Guru Honorer di Banjarmasin Meninggal Akibat Asma Kambuh di Tengah Kabut Asap

BANJARMASIN – Lisna, seorang guru honorer di SDN Tanjung Pagar 3 Banjarmasin, meninggal dunia pada Minggu (27/9/2026) malam, setelah mengeluhkan sakit dada yang diduga dipicu oleh kabut asap tebal yang menyelimuti kota tersebut. Kondisi ini diduga memperparah penyakit asma yang dideritanya.

Marhamah, ibu kandung Lisna, menceritakan bahwa asma putrinya sering kambuh sejak satu bulan terakhir, bertepatan dengan meningkatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Banjarmasin. Meskipun Dinas Pendidikan telah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ), Lisna tetap harus datang ke sekolah untuk mengajar.

“Setiap hari dia pakai uap oksigen itu, setiap pulang mengajar dia minta diuap itu. Karena asmanya kambuh,” tutur Marhamah dengan berlinang air mata. Ia menjelaskan bahwa lingkungan sekolah Lisna terpapar kabut asap yang lebih pekat dibandingkan wilayah lain, yang diyakininya menjadi penyebab seringnya asma putrinya kambuh.

Kondisi kesehatan Lisna terus menurun selama seminggu sebelum meninggal dunia, bahkan ia sampai mengambil libur karena sakit dan digantikan sementara oleh guru lain. Kepergian Lisna terasa begitu mendadak. Sehari sebelum meninggal, Lisna masih sempat menemani ibunya dan cucu.

Namun, pada Minggu malam sekitar pukul 21.00 Wita, Lisna mengeluh sakit pada bagian dada. Pertolongan berupa uap nebu yang biasa digunakannya tidak juga membaikkan kondisinya, bahkan rasa sakit di dada semakin memberat.

Marhamah berharap perhatian pemerintah daerah terhadap kesehatan para pengajar dan penanganan masalah kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan dapat segera teratasi. “Kami berharap karhutla ini bisa segera tertangani,” pintanya.

Tinggalkan komentar