JEPARA – Warga Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, menyambut antusias pemeriksaan kesehatan gratis melalui program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kegiatan ini juga mencakup penemuan kasus aktif tuberkulosis (TBC) sebagai strategi menemukan penderita di tengah masyarakat.
Acara ini turut dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, dan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus. Melalui program ini, warga tidak hanya dapat mengetahui kondisi kesehatan umum mereka, tetapi juga memeriksa risiko paparan TBC.
Sumarno, yang mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, meninjau langsung pelaksanaan pemeriksaan. Rangkaian pemeriksaan mencakup pengambilan sampel dahak untuk tes sputum BTA (bakteri tahan asam), rontgen dada, pengukuran tekanan darah dan tinggi badan, serta pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi medis.
Dina Amelia, salah seorang warga yang mengikuti pemeriksaan, datang bersama lima anggota keluarganya setelah mengetahui adanya riwayat TBC di lingkungan sekitar. Ia berharap skrining ini dapat memastikan kesehatan keluarganya dan mencegah penularan. “Harapannya tidak ada yang tertular dari keluarga, sehingga semuanya tetap sehat. Alhamdulillah, bisa cek kesehatan gratis melalui kegiatan ini,” ungkap Dina.
Nurhamidah, warga lainnya, mendapat informasi kegiatan ini dari kader kesehatan desa. Ia pernah mengalami keluhan batuk dan nyeri dada yang hilang timbul. Nurhamidah berharap skrining TBC dapat membantu deteksi dini dan mempercepat penanganan. “Kalau bisa, ketika penyakitnya diketahui lebih awal, penanganannya juga bisa lebih cepat,” tuturnya.
Kepala Puskesmas Tahunan, Pramita Sukti Setyarini, menekankan pentingnya pelacakan (tracing) TBC untuk menemukan kasus yang belum terdeteksi, termasuk pada orang tanpa gejala. Pemeriksaan aktif, menurutnya, krusial agar masyarakat berisiko segera memeriksakan diri dan mendapat penanganan tepat.
“Dengan adanya tracing (pelacakan) ini, kita bisa menjaring pasien-pasien yang memiliki gejala TBC, tidak bergejala, maupun yang memiliki riwayat kontak. Melalui kegiatan ini, kita bisa melihat gambaran paru-paru melalui pemeriksaan rontgen untuk membantu mendeteksi kemungkinan TBC,” ujar Pramita.
Pihaknya menargetkan skrining TBC di wilayah kerjanya dapat dilaksanakan rutin setiap bulan, menyasar berbagai desa. Fokus utama adalah penelusuran kontak erat dari pasien TBC terkonfirmasi, yang meliputi anggota keluarga, teman, hingga rekan kerja. Mereka dianjurkan memeriksakan diri meski tanpa gejala, terutama jika memiliki riwayat kontak.
“Walaupun tidak bergejala, kalau mereka memiliki riwayat kontak, kita bisa meminta mereka datang untuk diperiksa,” jelasnya.
Pramita menyambut baik integrasi skrining TBC dengan program Speling di Desa Sukodono. Kombinasi layanan rontgen, pengukuran fisik, dan laboratorium dalam satu kegiatan diharapkan mempermudah akses kesehatan masyarakat. Seluruh data pelayanan juga diinput melalui sistem Satu Sehat.