Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan bahwa proses revitalisasi kawasan Blok M, Jakarta Selatan, sempat mengalami kendala birokrasi yang signifikan. Ia menyatakan bahwa kerumitan birokrasi tersebut sempat membuat proyek berjalan maju-mundur.
Pernyataan ini disampaikan Anies saat peluncuran konsep desain transformasi kawasan Blok M fase ultimate di Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026). Ia mengaku sempat menyampaikan kepada Direktur Utama MRT Jakarta, Tuhiyat, untuk mencari investor lain jika proses revitalisasi terus menemui ketidakpastian.
“Ketika prosesnya masih maju mundur, maju mundur, maju mundur, saya bilang sama Pak Dirut, ‘Pak Dirut kalau maju mundur, maju mundur, cari investor yang lain. Ini jangan-jangan Intiland-nya nggak mau’,” kata Anies Baswedan.
Namun, Anies mengklarifikasi bahwa masalah tersebut bukanlah karena investor kehilangan minat. Ia secara jujur mengakui bahwa kendala utama justru berasal dari internal birokrasi pemerintah provinsi.
“Ternyata bukan. Sering kali problemnya saya harus katakan dengan jujur, ada pada birokrasi sendiri,” ujarnya.
Anies menekankan pentingnya pembenahan birokrasi yang menghambat investasi. Ia menginstruksikan agar proses perizinan dan berbagai kebutuhan pengembangan kawasan dibuat lebih sederhana dan efisien.
“Sehingga saya katakan, udahlah yang birokrasi yang seperti ini harus dirapikan, dipotong, dibuat mudah,” tuturnya.
Sebagai langkah awal, Pemprov DKI telah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 11 Tahun 2026. Pergub ini bertujuan untuk memberikan kemudahan dalam sejumlah proses yang berkaitan dengan pembangunan, seperti Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF).
“Pak Heru, mengeluarkan Pergub Nomor 11 Tahun 2026 untuk lebih memberikan kemudahan hal-hal dalam proses untuk KLB, SLF, dan sebagainya,” ujar Anies.
Menurut Anies, penyederhanaan birokrasi sangat krusial agar investor lebih mudah merealisasikan pembangunan. Ia meyakini kemudahan tersebut pada akhirnya akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi pembangunan Jakarta.
Revitalisasi Blok M fase ultimate sendiri akan mencakup sejumlah transformasi besar. Direktur Utama MRT Jakarta, Tuhiyat, merinci lima area utama yang akan dikembangkan: revitalisasi terminal, pengembangan kawasan mixed-use, peningkatan aksesibilitas dan integrasi antarmoda, penciptaan destinasi komersial baru, serta perluasan ruang terbuka publik.
Kawasan Blok M ditargetkan akan berkembang menjadi sepuluh kali lebih besar dari kondisi saat ini. Sementara itu, ruang terbuka publik akan diperluas hingga lima kali lipat dari luasan yang ada.
“Ruang terbuka publik setelah nanti dibangun akan menjadi lima kali lebih besar dari yang ada. Dari sisi kawasannya, secara total sepuluh kali lebih besar dari yang ada,” jelas Tuhiyat.