Lab Narkoba Jaringan Internasional di Pidie Dibongkar, Sita 1,2 Ton Sabu

Tim gabungan yang terdiri dari Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea Cukai berhasil membongkar laboratorium narkoba rahasia terbesar di Indonesia. Fasilitas produksi ilegal ini berlokasi di Kabupaten Pidie, Aceh. Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto secara langsung meninjau lokasi pabrik gelap tersebut.

Laboratorium narkotika ini ditemukan berada di deretan ruko kawasan Mutiara Timur, Pidie, Aceh. Dua unit ruko disulap oleh para pelaku menjadi tempat untuk memproduksi sabu cair menjadi bentuk siap edar. Dari luar, bangunan bertingkat itu tampak seperti ruko pada umumnya dengan cat dan pintu berwarna putih. Saat ini, bagian depan bangunan tersebut telah dipasangi garis polisi.

Di dalam ruko, berbagai ruangan difungsikan untuk seluruh tahapan proses produksi narkotika. Beragam peralatan dan bahan kimia pembuatan narkotika memenuhi sudut-sudut ruangan. Ditemukan persediaan sabu cair, tabung gas, kompor, alat penyinaran, mesin pendingin, timbangan, ember, hingga paket sabu yang sudah selesai dikemas dan siap diedarkan.

Dari operasi gabungan ini, petugas berhasil menyita sekitar 1,2 ton sabu dan mengamankan sejumlah orang yang berada di lokasi. Clandestine lab di Pidie ini diduga kuat terafiliasi dengan jaringan narkoba internasional lintas negara, melibatkan sindikat asal China, Malaysia, dan Indonesia.

Sebelum menuju Aceh, Jenderal Suyudi memimpin konferensi pers pengungkapan 1,16 ton obat keras jenis ketamin HCl senilai Rp 3,48 triliun dari kapal MT Global 168 di Dermaga Pelabuhan Pelindo Bandar Deli Belawan, Sumatera Utara. Dalam penindakan di Belawan, delapan kru kapal diamankan, terdiri dari tujuh warga negara Indonesia (WNI) dan satu warga negara asing (WNA) asal Taiwan.

“Ke-8 awak kapal ini terdiri dari 7 orang warga negara Indonesia ya, dan 1 orang warga negara asing ya, WNA asal Tiongkok, Taiwan. Mereka memiliki peran masing-masing dalam mengoperasikan kapal,” kata Jenderal Suyudi Ario Seto dalam jumpa pers di Dermaga Pelabuhan Pelindo Bandar Deli Belawan.

Suyudi merinci peran kedelapan awak kapal, termasuk nakhoda berinisial IC, Chief Officer berinisial RS, Kepala Kamar Mesin berinisial JA, dan Masinis 2 berinisial IAE. Tersangka JMR berperan sebagai Oiler atau juru minyak, sementara RF, DPB, dan YCY (WNA) bertindak sebagai juru mudi (Able Seaman).

Upaya penggagalan penyelundupan ini berawal dari deteksi intelijen terkait anomali rute pergerakan kapal MT Global 168 di perairan Selat Malaka yang melintasi Laut Andaman. Merespons hal tersebut, tim gabungan BNN, Bea Cukai, dan Bareskrim Polri bersiap di Kuala Tanjung pada Senin (19/10) dengan mengerahkan kapal patroli Bea Cukai BC 20006 serta KP Murai 4018 untuk melakukan intersepsi.

Kapal tersebut berhasil dicegat di perairan Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara, dan dikawal menuju dermaga Pelabuhan Belawan. Saat penggeledahan, petugas menemukan 58 karung berisi ketamin HCl seberat 1,16 ton, 1 unit kapal MT Global 168, serta 14 ponsel milik para tersangka.

Suyudi menegaskan bahwa rangkaian operasi besar di Belawan hingga penggerebekan lab narkoba di Pidie, Aceh, menunjukkan keseriusan aparat dalam memberantas sindikat narkoba transnasional. “Sejumlah barang bukti yang hari ini kita sita bukanlah sekadar angka pencapaian semata, melainkan jutaan nyawa generasi muda bangsa yang berhasil kita selamatkan. Untuk itu mari kita rapatkan barisan, bersama kita wujudkan Indonesia aman, tangguh, dan bersih dari narkoba,” imbuhnya.

Tinggalkan komentar