Gotong Royong Perbaiki Jembatan Lapuk, Akses Petani Kopi Mamasa Terbuka

Mamasa – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Brawijaya bekerja sama dengan masyarakat setempat telah berhasil memperbaiki jembatan kayu yang lapuk di Kawasan Transmigrasi UPT Rano, Desa Mehalaan Barat, Kabupaten Mamasa. Perbaikan jembatan ini dilakukan untuk membuka akses utama warga, terutama para petani kopi, menuju fasilitas pengeringan hasil panen.

Kegiatan perbaikan yang berlangsung selama lima hari, dari 6 hingga 10 September 2026, melibatkan sekitar 30 warga dan tim TEP. Mereka bahu-membahu mengganti papan jembatan sepanjang lima meter yang sudah rapuh dengan material kayu yang lebih tebal dan kuat. Selain itu, tim juga membuka jalan baru sepanjang 100 meter yang mengarah langsung ke lokasi rumah pengering kopi.

Jembatan yang sebelumnya dibangun oleh pemerintah pada tahun 2018 ini merupakan jalur vital bagi 10 kepala keluarga, anak-anak yang bersekolah di SD Negeri 009 Rano, serta akses menuju Musala Darul Muhlisin. Kondisi jembatan yang menurun drastis akibat faktor cuaca, aliran air, dan aktivitas warga sehari-hari, sebelumnya hanya bisa diperbaiki secara swadaya dengan peralatan seadanya.

Ketua Gapoktan Kopi Alam Rano, Solikhin, menjelaskan pentingnya perbaikan infrastruktur ini. “Jalan dan jembatan ini urat nadi kita bersama, terutama buat para petani kopi. Kalau aksesnya bagus dan aman, mobilitas warga jadi lancar dan pengangkutan hasil panen menuju tempat pengeringan juga jauh lebih mudah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/10/2026).

Bagi petani kopi di Rano, akses menuju rumah pengering sangat krusial untuk meningkatkan kualitas panen. Selama ini, kopi tradisional dijemur menggunakan terpal di pinggir jalan. Ketika hujan turun, kopi yang sudah dijemur bisa kembali basah, menurunkan mutu, dan berdampak pada harga jualnya.

Rumah pengering kopi yang sedang dalam tahap pembangunan ini dirancang dengan teknologi efek rumah kaca dan diharapkan dapat dioperasikan langsung oleh warga. Pembukaan jalan baru mempermudah pengangkutan material pembangunan fasilitas tersebut.

Gapoktan Kopi Alam Rano, yang beranggotakan 40 petani dan baru dikukuhkan pada 15 September 2026, memiliki harapan besar agar fasilitas ini mampu mendongkrak kualitas kopi mereka. Dengan demikian, petani tidak lagi terpaksa menjual kopi dalam kondisi basah dengan harga yang rendah.

Solikhin menambahkan bahwa manfaat dari kegiatan gotong royong ini tidak hanya sebatas perbaikan infrastruktur dan dukungan bagi usaha tani. Kegiatan ini juga berhasil mempererat hubungan antara masyarakat lokal dan para transmigran. “Rasa kekeluargaan kami di transmigrasi dan kepedulian antarwarga, antara lokal dan Jawa, itu hidup kembali. Pekerjaan yang tadinya kelihatan berat dan mustahil kalau dikerjakan sendiri, ternyata kalau dipikul sama-sama bisa cepat selesai,” tuturnya.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya, Bambang Susilo, menyatakan bahwa keterlibatan aktif warga menjadi sumber semangat bagi timnya dalam menjalankan program pendampingan. “Kerja keras gotong royong memperbaiki infrastruktur jembatan, jalan, dan infrastruktur lainnya demi lancarnya program itu memberikan semangat luar biasa kepada kami, Tim Ekspedisi Patriot,” ungkap Bambang.

Kolaborasi di Rano ini menjadi bukti nyata bagaimana perbaikan infrastruktur sederhana dapat mendukung pengembangan potensi ekonomi sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di kawasan transmigrasi. Semangat ini sejalan dengan arah Transformasi Transmigrasi yang ditekankan oleh Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. “Kementerian Transmigrasi bukan lagi sekadar memindahkan penduduk. Kita membangun peradaban dan memindahkan kehidupan. Karena itu kita harus memiliki cultural attachment,” jelas Iftitah saat pembekalan TEP 2026 di Bogor, Senin (27/7).

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan pentingnya sumber daya manusia yang kompeten dalam mengelola potensi lokal. “Pada akhirnya, semua bergantung pada kualitas SDM kita. Jika unggul dan berintegritas, maka sumber daya yang kita miliki dapat dikelola sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat,” kata AHY dalam Seminar Nasional di Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Senin (25/5).

Tinggalkan komentar