Keluhan psikologis ibu hamil dan menyusui, mulai dari rasa cemas hingga kelelahan, seringkali tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Padahal, kondisi mental ibu memiliki peran krusial dalam memengaruhi tumbuh kembang bayi.
Menyadari hal ini, Tim 4 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) menggelar pelatihan bagi para kader posyandu di Kampung Rakyat Mulia, Distrik Prafi, Manokwari. Pelatihan ini bertujuan membekali para kader dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali kondisi psikologis ibu hamil dan menyusui. Selain itu, mereka juga diajarkan cara berkomunikasi dan mendekati lansia serta warga yang selama ini enggan memanfaatkan layanan posyandu.
Rianti, salah seorang kader posyandu di Kampung Rakyat Mulia, merasakan langsung manfaat dari pelatihan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa kader kini memiliki bekal cara berkomunikasi yang lebih baik, terutama dalam mendengarkan keluh kesah masyarakat.
“Kami mendapatkan ilmu tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan lansia, kemudian bagaimana cara mengajak orang tua yang tidak pernah datang ke posyandu. Dengan kunjungan ke rumah, kami berkomunikasi dengan menerapkan materi-materi yang sudah kami dapat itu. Ternyata luar biasa, kami bisa mendengarkan keluh kesah masyarakat,” ujar Rianti dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10/2026).
Rianti menekankan pentingnya kesehatan psikologis ibu yang setara dengan kesehatan fisik. Menurutnya, kondisi mental ibu yang stabil sangat memengaruhi kemampuannya dalam merawat anak, yang pada gilirannya akan menghasilkan generasi yang sehat secara jasmani dan rohani.
“Kesehatan psikologis itu tidak kalah penting dengan kesehatan fisik. Dengan sehat jasmani dan rohani seorang ibu, pasti ibu itu akan merawat anaknya dengan baik, maka akan tumbuh anak yang sehat jasmani dan rohaninya,” lanjutnya.
Prof. Endang Retno Surjaningrum, Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot Unair, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan signifikansi kesehatan mental ibu hamil dan menyusui. Beliau menegaskan bahwa kondisi mental ibu yang positif berkorelasi langsung dengan kesehatan bayi.
“Kalau ibu hamil dan ibu menyusui kondisi kesehatan mentalnya positif, maka itu juga akan menghasilkan bayi yang lebih baik,” ujarnya.
Program pelatihan ini direncanakan akan menjangkau tujuh kampung di wilayah Manokwari. Para kader akan dibekali kemampuan untuk mendeteksi tanda-tanda awal masalah psikologis pada ibu melalui meja konseling yang tersedia saat posyandu beroperasi.
Tim Ekspedisi Patriot juga menjalin kerja sama dengan puskesmas setempat. Kolaborasi ini diharapkan memastikan ibu yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memadai.
Upaya ini sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap kesehatan ibu dan anak, termasuk di wilayah terpencil. Presiden Prabowo Subianto pernah menyatakan komitmennya untuk memastikan ibu tidak kehilangan nyawa karena akses kesehatan yang jauh.
“Tidak boleh lagi seorang ibu kehilangan nyawa karena rumah sakit terlalu jauh,” kata Presiden Prabowo dalam Penyampaian RUU APBN 2027, Jumat (14/8).
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga menyoroti kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama dalam setiap program pembangunan.
“Pada akhirnya, semua bergantung pada kualitas SDM kita. Jika unggul dan berintegritas, maka sumber daya yang kita miliki dapat dikelola sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat,” kata Menko AHY dalam Seminar Nasional di Universitas Pamulang, Senin (25/5).
Sementara itu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menekankan pentingnya pengelolaan potensi warga di kawasan transmigrasi, termasuk peran kader posyandu.
“Bila kita mampu mengelola talenta bangsa dengan baik, saya yakin Indonesia akan menjadi negara maju yang dibangun oleh putra-putri terbaiknya sendiri,” ujar Menteri Iftitah saat menutup Pembekalan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Bogor, Senin (27/07).