Ace Hasan Syadzily: Kesadaran Geopolitik Krusial untuk Generasi Muda Indonesia

JAKARTA – Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Ace Hasan Syadzily, menekankan pentingnya kesadaran geopolitik bagi generasi muda Indonesia. Menurutnya, kemampuan untuk membaca dan menanggapi dinamika kekuatan global secara kritis dan strategis adalah kompetensi krusial yang tidak bisa lagi dianggap sepele.

Ace menjelaskan bahwa persoalan dunia saat ini memiliki dampak langsung pada kehidupan sehari-hari di Indonesia. Ia memberikan contoh gangguan di Selat Hormuz yang mengakibatkan kenaikan biaya logistik hingga 200 persen, serta potensi pengurangan pasokan tambang dunia akibat longsor di tambang Grasberg pada 2025. Kedua peristiwa tersebut, menurut Ace, menunjukkan keterkaitan erat antara kejadian global dengan kondisi domestik Indonesia.

Dalam kuliah umum yang bertema ‘Membangun Kesadaran Geopolitik Generasi Muda: Memahami Dunia, Menentukan Posisi, Memberi Kontribusi’ di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Rabu lalu, Ace memaparkan bahwa wujud sederhana dari kesadaran geopolitik adalah sikap kritis terhadap informasi. Ia mengajak para mahasiswa untuk tidak hanya membaca, tetapi juga menelusuri sumber informasi, pembuatnya, serta kepentingannya.

Untuk menumbuhkan pola pikir ini, Ace menyarankan pengajuan lima pertanyaan mendasar: apa yang terjadi, mengapa terjadi, siapa yang berkepentingan, apa dampaknya bagi bangsa, dan apa yang bisa dilakukan. Dengan demikian, generasi muda diharapkan dapat berperan sebagai aktor aktif, bukan sekadar sasaran informasi dan propaganda.

Lebih lanjut, Ace memaparkan lima kemampuan vital yang perlu dimiliki generasi muda menuju Indonesia Emas 2045 untuk menumbuhkan kesadaran geopolitik. Kemampuan tersebut meliputi kesadaran strategis, berpikir kritis, kesadaran akan kepentingan nasional, kompetensi global, dan literasi digital. Ia menegaskan bahwa kesadaran geopolitik bukan hanya pengetahuan, melainkan modal penting bagi ketahanan nasional.

Upaya ini, lanjut Ace, merupakan agenda bersama yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, generasi muda, ekosistem teknologi, masyarakat, dan organisasi kepemudaan. Ia berharap ITB dapat mencetak generasi muda yang produktif, inovatif, serta menjadi pemimpin yang adaptif dan kompetitif, karena kesadaran geopolitik akan menentukan peran strategis Indonesia di masa depan.

Ace juga menyoroti jumlah generasi muda yang mencapai 66 juta jiwa pada usia 15-29 tahun (data BPS 2025). Tanpa persiapan yang matang, kelompok usia ini berpotensi mengalami kesenjangan keterampilan, polarisasi, serta kerentanan terhadap informasi dan ketergantungan teknologi. “Sekali lagi, teknologi adalah kekuatan. Indonesia perlu mencipta, mengembangkan, menguasai, dan mengamankan teknologi,” ujar Ace dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (8/10/2026).

Ia kembali menegaskan bahwa geopolitik bukan sekadar memahami peristiwa dunia, tetapi bagaimana perubahan global tersebut berdampak langsung pada Indonesia. Oleh karena itu, generasi muda diajak mengambil peran aktif agar kesadaran geopolitik menjadi modal adaptasi dan kontribusi nyata bagi ketahanan nasional. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang Indonesia yang akan kita tinggali, tetapi juga tentang Indonesia yang kita bentuk hari ini,” pungkas Ace.

Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Lemhannas RI didampingi oleh Plt. Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas RI Ipung Purwadi, Tenaga Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam Lemhannas RI Dadan Umar Daihani, Tenaga Profesional Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Lemhannas RI Andi Heru Wahyudi, Inspektur Lemhannas RI Udin Zainudin, serta sejumlah pejabat struktural dan fungsional Lemhannas RI. Turut hadir pula Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi (WRKMAA) Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, S.Sn., M.Sn., serta jajaran pejabat ITB.

Tinggalkan komentar