KRL Diwacanakan Sambung ke Serang-Merak, Warga Berharap Frekuensi Lebih Sering

Pemerintah Provinsi Banten tengah mengkaji kemungkinan perpanjangan jalur kereta listrik (KRL) dari Rangkasbitung hingga ke Serang, Cilegon, dan Merak. Rencana ini disambut antusias oleh masyarakat yang berharap adanya peningkatan layanan transportasi publik, terutama terkait frekuensi kedatangan kereta.

Saat ini, rute Merak-Serang-Rangkasbitung dilayani oleh Kereta Api (KA) Lokal yang masih menggunakan lokomotif. Jadwal perjalanan KA Lokal tergolong jarang, hanya tujuh kali dalam sehari dengan jeda waktu antar keberangkatan berkisar antara dua hingga empat jam. Kondisi ini seringkali membuat calon penumpang harus menunggu lama.

Presilia (22), seorang mahasiswi asal Tigaraksa yang kerap menggunakan kereta api untuk pulang-pergi, mengungkapkan apresiasinya terhadap wacana KRL. “Iya, sangat senang. Kalau menurut saya setuju sih, karena memang saya kalau ke mana-mana naik kereta. Soalnya kalau misalnya kereta ekonomi kan waktunya cukup jauh ya kalau nunggu,” ujarnya saat ditemui di Stasiun Kota Serang, Selasa (6/10/2026).

Ia menambahkan, KRL akan sangat membantu karena frekuensi kedatangannya yang lebih sering. “Tapi kalau misalnya KRL kan berapa menit sekali ada gitu. Jadi biar waktu nggak terlalu lama. Misal sekarang waktu kan sekitar jam 7, terus baru ada lagi jam 10. Cukup jauh waktunya,” imbuhnya. Presilia juga mengeluhkan perbedaan area naik dan turun antara KA Lokal dengan KRL di Stasiun Rangkasbitung, yang mengharuskannya berpindah tempat.

Pengalaman menunggu lama juga dialami Presilia ketika ia terlambat beberapa menit dari jadwal keberangkatan kereta di Stasiun Rangkasbitung. “Jadwal jam 4, pas sampai sana pas kereta berangkat. Ya jadinya nunggu lagi, kan kalau nunggu lagi, kereta ada lagi di jam 7 malam,” ceritanya.

Dukungan serupa datang dari Ridho (36), yang menyoroti masalah ketersediaan tiket KA Lokal. “Kalau Sabtu Minggu itu sering habis tiket. Kalau KRL kan nggak mungkin habis,” katanya. Ia bahkan pernah hampir ketinggalan kereta terakhir dari Rangkasbitung pada pukul 21.00 WIB, padahal KRL dari arah Tanah Abang masih beroperasi hingga larut malam.

Gubernur Banten, Andra Soni, secara aktif mendorong percepatan elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung-Merak. Ia menilai mobilitas masyarakat Banten yang tinggi membutuhkan dukungan transportasi yang terintegrasi dan efisien.

Menurut Andra Soni, jalur kereta api Rangkasbitung-Merak harus mampu menghubungkan berbagai simpul aktivitas secara efektif. “Sebagai daerah dengan mobilitas masyarakat yang tinggi, Banten membutuhkan sistem transportasi yang mampu menghubungkan seluruh simpul tersebut secara lebih efektif,” ucapnya saat Focus Group Discussion (FGD) Studi Kelayakan Elektrifikasi Jalur Kereta Api Rangkasbitung-Merak di Kota Serang, Jumat (2/10).

Data dari Dinas Perhubungan Provinsi Banten menunjukkan proyeksi peningkatan jumlah penumpang KRL Commuter Line lintas Tanah Abang-Rangkasbitung mencapai 77,5 juta orang pada tahun 2025 dan diprediksi melonjak menjadi 85 juta orang pada 2026. Tingkat keterisian pada jam sibuk bahkan sudah mencapai 161 persen, mengindikasikan perlunya peningkatan kapasitas infrastruktur.

Andra Soni juga memaparkan peran vital Kereta Api Lokal Commuter Rangkasbitung-Serang-Cilegon-Merak yang saat ini melayani sekitar 4,46 juta penumpang pada tahun 2025, dengan proyeksi naik menjadi 4,67 juta orang pada 2026. Tingkat keterisiannya mencapai 129 persen.

Namun, ia menyayangkan minimnya integrasi transportasi di Stasiun Rangkasbitung. Penumpang KRL dari arah Tanah Abang harus berganti moda ke KA Lokal untuk melanjutkan perjalanan ke Merak, begitu pula sebaliknya, yang menambah waktu tempuh dan ketidaknyamanan penumpang.

Tinggalkan komentar