JAKARTA – Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menjajaki kerja sama dengan China National Rice Research Institute (CNRRI), pusat penelitian pertanian padi nasional China, untuk meningkatkan hasil pertanian di wilayah transmigrasi Papua. Kunjungan delegasi Kementrans ke Hangzhou, China, pada Jumat (16/10/2026) menjadi langkah awal penjajakan kolaborasi tersebut.
Delegasi Kementrans, yang dipimpin oleh Staf Khusus Menteri Bidang Transformasi Digital Yoyo Budianto, disambut di Kantor Pusat CNRRI di Hangzhou. Mereka mendapatkan penjelasan mengenai sejarah, fokus penelitian, serta demonstrasi teknologi modern yang diterapkan di sana, mulai dari pengembangan varietas padi unggul, budidaya ramah lingkungan, hingga penggunaan drone untuk penyemprotan dan mesin untuk panen.
CNRRI, yang berada di bawah naungan Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS) dan Pemerintah Provinsi Zhejiang, telah beroperasi sejak 1989. Lembaga ini berfokus pada penelitian pengembangan varietas padi berproduktivitas tinggi dan tahan hama, genetika, bioteknologi, teknologi budidaya efisien, serta peningkatan kualitas beras.
Yoyo Budianto menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai swasembada pangan. Ia mengungkapkan bahwa Kementrans ingin menggandeng CNRRI untuk mengembangkan kawasan transmigrasi di Papua Selatan. “Kami datang ke sini, ke CNRRI, pusat pengembangan padi milik pemerintah Tiongkok, di mana sesuai dengan konsep transformasi transmigrasi yang digagas oleh Bapak Menteri Transmigrasi, kami datang ke sini untuk menindaklanjuti kolaborasi kami dengan CNRRI ini,” ujar Yoyo.
Sebelumnya, tim CNRRI telah mengunjungi kawasan transmigrasi di Salor, Papua Selatan, pada Maret tahun ini untuk mengambil sampel padi sebagai bahan penelitian awal. “Jadi pada bulan Maret tahun ini, CNRRI sudah datang ke kawasan transmigrasi di Papua untuk melakukan penelitian awal terkait bagaimana kondisi padi di sana dan apa yang bisa dikembangkan,” ungkap Yoyo.
Kunjungan ke markas CNRRI bertujuan untuk mempelajari secara langsung proses pengelolaan padi secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas tanah, pembibitan, penanaman, pengelolaan, pemanenan, hingga pascapanen. Yoyo menilai CNRRI telah memanfaatkan teknologi dengan sangat baik dalam pengembangan sektor pertanian, termasuk pengembangan lebih dari 170 varietas padi.
Pihak Kementrans berharap ilmu dan teknologi dari CNRRI dapat diterapkan di kawasan transmigrasi, terutama di Indonesia Timur, guna meningkatkan produksi dan kualitas padi. “Sehingga para petani nanti di Papua atau di kawasan transmigrasi lain bisa menghasilkan padi yang lebih banyak dan lebih berkualitas dengan jumlah lahan yang ada karena memanfaatkan teknologi dibantu para peneliti,” tambah Yoyo.
Hasil kunjungan ini akan dilaporkan kepada Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara untuk langkah pengembangan selanjutnya. Sebelumnya, Menteri Iftitah telah menerima masukan dari tim CNRRI pada 5 Maret lalu di Sentul, Bogor. Saat itu, Menteri Iftitah menyatakan kesiapan Indonesia dalam menyiapkan lahan dan tenaga kerja, sementara Tiongkok akan membantu dalam permodalan dan teknologi.
Tim peneliti CNRRI, dalam pertemuan sebelumnya, menilai potensi pertanian di Kawasan Transmigrasi Salor, Papua Selatan, sangat besar untuk pengembangan skala luas, khususnya komoditas padi. Peneliti CNRRI, Zhonghua Sheng, bahkan meyakini kerja sama Indonesia-Tiongkok dapat terjalin, namun diperlukan dukungan kebijakan dari Pemerintah Indonesia untuk mengundang perusahaan Tiongkok menanamkan modal di Papua.