JAKARTA – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan Museum Keris Indonesia yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada Jumat (16/10). Peresmian ini menandai upaya pelestarian keris sebagai warisan budaya bangsa yang kaya akan ekspresi seni, pengetahuan tradisional, sejarah, dan teknologi.
Fadli Zon menekankan bahwa keris tidak hanya dipandang sebagai senjata atau benda pusaka, melainkan sebagai cerminan nilai-nilai kehidupan masyarakat. “Kita harapkan museum-museum ini bisa menjadi pusat edukasi, pusat budaya, pusat informasi, dan juga menjadi cultural enclave atau kantong budaya. Dan kita harapkan nanti akan menjadi satu ekonomi budaya untuk memperkuat jati diri identitas bangsa,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (17/10/2026).
Revitalisasi museum ini, lanjut Fadli Zon, tidak hanya berfokus pada pembenahan fisik, tetapi juga mencakup penguatan tata kelola, kurasi, riset, digitalisasi, pengembangan narasi, serta perluasan akses masyarakat terhadap pengetahuan mengenai keris.
Keris sendiri telah diakui oleh UNESCO sebagai Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity sejak tahun 2005. Pengakuan ini menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan pengetahuan dan tradisi perkerisan tetap lestari dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Perubahan nama dari Museum Pusaka menjadi Museum Keris Indonesia diinisiasi untuk memperkuat identitas keris sebagai warisan budaya takbenda UNESCO. “Diharapkan nantinya dapat tercermin dalam pengelolaan koleksi, penyusunan storyline, narasi kuratorial, serta pengembangan program edukasi yang mampu menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat, khususnya generasi muda,” tegas Fadli Zon.
Museum Keris Indonesia kini memiliki 6.021 koleksi yang terdiri dari keris, tombak, pedang, dan keramik. Koleksi ini mencerminkan keragaman tradisi perkerisan Nusantara yang tersebar luas dari Jawa hingga wilayah timur Indonesia, bahkan hingga ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina.
Makna mendalam di balik bentuk, pamor, dan keindahan estetikanya menyimpan filosofi serta keterampilan para empu yang diwariskan turun-temurun. Pentingnya keris sebagai warisan budaya juga dipertegas dengan penetapan tanggal 19 April sebagai Hari Keris Nasional.
Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), Restu Gunawan, menjelaskan bahwa perubahan nama museum ini bertujuan menajamkan identitas dan orientasi pengelolaan dengan menjadikan keris sebagai fokus utama. Ia berharap museum ini dapat dikelola secara profesional dan terbuka terhadap kolaborasi untuk memberikan manfaat nyata bagi pelindungan dan pemajuan kebudayaan Indonesia.
Turut hadir dalam peresmian tersebut antara lain Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Sekretaris Jenderal Kemenbud Bambang Wibawarta, jajaran pejabat Kemenbud, para empu dan maestro keris, budayawan, serta komunitas perkerisan Nusantara.