DPR Desak Pemerintah Ambil Sikap Atas Ancaman Houthi ke Makkah

JAKARTA – Serpihan rudal kelompok Houthi yang berhasil dicegat oleh Arab Saudi dilaporkan jatuh berjarak 20 kilometer dari Masjidil Haram, Makkah. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, terkait nasib warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Arab Saudi, termasuk para jemaah umrah.

“Keselamatan warga sipil dan keamanan tempat-tempat suci harus dihormati. Setiap tindakan yang berpotensi membahayakan masyarakat serta memperluas konflik di kawasan perlu dihentikan,” ujar Dave kepada wartawan, Senin (25/10/2026).

Dave Laksono mendorong Pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap tegas melalui jalur diplomasi guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut. Menurutnya, Indonesia memiliki peran penting untuk menyuarakan penghormatan terhadap kedaulatan negara, perlindungan warga sipil, serta penyelesaian konflik yang harus mengacu pada hukum internasional.

“Upaya ini dapat dilakukan melalui komunikasi bilateral dan forum multilateral, termasuk PBB dan Organisasi Kerja Sama Islam,” jelasnya lebih lanjut.

Ia juga meminta Pemerintah Indonesia untuk terus memantau perkembangan situasi keamanan di Arab Saudi demi melindungi WNI. Penting untuk diingat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah jemaah umrah terbanyak di Arab Saudi. Selain itu, terdapat pula ratusan ribu WNI yang bekerja, tinggal, atau menempuh pendidikan di sana.

“Koordinasi antara Kementerian Luar Negeri dan perwakilan Indonesia di kawasan perlu berjalan optimal agar informasi keamanan tersampaikan dengan baik dan langkah perlindungan dapat dilakukan sesuai kebutuhan,” tegas Dave.

Senada dengan Dave, Anggota Komisi I DPR, Oleh Soleh, juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas serangan Houthi ke wilayah Arab Saudi. Ia mendesak Pemerintah Indonesia untuk berperan aktif dalam upaya menghentikan perang tersebut.

“Saya sangat prihatin dengan serangan kelompok Houthi ke wilayah Arab Saudi. Konflik bersenjata seperti ini harus segera dihentikan karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pihak-pihak yang bertikai, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat sipil,” kata Oleh.

Oleh Soleh menilai bahwa Indonesia memiliki kepentingan strategis untuk turut serta dalam penyelesaian konflik di kawasan Timur Tengah. Ia menekankan bahwa Indonesia tidak seharusnya hanya bersikap sebagai penonton.

“Indonesia jangan hanya menjadi penonton. Pemerintah perlu aktif membangun komunikasi dengan negara-negara terkait dan menggalang dukungan internasional agar Houthi dan Arab Saudi menghentikan serangan. Kita harus mengedepankan dialog dan mencari jalan keluar yang damai,” tegasnya.

Ia turut mengingatkan bahwa konflik tersebut berpotensi membahayakan warga WNI yang berada di Arab Saudi. Oleh Soleh menekankan bahwa keselamatan WNI adalah prioritas utama.

“Jangan sampai konflik bersenjata ini membahayakan jemaah umrah kita. Masyarakat Indonesia yang datang ke Tanah Suci harus bisa menjalankan ibadah dengan aman dan tenang. Karena itu, penghentian serangan menjadi hal yang sangat penting,” katanya.

Sebelumnya, otoritas pertahanan sipil Arab Saudi sempat merilis peringatan ‘potensi bahaya’ untuk empat provinsi di wilayah barat, termasuk Makkah, pada Sabtu (24/10) waktu setempat. Alasan spesifik peringatan tersebut tidak diungkapkan ke publik. Peringatan yang juga mencakup Jeddah, Taif, dan Yanbu itu dicabut hanya beberapa menit setelah dirilis, dengan instruksi kepada warga untuk segera menuju tempat aman terdekat.

Insiden ini menambah daftar ketegangan di kawasan. Pada Rabu (21/10), Koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan bahwa pertahanan udara mereka telah mencegat dan menghancurkan setidaknya lima drone yang mengarah ke Wilayah Timur Saudi dan kota suci Madinah. Kejadian terbaru ini mengkonfirmasi bahwa serpihan rudal Houthi yang berhasil dicegat jatuh di Wadi Al-Mughammas, 20 kilometer dari Masjidil Haram.

Tinggalkan komentar