JAKARTA – Perkara petasan yang menyertai acara Maulid Nabi di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, berbuntut panjang. Sejumlah korban dari insiden tersebut telah membuat laporan polisi.
Sebelumnya, sebuah rekaman video yang beredar memperlihatkan acara Maulid Nabi di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, mendapat protes dari warga hingga berujung kericuhan. Warga merasa terganggu karena acara tersebut dibarengi dengan penyalaan petasan yang berlangsung hingga Sabtu dini hari.
Kericuhan diduga dipicu oleh penggunaan petasan yang terus dinyalakan hingga sekitar pukul 01.00 WIB, yang membuat warga sekitar merasa terganggu.
Dalam rekaman video yang viral di media sosial, tampak seorang ibu memprotes penyalaan kembang api pada acara maulid tersebut. Sang ibu menyatakan protesnya karena petasan dinyalakan hingga larut malam dan mengganggu waktu istirahat warga.
Disebutkan pula bahwa sejumlah anak terbangun dan menangis akibat suara petasan tersebut. Situasi memanas ketika seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus menyampaikan keluhannya kepada penyelenggara acara.
Ibu tersebut juga menyatakan bahwa penyalaan petasan membuat anaknya mengalami tremor. Beberapa warga berusaha menenangkan ibu tersebut, namun sebagian peserta acara justru bereaksi dengan marah dan melontarkan sebutan negatif.
Ketegangan sempat terjadi saat ibu tersebut mencoba meminta panitia untuk datang. Beberapa warga terlihat mengintimidasi korban dan memegang koran.
Korban Melapor ke Polisi
Seorang perempuan korban penganiayaan terkait kasus tersebut, yang berinisial LK, telah melaporkan kejadian ini ke polisi. Laporan tersebut terdaftar dengan nomor LP/B/4008/X/2026/SPKT/POLRESMETROJAKSEL/POLDAMETROJAYA.
“Jadi kemarin tanggal 5 Oktober, datang seorang perempuan inisial LK melaporkan perbuatan yang dialaminya. Dan perkara itu yang dialaminya berupa pengeroyokan dan/atau penganiayaan,” ujar Kasi Humas Polres Jakarta Selatan AKP Joko Adi kepada wartawan, Rabu (7/10).
Joko menjelaskan bahwa kasus ini bermula dari perselisihan antara penyelenggara kegiatan agama dan masyarakat yang merasa terganggu oleh suara berisik kembang api. Perkara ini sempat dimediasi, namun belum menemukan titik temu.
“Mediasi sudah dilakukan dua kali, namun dari mediasi itu belum ada titik temu, yang kemudian salah satu warga ini memutuskan untuk melaporkan apa yang dialami ke Polres Jakarta Selatan,” jelasnya.
Joko menambahkan bahwa laporan tersebut sudah diterima dan sedang ditindaklanjuti. Dalam kasus ini, LK diduga mengalami penganiayaan berupa pukulan dan jambakan.
“Jadi yang dialami Saudari LK ini, yang dijelaskan pada kami, yang bersangkutan mengalami didorong, dijambak, dan juga dipukul,” ucapnya.
Selanjutnya, Joko menyatakan bahwa LK telah menjalani visum. Hasil visum tersebut akan digunakan sebagai alat bukti.
“Dari pengakuannya, terkait itu pun kami sudah melakukan visum terhadap korban, dan tentunya hasilnya nanti dari hasil visumnya,” imbuhnya.
Joko mengklarifikasi bahwa pelaporan yang dilakukan LK secara spesifik mengenai dugaan penganiayaan. LK disebut tidak mempermasalahkan acara keagamaan itu sendiri.
“Artinya, dari dampak kegiatan kembang api itu, kan ada nampak di video ada dorong-dorongan kegiatan itu. Kemungkinan itu yang dipermasalahkan. Untuk kegiatan keagamaan, ibu ini tidak mempermasalahkannya,” ucapnya.
Laporan Korban Lain
Seorang korban lain juga turut melaporkan kasus ini, terkait dugaan pengeroyokan.
Laporan tersebut sudah teregister dengan nomor LP/B/7547/X/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tertanggal 8 Oktober 2026. Pihak terlapor dalam kasus ini masih dalam proses penyelidikan.
“Laporan sudah diterima dan ini sudah saya ceritakan dengan detail pelaporannya. Dan akan dilanjutkan oleh visum. Jadi saya sekarang hari ini langsung ke RS Polri untuk melakukan visum,” kata pelapor, Amanda Andono, kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Kamis (8/10/2026).
Amanda menceritakan bahwa suara bising petasan dalam acara maulid tersebut membuat anaknya yang sudah tertidur lelap terbangun. Ia menyebut anaknya sampai kejang, panik, hingga berteriak saat mendengar suara petasan tersebut.
“Itu aja nggak cuma sekali, dua kali, tapi itu sampai 10 menit lebih tuh masih der…der…der!. Sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk saya harus menghentikan dan saya harus ke lokasi, ke TKP gitu. Ya udah saya ke sana,” jelasnya.
Saat tiba di lokasi, Amanda mengaku ditanyai mengenai agamanya. Ia meminta agar petasan dihentikan karena suaranya yang bising. Amanda juga mengaku mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari sejumlah orang.
“Saya ditanya macam-macam, saya ditahan, diludahin mukanya, disembur mukanya, disuruh pulang. Sampai pada akhirnya, mungkin kalau mungkin yang sudah pernah lihat videonya, secara detail di situ ada. Dan sehingga pas waktu sudah ditahan, malah malah saya dibilang provokator, padahal sebetulnya provokator mereka gitu,” katanya.
“Jadi setelah itu saya didorong, ditarik, sampai didorong sampai saya hampir masuk…bukan, saya jatuh ke got. Lalu saya ditarik sampai pakaian dalam saya putus gitu. Ya saya udah mau…gestur dari mereka tuh udah mau mukul, udah mau nampar apa gimana,” imbuhnya.
Amanda menyatakan pihaknya telah menyiapkan bukti-bukti, termasuk pakaian yang ia kenakan saat kejadian. Ia juga diarahkan untuk melakukan visum di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.