Bogor – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) memulai rangkaian Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026-2027 di Kabupaten Bogor melalui kegiatan Sangitaloka. Festival ini bertujuan menjadi ruang pertemuan bagi musik tradisi, pengetahuan, komunitas, seniman, dan masyarakat, serta akan digelar di 10 kota.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang membuka festival tersebut menjelaskan bahwa FMTI 2026 mengusung tema ‘Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara’. Kabupaten Bogor dipilih sebagai lokasi pembuka untuk mempertemukan beragam musik tradisi dari seluruh penjuru Indonesia.
“Kita harus hadir di berbagai lokus, tempat, yang sekarang ini memiliki banyak persaingan dengan berbagai genre musik yang ada di Indonesia dan di dunia. Merajut bayang-bayang berarti juga mempertemukannya, menenun menjadi satu kain yang dapat kita lihat dan rawat bersama,” ujar Fadli dalam keterangan tertulis, Minggu (4/10/2026).
Fadli menyoroti kekayaan musik tradisi yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Ia menyebutkan contoh seperti Didong di Dataran Tinggi Gayo, Dol di Bengkulu, Talempong di Tanah Datar, Gendang Beleq di Lombok, Bundengan di Wonosobo, dan Angklung Gubrag di Bogor. Menurutnya, semua musik tradisi ini tumbuh dan bertahan dalam ekosistem kesenian masyarakat karena dijaga oleh komunitasnya sendiri.
Rangkaian FMTI di Kabupaten Bogor secara spesifik mengangkat tema ‘Bambu dan Bunyi Ritus’. Tema ini dipilih karena kedekatan bambu dengan kehidupan masyarakat Sunda, mencakup aspek sosial, lingkungan, simbol, dan kebudayaan. Tema tersebut juga merefleksikan hubungan manusia dengan alam dan kebudayaan melalui bunyi yang dihasilkan oleh bambu.
“Bunyi yang lahir dari bambu membawa cerita tentang hubungan manusia dengan alam dan kebudayaannya. Musik adalah jiwa budaya dan suara zaman denyut nadi kehidupan bangsa,” jelas Fadli.
Lebih lanjut, Fadli menekankan bahwa musik tradisi tidak hanya perlu dijaga dan dilindungi, tetapi juga dikembangkan melalui kreasi dan inovasi baru. Ia juga mendorong pemanfaatan musik tradisi sebagai ekonomi budaya dan industri budaya agar memberikan manfaat ekonomi langsung bagi para pelakunya.
“Jadi ini yang harus kita jaga bersama. Bukan hanya kita jaga dan lindungi, lebih dari itu, harus kita kembangkan dengan kreasi-kreasi baru, inovasi-inovasi baru. Dan kemudian kita manfaatkan menjadi ekonomi budaya, menjadi industri budaya, supaya apa yang menjadi modal budaya kita itu, menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi ekonomi masyarakat pelakunya,” tegas Fadli.
Deden Fahmi Fadilah, Asisten PIC Lokal, menambahkan bahwa nama Sangitaloka dan tema ‘Bambu dan Bunyi Ritus’ diharapkan dapat menjadi ruang pelestarian, apresiasi, dan kreasi yang bermakna dan berkelanjutan bagi para pelaku musik tradisi di Kabupaten Bogor dan Jawa Barat.
Festival ini juga menampilkan berbagai kesenian seperti Jagat Layung, Kalingga, Gamelan Cibatokan, Angklung Gubrag Dogdog Lojor, Bilik Jasinga, Gamelan Ajeng, Bajidoran, serta menampilkan bintang tamu Rita Tila.
Dalam kesempatan tersebut, FMTI juga memberikan penghargaan kepada Aki Jatnika dan Endo Suanda sebagai Penggerak Ekosistem Musik Tradisi, Ariyansyah atau Ki Jawer sebagai Penjaga Musik Nusantara, dan Lawe Samagaha sebagai Penggerak Tata Kelola FMTI.