Laksamana (Purn) Widodo AS, Mantan Panglima TNI dan Menko Polhukam, Berpulang

Kabar duka menyelimuti keluarga besar Tentara Nasional Indonesia (TNI). Laksamana (Purn) Widodo Adi Sutjipto atau yang akrab disapa Widodo AS, mantan Panglima TNI, meninggal dunia pada Sabtu kemarin. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi banyak pihak yang mengenalnya.

Widodo AS merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut tahun 1968. Sepanjang kariernya di TNI Angkatan Laut, ia menduduki berbagai jabatan strategis sebelum akhirnya dipercaya memimpin institusi pertahanan tertinggi di Indonesia. Kadispenal Laksamana Pertama Tunggul mengonfirmasi kabar duka tersebut pada Minggu (25/10/2026).

Sebelum menjabat sebagai Panglima TNI, Widodo AS telah menorehkan jejak penting di TNI AL. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut pada periode 26 Juni 1998 hingga 17 Juli 1999. Selanjutnya, Presiden B.J. Habibie mempromosikannya menjadi Wakil Panglima ABRI pada tahun 1999.

Titik puncak kariernya di militer terjadi pada Oktober 1999 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mengangkatnya sebagai Panglima TNI. Jabatan prestisius ini diemban hingga Juni 2002. Widodo AS tercatat sebagai Panglima TNI pertama yang berasal dari matra Angkatan Laut, sebuah pencapaian bersejarah.

Setelah purnatugas dari dinas militer, kiprah Widodo AS berlanjut di pemerintahan. Ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polhukam) di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Masa baktinya sebagai Menko Polhukam berlangsung selama dua periode, yaitu dari 21 Oktober 2004 hingga 20 Oktober 2009. Tak berhenti di situ, ia juga sempat mengabdikan diri sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden di periode kedua pemerintahan SBY, dari tahun 2009 hingga 2014.

Pemakaman Militer di TMP Kalibata

Prosesi pemakaman jenazah Laksamana (Purn) Widodo AS digelar secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada Minggu (25/10/2026). Sejumlah tokoh penting tampak hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Di antara pelayat yang hadir adalah Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Menko Polhukam Dudung Abdurachman, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, dan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto.

Upacara pemakaman dipimpin langsung oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Keluarga besar serta kerabat almarhum juga turut membersamai dalam upacara yang khidmat tersebut. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyampaikan harapannya agar pengabdian almarhum dapat menjadi teladan. “Semoga jalan darma bakti yang ditempuhnya dapat menjadi suri teladan bagi kita semua, dan arwahnya mendapat tempat yang semestinya di alam baka,” ucapnya.

Usai pembacaan doa dan penghormatan terakhir, karangan bunga diletakkan di atas makam almarhum sebagai simbol penghormatan.

Kenangan Para Tokoh

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengenang Laksamana (Purn) Widodo AS sebagai sosok pelopor dan pemersatu tiga matra TNI. “Kita merasa kehilangan seorang pelopor, ya. Dia pada zaman reformasi aktif sekali mempersatukan TNI sampai beliau turun ke daerah-daerah mengumpulkan tiga angkatan untuk memberikan semangat persatuan dan kesatuan TNI pada waktu itu menghadapi transisi reformasi,” kata Sjafrie saat ditemui di rumah duka.

Sjafrie menambahkan bahwa peran Widodo sangat penting dalam memperkuat TNI, khususnya sebagai kekuatan psikologis untuk persatuan. Ia juga mengenang Widodo sebagai pemimpin yang gemar berdiskusi dan mengajak anak buahnya berpikir bersama. “Ada satu yang paling saya selalu ingat adalah ‘pikir bareng’. Jadi beliau tidak pernah berpikir sendiri. Beliau selalu mengumpulkan staf dan bekerja sama untuk mengambil kesimpulan,” kenangnya.

Selain itu, Sjafrie menyebut hubungan almarhum dengan Presiden Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan, sangatlah dekat, baik secara emosional maupun psikologis, terutama dalam pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia.

Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turut mengenang almarhum sebagai seorang prajurit, patriot, pemimpin, sekaligus negarawan. “Laksamana Widodo AS itu seorang prajurit, patriot, pemimpin, yang juga negarawan, yang banyak sekali jasanya. Saya sangat sering, belasan tahun mengemban tugas bersama almarhum,” ujar SBY seusai memberikan belasungkawa.

SBY menyoroti peran penting Widodo dalam menjaga persatuan bangsa saat Indonesia menghadapi krisis pada tahun 1998 dan ketika menjabat sebagai Panglima TNI serta Menko Polhukam. “Banyak kenangan saya pribadi bersama beliau. Tetapi intinya beliau itu kalau demi konstitusi dan Merah Putih itu tegak lurus,” tegas SBY.

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas jasa-jasa almarhum yang luar biasa bagi bangsa dan negara. Ia mengenang Widodo sebagai pemimpin yang profesional dan menjadi panutan, termasuk bagi dirinya saat masih berpangkat kapten-mayor. “Saat beliau menjadi Panglima, saya masih pangkat kapten-mayor dan beliau menjadi panutan kami,” tuturnya.

Tinggalkan komentar