Guru Inisiatif Program Makan Bergizi Gratis di Sekolah Pelosok Sulteng Berkat Donasi Medsos

MUHAMMAD Najib, seorang guru di Sekolah Dasar (SD) Kecil Terpencil Ogolau di Desa Tibo, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, berinisiatif menciptakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara mandiri. Program ini lahir dari keprihatinan melihat kondisi siswa di sekolah yang lokasinya sulit dijangkau dan belum tersentuh bantuan.

Setiap hari, memasuki jam 09.00 hingga 10.00 Wita, banyak siswa di sekolah tersebut mulai kehilangan fokus belajar bahkan meminta pulang karena rasa lapar. Najib menuturkan bahwa berdasarkan kunjungannya ke rumah-rumah siswa, lebih dari 90 persen keluarga mereka tergolong prasejahtera dan banyak yang tidak sempat sarapan akibat kendala bahan makanan.

“Di jam 09.00 atau 10.00 itu sudah banyak yang mengeluh, ‘kapan pulang Pak Guru, kami lapar.’ Saat saya berkunjung ke rumah-rumah siswa, mayoritas memang berada di kategori prasejahtera, di atas 90 persen. Banyak yang tidak sarapan karena terkendala bahan makanan,” ujar Najib kepada detikcom, Kamis (15/10/2026).

Kondisi ini membuat proses belajar mengajar di atas pukul 09.00 Wita menjadi sangat sulit, meskipun jam pelajaran dijadwalkan selesai pukul 11.30 Wita. Para murid sudah tidak mampu lagi menerima materi pembelajaran dengan baik.

Ide MBG mandiri dengan biaya Rp 5.000 per porsi ini bermula dari hal sederhana. Najib mulai dengan membagikan buah sirsak yang dipetik dari belakang sekolah kepada para siswa. Momen saat anak-anak menikmati buah tersebut, yang ia sebut sebagai Makan Buah Gratis (MBG), kemudian diunggah ke media sosial.

Unggahan tersebut menarik perhatian para donatur. “Awal mulanya kami dapat buah sirsak di belakang sekolah. Setelah makan sirsak, kami upload dan nyebutnya Makan Buah Gratis atau MBG. Dari situ ada beberapa donatur yang bilang, ‘nanti saya modalin untuk makanan’. Itulah awal mula kami buat program MBG Rp 5.000 ini,” jelasnya.

Dengan anggaran terjangkau Rp 5.000 per porsi, menu yang disajikan untuk 52 murid aktif di sekolah itu meliputi nasi kuning, mi, sambal, hingga sepotong ikan. Pembuatan makanan ini sepenuhnya dipercayakan kepada pemilik warung lokal yang berjarak sekitar 3 kilometer dari sekolah, meskipun akses jalan tergolong sulit karena harus menyeberangi tiga sungai.

Najib menambahkan, ketersediaan bahan baku di wilayah terpencil menjadi tantangan tersendiri sehingga program ini belum bisa dilaksanakan setiap hari. Pemilik warung harus menunggu hari pasar setiap Selasa atau melakukan perjalanan ke pusat kecamatan untuk berbelanja stok pangan.

Meskipun belum berjalan setiap hari dan masih mengandalkan donasi dari para pengikutnya di Instagram dan TikTok, program MBG ini telah membawa perubahan yang sangat signifikan. Angka kehadiran siswa meningkat drastis, dan keluhan lapar di tengah jam pelajaran kini tidak terdengar lagi.

Tinggalkan komentar