Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengajak Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD) dan Peking University, China, untuk berkolaborasi dalam riset pengembangan kawasan transmigrasi di Indonesia. Iftitah menyatakan bahwa Peking University menunjukkan minat untuk menjalin kerja sama tersebut.
“Saya menyambut baik kesempatan untuk membangun kemitraan praktis dengan ISSCAD dan Universitas Peking,” ujar Iftitah di Peking University, Beijing, China, pada Senin (12/10/2026).
Menurut Iftitah, Peking University tertarik untuk melakukan riset di kawasan transmigrasi Indonesia. Rencana riset ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi kemajuan kawasan tersebut.
“Kami menceritakan di Peking University ini, ternyata barusan profesor juga menyampaikan kami juga tertarik kalau misalkan untuk melakukan riset datang ke daerah transmigrasi dan memampukan masyarakat-masyarakat yang ada di kawasan transmigrasi,” jelasnya.
Selain itu, Kementerian Transmigrasi juga telah menjalin kerja sama dengan universitas dari Jerman. Para akademisi tersebut memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi di kawasan transmigrasi.
“Kita sudah menggandeng universitas internasional. Baru minggu lalu kita melepas kembali mahasiswa dan profesor dari TUM, Technical University of Munich, Jerman. Itu ITB-nya Jerman, salah satu universitas terbaik di Jerman dan juga di dunia, 25 besar,” ungkapnya.
Iftitah menambahkan, akademisi TUM telah membantu menyelesaikan masalah di Kawasan Transmigrasi Rempang, Kepulauan Riau. Ia menyebut para akademisi Jerman tersebut antusias melakukan riset di kawasan transmigrasi.
“Nah, mereka datang untuk membantu masyarakat setempat, bukan hanya sekedar riset, tetapi juga memberikan semacam practical-practical solutions yang bisa langsung dipraktikkan. Misalkan contoh, di daerah Rempang itu, itu aliran tanahnya itu kan mudah longsor, nah mereka buatlah tanaman-tanaman yang membuat tanahnya itu tidak mudah longsor,” ucap dia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kerja sama tersebut juga mencakup penanggulangan sampah, pengembangan komunitas, serta pembangunan ekonomi wisata bahari. “Nah, mereka sangat senang sekali, bahkan saya yang terharu pada saat mereka perpisahan malam Minggu, itu mereka menangis dan sangat terharu kayak sudah cukup lama begitu, padahal hanya 2 minggu di daerah kawasan transmigrasi,” pungkasnya.