Namu Balai Kota Dibuka, Rano Karno Inginkan Interaksi Warga dan Pemerintah

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno secara resmi membuka Namu Balai Kota atau City Hall Experience yang berlokasi di Balai Kota Jakarta. Program ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi warga untuk mengenal lebih dekat pemerintahan daerah serta berinteraksi langsung dengan berbagai layanan publik yang tersedia di ibu kota.

Rano Karno menjelaskan bahwa Namu Balai Kota dirancang dengan tujuan untuk mendekatkan pemerintah daerah dengan masyarakat. Ia berharap Balai Kota Jakarta tidak hanya dipandang sebagai pusat pemerintahan semata, tetapi juga dapat menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas bersama bagi warga.

“Namu Balai Kota ini dibuat untuk mendekatkan balai kota dengan warganya,” ujar Rano saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran, Sabtu (17/10/2026). Ia menambahkan dengan bahasa Betawi, “Serendo-rendo tuh kalau bahasa Betawi, rame-rame. Ngeriung kita.” Ungkapan ini menggambarkan suasana kebersamaan dan keramaian yang diharapkan tercipta.

Lebih lanjut, Rano Karno memaparkan bahwa konsep kegiatan ini terinspirasi dari budaya Betawi. Ia menyinggung istilah ‘bale’ yang dalam budaya Betawi menggambarkan tempat terbuka dan ramah bagi siapa saja. “Kalau Betawi bilang bukan balai, bale. Jadi ini bale kota, bale-nya masyarakat, bukannya bale kita,” jelasnya.

Menurut Rano, dalam budaya Betawi, rumah yang memiliki ‘bale’ identik dengan keramahan dan keterbukaan dalam menerima tamu. Filosofi inilah yang ingin dihadirkan di lingkungan Balai Kota Jakarta agar masyarakat merasa diterima dan disambut dengan hangat. Ia berharap Namu Balai Kota dapat menjadi jembatan yang efektif dalam mempertemukan pemerintah dengan warga Jakarta.

“Semoga Namu Balai Kota ini dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan antara pemerintah daerah dengan warganya,” ucap Rano.

Namu Balai Kota tidak hanya menyajikan informasi mengenai program-program pemerintah, tetapi juga menyediakan berbagai aktivitas menarik. Mulai dari layanan publik yang esensial hingga kegiatan seni dan budaya yang beragam. Masyarakat dapat mengakses berbagai layanan di Balai Kota Jakarta, seperti pengurusan paspor, layanan Samsat, perizinan, hingga layanan dari Bank Jakarta.

Selain layanan administrasi, pengunjung juga dapat menikmati kegiatan seni, pemutaran film, permainan tradisional, kuliner khas, dan berbagai aktivitas komunitas lainnya. Hal ini menunjukkan komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk menciptakan ruang interaksi yang multifaset bagi masyarakat.

Rano Karno mengungkapkan bahwa Namu Balai Kota sebelumnya telah melalui uji coba pada tanggal 3 Oktober 2026. Dari hasil uji coba tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan evaluasi mendalam untuk memperbaiki kekurangan yang ada sebelum penyelenggaraan berikutnya. Program ini direncanakan berlangsung setiap dua pekan selama tahun 2026.

Pemprov DKI Jakarta akan terus mengevaluasi pelaksanaan Namu Balai Kota untuk menentukan kemungkinan perubahan frekuensi kegiatan pada tahun mendatang. “Kita rencana dua minggu selama tahun 2026. Tapi tahun depan kita lihat kalau dianggap kurang, ya enggak tahu, mungkin tiap minggu Wakil Gubernur jadi penerima tamu di sini. Kita evaluasi,” imbuhnya, menandakan keseriusan dalam pengembangan program ini.

Tinggalkan komentar