Korupsi Berawal dari Kebiasaan Kecil, KPK Ingatkan Potensi Jadi “Monster”

JAKARTA – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Setyo Budiyanto mengingatkan bahwa praktik korupsi sering kali berawal dari hal-hal kecil yang dianggap lumrah atau biasa. Kebiasaan ini, jika dibiarkan, dapat berkembang menjadi masalah besar atau “monster” yang menggerogoti integritas.

Pernyataan tersebut disampaikan Setyo dalam acara Peluncuran Indeks Integritas Pendidikan Tahun 2026 yang mengusung tema ‘Membangun Pendidikan Antikorupsi, Mewujudkan Indonesia Berintegritas’ di Gedung KPK pada Selasa (6/10/2026). Menurutnya, ada beberapa permasalahan mendasar yang perlu dipahami terkait akar korupsi.

“Ada beberapa permasalahan yang kita juga harus pedomani, kita pahami Bapak Ibu semuanya, kadangkala bahwa kita menganggapnya ya bahwa korupsi ini berawal dari hal-hal yang kecil, gitu,” ujar Setyo dalam paparannya.

Ia mencontohkan berbagai tindakan kecil yang sering dianggap biasa, seperti praktik joki, mencontek, hingga kemudahan instan yang diperoleh melalui pembayaran. Menurut Setyo, praktik-praktik kecurangan ini perlu segera dibenahi.

“Bahkan untuk mencapai sebuah kemudahan, bayar,” tambah Setyo, merujuk pada cara-cara instan yang digunakan untuk mendapatkan keuntungan. “Kemarin kita monitor bersama, ada yang menggunakan pada saat seleksi itu ada yang menggunakan kamera, ada yang menggunakan orang lain, dan seterusnya. Dari tahun ke tahun masih ada, tapi saya percaya bahwa dari tahun ke tahun pun juga cara pembenahan yang sudah dilakukan pun juga sudah luar biasa.”

Setyo menegaskan bahwa jika kebiasaan-kebiasaan tersebut dibiarkan, maka akan menjadi masalah besar. Individu yang terbiasa dengan praktik tersebut tidak akan mampu lagi membedakan antara perlakuan baik dan buruk, benar atau salah.

“Nah, kalau kita biarkan ini jadi masalah besar. Bahkan saya mengutip istilahnya Prof Nasaruddin Umar, ini akan jadi monster ya, bukan hanya sekedar bermasalah di kemudian hari, tapi bisa jadi monster nantinya,” katanya. Ia menjelaskan lebih lanjut, “Kenapa jadi monster? Karena dia karakternya yang tadi disebutkan di slide sebelumnya nggak ada. Dia tidak tahu mana baik mana buruk, mana jahat mana baik dan seterusnya, yang dia tahu adalah tujuan ya, tanpa memperhatikan karakter kepribadian dan sebagainya. Nah ini yang akan membahayakan.”

Oleh karena itu, Setyo berharap agar upaya pemberantasan korupsi dapat dimulai dari ranah pendidikan, khususnya di ruang kelas. Ia menekankan pentingnya pencegahan ketimbang hanya mengandalkan penegakan hukum.

“Saya berharap bahwa pemberantasan tindak pidana korupsi ini kita awali dari ruang kelas. Bukan kemudian kita mengandalkan ada proses pemeriksaan di persidangan, bukan kemudian karena ada penegakan hukum, ada penindakan, dan lain-lain seperti itu, bukan seperti itu ya, karena sekali lagi kita tidak sedang bicara tentang penegakan hukum, tapi pure kita bicara tentang pencegahan,” bebernya.

Setyo meyakini bahwa keberhasilan dalam upaya pencegahan akan berdampak signifikan, bahkan dapat membalikkan fenomena “gunung es” korupsi yang selama ini terjadi. “Nah kalau ini bisa dimulai, bisa kita lakukan, saya yakin fenomena yang selama ini ada, yang orang bilang katanya gunung es yang ditangkap itu hanya yang permukaan saja tapi bawahnya lebih banyak, ini akan terbalik ya. Di atasnya lebih banyak yang baik, yang bagus, dibandingkan kemudian yang bermasalah,” tutupnya.

Tinggalkan komentar