Jerman pada masa lalu memproduksi senapan mesin MG 42 yang mendapat julukan “gergaji Hitler”. Senjata ini mampu melontarkan hingga seribu peluru dalam hitungan menit, menjadikannya salah satu senjata paling mematikan pada masanya.
Menurut laporan American Rifleman, MG42 memiliki kecepatan tembak rata-rata antara 1.100 hingga 1.350 peluru per menit. Angka ini jauh melampaui senapan mesin yang dimiliki oleh Amerika Serikat pada periode yang sama.
Senjata ini dirancang khusus untuk melakukan serangan cepat dengan rentetan peluru yang masif. Salah satu fitur utamanya adalah tuas yang terletak di samping bodi, memungkinkan penembak untuk mengganti laras hanya dalam hitungan detik tanpa memerlukan alat bantu khusus.
Berbeda dengan pendahulunya, MG34, yang memerlukan banyak komponen hasil pahatan mesin, MG42 diproduksi menggunakan teknik pengetokan pelat besi dan las titik. Metode ini secara signifikan menekan biaya produksi dan sangat ideal untuk produksi massal.
Kemampuan MG42 dalam menghasilkan pendaran api oranye yang sangat kecil membuatnya sulit dideteksi oleh musuh dari kejauhan, sebuah keunggulan dibandingkan senapan mesin Browning milik Amerika.
Pasukan Jerman kerap menempatkan MG42 di titik-titik strategis yang sempit untuk menciptakan efek tembakan silang (crossfire). Mereka juga menggunakannya untuk tembakan menyapu tanah (grass cutting) pada ketinggian sekitar 1,5 hingga 2 kaki.
Penembak yang menggunakan senjata ini dilatih untuk menembak dalam rentetan pendek yang terdiri dari 5 hingga 8 peluru. Taktik ini bertujuan untuk menjaga akurasi tembakan dan memperpanjang umur laras senjata.
Julukan “Gergaji Hitler”
Meskipun dalam penggambaran film-film Amerika Serikat senjata ini lebih dikenal karena suaranya yang berisik, MG42 terbukti sangat mematikan di medan perang. Senjata ini dilaporkan telah menewaskan atau melukai puluhan ribu tentara Sekutu. Karena suara tembakannya yang sangat keras dan khas, senjata ini kerap dijuluki sebagai “gergaji Hitler” oleh pasukan Sekutu.
Selain efektivitasnya, desain MG42 juga menarik perhatian pengamat militer Amerika Serikat. Laporan mereka merekomendasikan agar Angkatan Darat AS merancang senapan mesin baru yang terinspirasi dari desain MG42, khususnya dalam pemanfaatan cetakan pelat besi dan sistem penggantian laras yang cepat.
Pada tahun 1943, Kekaisaran Jepang sempat berupaya untuk mendapatkan lisensi produksi MG42. Namun, rencana ini tidak pernah terealisasi hingga akhir Perang Dunia II.