Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Kepolisian Sektor (Polsek) Weri bergerak cepat menyalurkan air bersih bagi warga Kampung Weri, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap krisis air yang dialami masyarakat akibat mata air dan sumur mereka mulai mengering.
Kondisi ini memaksa warga Kampung Weri, yang berada di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharay, Distrik Fakfak Timur, untuk berulang kali mencari dan menampung air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebelumnya, warga harus berusaha keras mencari sumber air yang masih tersisa.
Brien, anggota TEP Unhas Tim 15, menjelaskan bahwa persoalan air ini teridentifikasi saat tim melakukan survei dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. “Di Kampung Saharay, mata airnya masih melimpah dan sampai sekarang masih mengalir. Sementara di Kampung Weri, masyarakat sudah kesulitan air karena mata air dan sumur warga mulai kering,” ujar Brien dalam keterangan tertulisnya.
Brien menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat warga harus mengambil dan menampung air berkali-kali, baik pada pagi, siang, sore, maupun malam hari, untuk memenuhi kebutuhan air baku. Situasi ini sangat membebani aktivitas warga.
Dalam pelaksanaan penyaluran air, TEP Unhas berkoordinasi erat dengan Polsek Weri, khususnya terkait penggunaan kendaraan untuk mengangkut dan mendistribusikan air. Keterlibatan TEP dinilai penting karena tim melakukan survei langsung dari rumah ke rumah, sehingga mengetahui secara pasti rumah tangga mana saja yang paling terdampak kekurangan air.
“Polsek juga melakukan pendampingan, tetapi kami lebih dekat dengan masyarakat karena langsung turun dan mengecek kondisi rumah warga,” jelas Brien. Pendekatan langsung ini memastikan bantuan tersalurkan tepat sasaran.
Air bersih tersebut kemudian didistribusikan ke tiga RT di Kampung Weri. Di setiap RT, satu rumah ditetapkan sebagai titik distribusi untuk menyalurkan air kepada tiga hingga empat rumah warga di sekitarnya. Pola ini memudahkan warga mendapatkan air dari lokasi yang lebih dekat, mengurangi beban mereka untuk mengambil air langsung dari sumber di Kampung Saharay.
Selain fokus pada distribusi air, TEP Unhas juga berkontribusi dalam perbaikan akses jalan menuju Kampung Saharay. Jalan ini merupakan jalur vital menuju sumber mata air sekaligus penghubung antarkampung. Perbaikan dilakukan pada ruas jalan yang rusak sepanjang sekitar 800 meter hingga satu kilometer dari ujung jalan beraspal, menggunakan material tanah, pasir, dan batu yang tersedia di lokasi.
“Di situ lumayan berbahaya, mobil bisa terbalik kalau jalannya salah. Makanya bagian itu yang kami perbaiki,” papar Brien mengenai pentingnya perbaikan akses jalan tersebut untuk keselamatan.
Bantuan ini disambut baik oleh warga. Dorina Kabes, salah satu warga Kampung Weri, mengaku bersyukur atas kehadiran TEP dan Polsek Weri yang menyalurkan air langsung ke rumahnya. “Air yang dibagikan kami gunakan untuk memasak, kami bersyukur karena ada air yang dibantukan. Untuk kedepannya, semoga kalo di profil sudah habis, bisa tolong diambilkan air lagi,” ujarnya.
Upaya TEP Unhas ini sejalan dengan perhatian Presiden Prabowo Subianto mengenai pemerataan akses air bersih di seluruh negeri, yang disampaikan dalam pidato Sidang Tahunan MPR RI & Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026. “Kita sudah membangun 3.000 titik air desa yang dibangun oleh TNI,” kata Prabowo.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), juga menegaskan pentingnya air bersih bagi masyarakat transmigrasi saat meninjau pembangunan Jalan Skory-Puay, Distrik Kemtuk, Kab. Jayapura. “Air bersih ini sumber hidup. Tanpa air bersih kita semua sulit untuk hidup,” ujar AHY.
Senada dengan itu, Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menekankan pentingnya program pendampingan di kawasan transmigrasi agar memberikan dampak nyata. “Kita harus memikirkan bagaimana anggaran ini memberikan multiplier effect yang maksimal,” pungkasnya dalam Rapat Hasil Reviu TEP di Jakarta.