Jakarta – Daging buah pala yang sebelumnya terbuang percuma kini memiliki nilai tambah setelah diolah menjadi sirup dan teh rempah. Inisiatif ini digagas oleh Mama-Mama di kampung Weri dan Saharey, yang mendapatkan pelatihan dari Tim 2 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (UNHAS) untuk meningkatkan pendapatan mereka.
Bagi warga Kampung Weri dan Saharey, daging buah pala yang membungkus biji dikenal sebagai ‘kulit’. Wantamo, warga Kampung Saharey yang berasal dari Buton, mengungkapkan keprihatinannya atas banyaknya pala yang terbuang sia-sia selama ini. “Kalau kulitnya ini, dibuang saja di bawah pohon. Saya sendiri belum tahu manfaatnya ini mau bikin apa, tidak tahu,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2026).
Harapan besar juga disampaikan oleh Marlin Kolatfeka, salah satu ibu di Kampung Weri. “Saya di sini berharap, kami ibu-ibu Weri, ketika kakak-kakak sudah pulang, kami bisa melanjutkan usaha ini untuk kehidupan kami,” katanya. Marlin juga menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Transmigrasi RI (Kementrans) atas pengiriman mahasiswa ke kampung mereka yang terpencil.
Ketua Tim 2 Ekspedisi Patriot UNHAS, Prof Makkarennu, PhD, menjelaskan bahwa program ini berlandaskan pada prinsip ‘satu pohon banyak manfaat’. Tujuannya adalah mengolah bagian pala yang selama ini terbuang, khususnya daging buahnya, menjadi produk yang memiliki nilai jual. “Masyarakat di sana memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada hanya sekadar menjual biji pala,” tegas Prof Makkarennu.
Tim 2 Ekspedisi Patriot UNHAS membimbing warga secara bertahap dalam pembuatan sirup dan teh rempah dari daging buah pala. Pelatihan mencakup pembentukan kelembagaan, teknik produksi, pengendalian mutu, hingga strategi pengemasan dan pemasaran.
Pelatihan pembuatan sirup pala menjadi prioritas awal karena bahan dan metodenya lebih mudah dipahami oleh warga, diikuti dengan pelatihan teh rempah. Sekitar 20 mama-mama dari Kampung Weri dan Saharey berpartisipasi dalam pelatihan ini, didampingi oleh LSM Wewo Lestari yang memiliki rekam jejak pengalaman dalam pendampingan pengolahan pala.
Antusiasme peserta pelatihan terlihat jelas. Mereka bahkan mulai mempersiapkan bahan baku secara mandiri dan berencana untuk mengembangkan produk mereka sendiri di kampung masing-masing setelah musim panen pala tiba pada pertengahan Oktober. Setiap kampung pun telah menyiapkan nama merek unik untuk produk sirup dan teh mereka.
Langkah Tim UNHAS ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang mendorong peningkatan nilai tambah produk pertanian rakyat melalui pengolahan, bukan sekadar penjualan bahan mentah. “Kita tidak mau sekadar jual bahan baku. Kita mau olah turunan-turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia,” ujar Presiden Prabowo.
Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI (Menko Infra), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan pentingnya membangun ekosistem ekonomi bagi warga kawasan transmigrasi. “Pembangunan kewilayahan yang kita lakukan tidak hanya sebatas infrastruktur fisik, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi masyarakatnya melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi yang tepat guna,” jelas AHY.
Menanggapi hal tersebut, Mentrans M Iftitah Sulaiman Suryanagara menilai bahwa pendampingan semacam ini mampu mengungkap potensi warga yang selama ini terabaikan dan dapat menjadi sumber penghasilan baru. “Segala sesuatu yang dinilai oleh masyarakat biasa tidak ada harganya, oleh orang-orang yang berilmu, berpengetahuan bisa dibantu untuk menghasilkan sesuatu produk menjadi uang,” pungkasnya.