Chongqing – Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara melakukan kunjungan kerja ke Chongqing Academy of Agricultural Sciences (CQAAS) di Chongqing, China, pada Rabu (14/10/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari teknologi pertanian dan peternakan mutakhir yang diharapkan dapat diterapkan di kawasan transmigrasi Indonesia.
Setibanya di CQAAS yang berlokasi di Baishiyi Town, Distrik Jiulongpo, Mentrans Iftitah disambut dengan pemaparan mengenai Chongqing Agricultural High-Tech Park. Ia kemudian diajak berkeliling untuk melihat langsung hasil riset berbagai jenis sayuran dan buah-buahan yang dikembangkan di lembaga tersebut.
Salah satu fokus kunjungan adalah Pusat Penelitian Pertanian Akuaponik dan Ikan. Di sana, Mentrans mendapatkan penjelasan mendalam mengenai teknologi akuaponik dan budidaya ikan yang telah memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Ia juga meninjau pusat penelitian tanah untuk memahami bagaimana riset dapat memetakan kesesuaian lahan bagi jenis tanaman tertentu.
Menteri Iftitah menyatakan bahwa pembelajaran ini menjadi inspirasi penting untuk pengembangan kawasan transmigrasi di Indonesia. “Jadi, sebetulnya harapan kita hari ini adalah pengembangan kawasan transmigrasi sesuai dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 itu, ada penekanan pada pertumbuhan ekonomi yang baru. Nah, kami belajar bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang baru itu harus berdasarkan riset, harus berdasarkan pengetahuan, karena kalau tidak, itu akan sporadis,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada para transmigran serta masyarakat lokal agar mampu mengelola kawasan mereka secara efektif, baik di bidang pertanian maupun potensi lokal lainnya. “Dan kemudian juga harus memampukan para transmigran serta masyarakat transmigrasi, masyarakat lokal yang ada di sana, know-how-nya itu seperti apa,” tambah Iftitah.
Mentrans Iftitah secara khusus tertarik pada pemanfaatan AI untuk pertanian hidroponik dan peternakan ikan. Ia berharap teknologi serupa dapat dikembangkan dan diterapkan di area transmigrasi Indonesia. “Jadi, itulah dibangun, tadi kita lihat sendiri ada pusat keunggulan ya, AI, teknologi, inovasi pertanian yang sebenarnya dimiliki oleh pemerintah daerah setempat, tapi juga berkolaborasi dengan pertama, Kementerian Pertanian, kemudian kementerian yang mengurusi masalah ketransmigrasian dan pembangunan perdesaan, kemudian juga dengan beberapa universitas,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan efisien. Pemerintah memberikan intervensi dalam bentuk riset, dan hasilnya dibagikan kepada seluruh petani. “Sehingga mereka mendapatkan satu gambaran untuk menghasilkan produk yang cukup baik dan efektif, tetapi lebih efisien. Jadi setiap bulan ada terus penelitian dan riset. Intervensi pemerintah diberikan dalam bentuk riset, tapi nanti hasilnya dibagikan kepada seluruh petani,” sambungnya.
Lebih lanjut, Iftitah menyoroti integrasi antara pertanian dan peternakan ikan yang ramah lingkungan. Konsep akuaponik yang menggunakan air sirkulasi untuk kebutuhan ikan dan sayuran hidroponik menarik perhatiannya. “Kalau tadi kita melihat langsung, bagaimana integrasi antara pertanian, dalam hal ini menanam sayur-sayuran, dengan ikan, misalkan, agar lebih ramah lingkungan. Jadi menggunakan air yang sama, tapi dilakukan sirkulasi, kapan digunakan oleh ikan, kapan digunakan untuk sayuran,” jelasnya.
Menteri Iftitah optimis bahwa dengan konsistensi dan penerapan teknologi yang tepat, Indonesia dapat menghasilkan produk pertanian yang kompetitif. “Jadi ini juga luar biasa sekali hasil yang didapatkan. Tapi kembali lagi, itu semua membutuhkan waktu. Kalau kita konsisten, nanti kita tidak kalah dengan produk-produk dari luar,” pungkasnya.