Anggota Satpol PP Terluka Parah Akibat Bentrokan dengan Pekerja Proyek di Jaksel

Jakarta – Seorang anggota Satpol PP DKI Jakarta mengalami luka serius dan membutuhkan enam jahitan setelah diserang oleh sekelompok pekerja proyek di area Kolam Renang Bulungan, Jakarta Selatan. Peristiwa tragis ini terjadi pada Minggu (11/10) malam, saat petugas gabungan sedang melakukan penertiban parkir liar dan pedagang kaki lima (PKL).

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengonfirmasi kejadian tersebut berdasarkan laporan dari Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Satriadi Gunawan. Menurutnya, petugas Satpol PP yang terluka telah mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Kelurahan Selong.

Insiden bermula ketika petugas Satpol PP bersama Dinas Perhubungan (Dishub) melakukan penertiban rutin. Petugas Dishub sempat mengambil tindakan terhadap kendaraan yang parkir sembarangan, termasuk mencabut pentil ban untuk mencegah penggunaan lahan parkir liar.

Namun, situasi berubah memanas ketika sejumlah pekerja proyek di lokasi tersebut diduga melakukan provokasi. Ketegangan meningkat hingga memicu bentrokan fisik antara petugas dan para pekerja.

“Ketika dilakukan penertiban di Kolam Renang Bulungan di daerah itu, kemudian bersama-sama dengan Dinas Perhubungan melakukan penertiban, mencabut pentil ban supaya orang tidak parkir sembarangan,” ungkap Pramono Anung.

“Tetapi dalam suasana itu kemudian ada yang memprovokasi, terutama para pekerja yang ada di tempat itu. Akibat provokasi itu, kemudian ada bentrokan awal antara Dishub dengan para pekerja yang ada,” sambungnya.

Pramono menjelaskan bahwa petugas Dishub kemudian mundur dari lokasi. Namun, beberapa orang mengejar petugas, termasuk seorang anggota Satpol PP yang menjadi korban pemukulan menggunakan helm. Akibat serangan tersebut, anggota Satpol PP itu mengalami luka yang cukup parah.

Gubernur Anung menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap petugas yang sedang menjalankan tugas negara tidak dapat ditoleransi. Ia meminta agar proses hukum terhadap pelaku kekerasan tetap ditegakkan.

“Tadi malam pun saya bilang bahwa kita enggak boleh kalah dengan premanisme yang dilakukan oleh siapa pun. Karena mereka sedang menjalankan tugas, maka saya minta untuk ditegakkan aturan main,” tegasnya.

Pihak manajemen proyek telah mengirimkan perwakilan untuk menemui Kecamatan Kebayoran Baru dan menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Mereka juga berharap agar persoalan ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

Meskipun demikian, Gubernur Anung menekankan bahwa proses hukum harus tetap berjalan. “Sampai sekarang karena itu sudah dilakukan pemukulan, mereka mengejar-ngejar dan kemudian mengintimidasi, saya minta proses hukumnya tetap ditegakkan,” ujarnya.

Tinggalkan komentar