademik, melainkan pada verifikasi kondisi sosial ekonomi keluarga.

“Basisnya adalah DTKS, yaitu keluarga pada Desil 1 dan Desil 2 yang secara sosial ekonomi berada pada kondisi paling bawah atau prasejahtera. Karena tidak menggunakan tes akademik, maka diperlukan proses adaptasi agar mereka siap mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat,” ujar Gus Ipul, mengutip dari situs Kemensos pada Sabtu (24/10/2026).

Hingga Juli 2026, program Sekolah Rakyat telah berhasil menjaring 28.478 siswa baru dari keluarga kurang mampu untuk jenjang pendidikan tahun ajaran 2026/2027. Rinciannya, terdapat 6.305 siswa jenjang Sekolah Dasar (SD), 11.186 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 11.077 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Angka ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan kesempatan pendidikan.

Dalam kurun waktu satu tahun, pemerintah telah membangun 93 Sekolah Rakyat permanen yang tersebar di berbagai wilayah. Targetnya, setiap kabupaten/kota akan memiliki minimal satu Sekolah Rakyat untuk terus memperluas jangkauan program.

Melalui Sekolah Rakyat, Kemensos secara aktif berupaya memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan, sekaligus membuka peluang lebih luas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk meraih masa depan yang lebih cerah.

Manfaat nyata program ini dirasakan oleh Citra Nur Ramadhani, seorang siswa asal Pangkep. Citra hampir saja putus sekolah setelah kepergian ayahnya, karena harus membantu ibunya berjualan. Kehadiran Sekolah Rakyat menjadi solusi bagi Citra dan anak-anak lain yang memiliki kondisi serupa, memungkinkan mereka untuk melanjutkan pendidikan, mengembangkan potensi diri, dan meraih cita-cita tanpa dibebani kendala ekonomi.

Dalam rangka memperingati satu tahun perjalanan program Sekolah Rakyat, Kemensos akan menyelenggarakan acara ‘Peresmian 100 Gedung Sekolah Rakyat’ di Makassar pada 28 Oktober 2026. Acara ini merupakan bagian dari upaya penguatan program Sekolah Rakyat dan perluasan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Kegiatan tersebut juga akan disiarkan secara langsung melalui live streaming di detikcom.

Tinggalkan komentar