JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memberikan respons tegas terhadap ancaman yang dilontarkan oleh lembaga penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak gentar menghadapi ancaman tersebut.
MSCI mengancam akan menurunkan klasifikasi Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market). Jika ancaman ini benar-benar diwujudkan, pasar modal Indonesia berpotensi mengalami kehilangan aliran dana asing dalam jumlah yang sangat signifikan.
Sejak Jumat (16/10), aksi jual oleh investor asing telah menyebabkan arus keluar dana (capital outflow). Penurunan status pasar modal Indonesia oleh MSCI memicu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 11,6% pada hari itu. Perdagangan pada Senin (19/10) kembali mencatat pelemahan, dengan IHSG ditutup turun 3,6%. Kombinasi penurunan dalam dua hari perdagangan ini dinilai lebih tajam dibandingkan penurunan mana pun selama krisis keuangan Asia pada 1998, bahkan indeks saham Garuda sempat menyentuh titik terendah dalam enam tahun.
Laporan lain dari Reuters memperkirakan bahwa langkah penurunan klasifikasi oleh MSCI ini dapat memicu arus keluar dana pasif sebesar US$ 3-6 miliar, atau setara dengan Rp 54-108 triliun. Bank raksasa JPMorgan memproyeksikan angka passive outflow mencapai US$ 4,8 miliar atau Rp 86,4 triliun. Sementara itu, UBS memperingatkan bahwa investor aktif bisa menarik dana tambahan hingga US$ 15 miliar atau Rp 270 triliun.
Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut
Menanggapi ancaman tersebut, Presiden Prabowo Subianto angkat bicara dalam sidang kabinet dua tahun pemerintahannya. Ia menilai pengumuman MSCI tersebut bertujuan untuk menakut-nakuti Indonesia.
“Kita terus dihadang. Ada apa itu, macam-macamlah, MSCI, macam-macam,” ujar Prabowo dalam taklimatnya di sidang kabinet di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10). Di hadapan para menterinya, Prabowo menyatakan bahwa bangsa Indonesia tidak takut terhadap pengumuman MSCI.
“Dia mau takut-takuti kita, saya hanya katakan kepada MSCI: Bangsa Indonesia tidak takut siapa pun dan tidak akan gentar,” tegas Prabowo. Ia menambahkan, “Saudara-saudara sekalian, kita tidak takut. Kita punya kekuatan, kita punya keberanian, dan kita rela berkorban, dan kita tidak mengenal menyerah.”
Menko Perekonomian Pastikan MSCI Tak Berdampak Langsung Pada Investasi KEK
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memastikan bahwa sentimen akibat pengumuman MSCI tidak akan berdampak langsung pada investasi di kawasan ekonomi khusus (KEK). Menurutnya, MSCI hanya berkaitan dengan tata kelola di pasar modal.
“MSCI tidak berkait dengan KEK karena itu hanya untuk terkait dengan governance di capital market,” ujar Airlangga di Gedung AA Maramis, Jakarta Pusat, seperti dilaporkan detikFinance, Rabu (21/10). Saat ini, realisasi investasi di KEK telah mencapai Rp 46 triliun dari Januari hingga September 2026, yang baru setara 67 persen dari target investasi tahun 2026 sebesar Rp 69,1 triliun. Airlangga optimistis target investasi tersebut akan tercapai pada akhir 2026.
“Dan KEK 67 persen sampai kuartal III harapannya bisa mencapai 100 persen di kuartal IV karena semua sedang dalam progres pembangunan,” imbuhnya.