Kolaborasi Internasional Pacu Ekowisata Pesisir Batam Lewat Penanaman Mangrove

JAKARTA – Rangkaian Summer Course 2026 yang digagas Kementerian Transmigrasi bersama Universitas Diponegoro (Undip) dan Technical University of Munich (TUM) Jerman, berfokus pada perencanaan transmigrasi transformatif menuju konsep hijau di Batam. Agenda ini berlanjut dengan aksi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di Tanjung Banon, Kecamatan Galang, Batam.

Pada hari keempat, para delegasi lintas disiplin ilmu melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat berupa penanaman bibit mangrove di kawasan pesisir Dermaga Kampung Nelayan Merah Putih. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkenalkan ekosistem pesisir, meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan, serta mendorong pengembangan ekowisata yang dikelola oleh masyarakat lokal.

Kegiatan penanaman mangrove ini mendapat sambutan positif dari delegasi TUM. Sandra Katharina Rubner menekankan fungsi ekologis mangrove yang krusial bagi keberlanjutan permukiman warga pesisir. “Sebelum penanaman, kami mendapat penjelasan mengenai peran mangrove yang mampu mengikat karbon dioksida dan menghasilkan oksigen lebih banyak dibanding hutan hujan. Selain melindungi garis pantai dari bahaya erosi dan abrasi, ekosistem mangrove ini juga dapat meningkatkan kualitas udara dan taraf hidup warga pesisir,” ujar Sandra.

Lebih lanjut, Vincent Luis Mai, delegasi Summer Course asal TUM, menilai kegiatan ini berpotensi besar untuk mendorong sektor pariwisata lokal. “Ini pengalaman pertama saya menanam mangrove dan prosesnya sangat menarik. Saya berharap pohon-pohon ini tumbuh subur hingga kelak menjadi daya tarik wisata yang memberi manfaat ekonomi serta lingkungan bagi masyarakat setempat,” tuturnya.

Perwakilan Universitas Diponegoro, Prof. Wiwandari Handayani, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari teori ke dalam aksi nyata. “Kita ingin membawa global perspective ke kawasan transmigrasi. Melalui kombinasi pengalaman masyarakat lokal, akademisi yang memahami kondisi Indonesia, serta mahasiswa internasional, kita dapat menghasilkan solusi yang lebih inovatif. Konsep Green Design yang dirancang tidak hanya berfokus pada fisik,” jelas Prof. Wiwandari.

Selain kegiatan lapangan, Summer Course 2026 juga mencakup sesi diskusi intensif dengan kelompok nelayan, petani, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sesi dialog ini menjadi wadah konfirmasi bagi peserta untuk memastikan rancangan konsep yang dibuat dapat diterima dan diimplementasikan di kawasan transmigrasi.

Summer Course 2026 memiliki empat fokus utama: Pertanahan dan Ekonomi, Pengelolaan Lanskap, Pengembangan Masyarakat dan Sosial, serta Rekayasa Lingkungan. Hasil kerja kelompok para delegasi akan dipamerkan dalam ekshibisi dan festival budaya pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Pengembangan kawasan pesisir melalui penanaman mangrove, penguatan ekowisata, dan pemberdayaan masyarakat sejalan dengan arahan pemerintah dalam mendorong pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan. Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan komitmen pemerintah untuk mengembangkan sektor kelautan dan perikanan melalui penguatan ekonomi biru, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menambahkan pentingnya penanaman mangrove di tengah tantangan perubahan iklim dan pemanasan global. Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara juga memperkuat arah kebijakan dalam menata wilayah serta membangun ekosistem ekonomi berkelanjutan di kawasan transmigrasi. “Tidak ada jalan lain selain menghadirkan sumber daya manusia unggul dalam transformasi transmigrasi. Harus ada banjir ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembangunan kawasan transmigrasi,” tutup Iftitah Sulaiman.

Tinggalkan komentar