Inovasi Padi Hemat Air dari IPB untuk Petani Salor Hadapi Musim Tanam Tersulit

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Pertanian Bogor bersama Kementerian Transmigrasi (Kementrans) meluncurkan program uji coba varietas padi unggul yang hemat air di Kawasan Transmigrasi Salor. Program ini bertujuan untuk membantu para petani menghadapi musim tanam ketiga yang kerap kali terancam gagal panen akibat kekeringan dan intrusi air laut.

Dua varietas padi yang diperkenalkan adalah IPB 9G dan IPB 15S. Varietas ini ditanam di lahan demplot seluas 4 hektare di Distrik Kurik sejak 21 September 2026. IPB 9G dirancang khusus untuk lahan kering, sehingga membutuhkan lebih sedikit air dan memiliki masa tanam yang lebih singkat. Kondisi ini dinilai sangat cocok untuk mengatasi tantangan pada musim tanam ketiga di Salor.

Teguh, seorang petani dari Kampung Harapan Makmur, menyambut baik inovasi ini. “Semoga varietas ini bisa beradaptasi baik di Kawasan Transmigrasi Salor,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026). Ia berharap padi varietas baru ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan varietas Inpari 32 yang selama ini ditanam petani Salor.

Saat ini, petani Salor rata-rata menghasilkan 5-6 ton gabah kering panen per hektare dengan varietas Inpari 32. Sementara itu, potensi hasil IPB 15S diklaim mencapai 10,16 ton per hektare, dan IPB 9G sebesar 9,09 ton per hektare. Kedua varietas ini merupakan jenis padi pulen dengan umur panen yang lebih pendek. IPB 15S dapat dipanen dalam 100-105 hari setelah semai, sedangkan IPB 9G membutuhkan waktu 110-113 hari.

Sebanyak 240 kilogram benih ditanam dalam program ini, dengan rata-rata 60 kilogram per hektare. Pendampingan dari tim TEP tidak hanya sebatas penanaman, tetapi juga mencakup pengelolaan budi daya, pengendalian hama dan penyakit terpadu, serta pemanfaatan mekanisasi pertanian.

Program ini menargetkan 50 hingga 100 petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan Makmur, yang membawahi 12 kelompok tani di kawasan tersebut. Panen perdana diperkirakan akan dilaksanakan pada pekan kedua Januari 2027, sesuai dengan siklus umur tanaman.

Penanaman perdana ini dihadiri oleh Kepala Distrik Kurik Mariana Belekubun, Kepala Kampung Harapan Makmur, perwakilan Balai Benih Induk, penyuluh pertanian, aparat setempat, serta para petani. Mariana Belekubun menyatakan dukungan penuhnya terhadap kegiatan yang dilaksanakan di wilayahnya. “Saya selaku Kepala Distrik mendukung penuh semua kegiatan yang berada di wilayah Distrik Kurik. Semoga seluruh proses kegiatan berjalan lancar dan memberikan hasil yang berlimpah,” katanya.

Upaya penguatan produksi pangan di kawasan transmigrasi ini sejalan dengan program Asta Cita kedua Presiden Prabowo Subianto, yang mengutamakan swasembada pangan sebagai pilar kemandirian bangsa. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menekankan pentingnya ketahanan pangan yang tidak terlepas dari ketersediaan air dan infrastruktur pendukungnya.

“Kalau kita ingin mencapai swasembada atau ketahanan pangan, energi, air, water energy and food, menurut saya kita harus semakin memperkuat infrastruktur yang terkait dengan itu semuanya,” ujar Agus Harimurti Yudhoyono dalam kesempatan terpisah.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menambahkan bahwa pendampingan berbasis riset merupakan salah satu alasan utama Kementerian Transmigrasi aktif di kawasan transmigrasi. “Para Patriot adalah mata dan telinga kita di lapangan. Hasil kerja mereka akan menjadi salah satu fondasi penting bagi kebijakan dan pembangunan kawasan transmigrasi ke depan,” tutupnya.

Tinggalkan komentar