Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengambil langkah strategis untuk memastikan ketersediaan pasokan air bagi 3.330 hektare lahan pertanian di Jawa Timur yang terdampak kemarau panjang akibat fenomena El Nino. Berbagai upaya, mulai dari pengerahan pompa, penyediaan sumur bor, hingga normalisasi saluran irigasi, terus digalakkan.
Menteri PUPR, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen mendorong seluruh upaya guna menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian. Tujuannya adalah agar produktivitas petani tidak mengalami penurunan meskipun dihadapkan pada kondisi kekeringan.
“Kita harus menjaga agar produktivitas petani tidak turun meskipun dalam kondisi kekeringan,” ujar Dody dalam keterangan tertulisnya, Senin (5/10/2026).
Berdasarkan data dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas per tanggal 3 Oktober 2026, tercatat ada 3.330 hektare lahan pertanian di berbagai wilayah Jawa Timur yang memerlukan dukungan pengairan. Dukungan ini vital untuk menjaga produktivitas tanaman yang ada serta mendukung kelancaran musim tanam.
Luasan lahan tersebut terbagi menjadi dua kategori. Pertama, 2.592 hektare lahan yang membutuhkan pasokan air tambahan demi menjaga produktivitas tanaman. Kedua, 738 hektare lahan yang memerlukan air untuk mendukung pelaksanaan musim tanam.
Untuk mengatasi kebutuhan tersebut, BBWS Brantas telah menyiapkan 73 paket penanganan yang berfokus pada penguatan pasokan air. Program ini meliputi pemeliharaan saluran irigasi, penambahan debit air atau pengaturan jadwal giliran air, pengoperasian pompa air, serta pembangunan sumur bor dalam dan dangkal.
Salah satu lokasi penanganan berada di Desa Pamorah, Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan. Kementerian PUPR memperbaiki dua unit mesin pompa dengan kapasitas 175 liter per detik yang sebelumnya sudah lama tidak beroperasi. Perbaikan ini bertujuan memperkuat pasokan air untuk Daerah Irigasi (DI) Dam Pamorah yang memiliki cakupan layanan sekitar 250 hektare.
Di Kabupaten Trenggalek, tepatnya di Desa Ngadisuko, Kecamatan Durenan, satu unit pompa turbin berkapasitas 30 liter per detik dikerahkan. Pompa ini difungsikan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bagi lahan padi dan palawija seluas 20 hektare.
Intervensi serupa juga dilakukan di Kabupaten Tulungagung, Desa Bangunmulyo, Kecamatan Pakel. Satu unit pompa turbin berkapasitas 30 liter per detik diterjunkan untuk membantu pengairan lahan padi dan palawija seluas 20 hektare yang memerlukan pasokan air ekstra.
Sementara itu, di Kabupaten Sidoarjo, Kementerian PUPR mengatasi keterbatasan pasokan air di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi. BBWS Brantas melakukan pengeboran dua titik sumur bor dangkal sebagai sumber air alternatif bagi lahan pertanian yang belum optimal teraliri air.
Penanganan di Balongdowo dilakukan karena debit aliran dari Dam Ngaban mengalami penurunan, sehingga air tidak sampai ke lahan di ujung jaringan irigasi. Dengan menyediakan sumber air alternatif, Kementerian PUPR berupaya memastikan kebutuhan pengairan lahan pertanian terpenuhi.
Melalui berbagai intervensi ini, Kementerian PUPR terus memperkuat layanan irigasi dan menjaga pasokan air bagi lahan pertanian di Jawa Timur. Langkah ini merupakan bagian integral dari upaya mendukung swasembada pangan nasional, dengan memastikan infrastruktur sumber daya air berfungsi optimal dan kebutuhan petani tetap tercukupi di tengah tantangan kemarau panjang.