Jakarta – Sepuluh individu inspiratif telah terpilih sebagai kandidat DPD RI Awards 2026 dalam kategori Pelestari Budaya Daerah. Para tokoh ini mendedikasikan diri untuk menghidupkan kembali budaya daerah yang hampir punah serta mempromosikan seni dan budaya Indonesia ke kancah internasional.
Penghargaan ini akan diberikan kepada satu orang yang dinilai memiliki inovasi luar biasa dalam pengembangan dan pelestarian budaya daerah, serta berperan aktif dalam mempromosikan warisan bangsa di tingkat nasional maupun global. DPD RI mengumumkan para kandidat ini melalui laman resminya pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Alfonsa Raga Horeng: Pemberdayaan Perempuan Melalui Tenun Ikat Tradisional
Alfonsa Raga Horeng menjadi kandidat berkat perannya sebagai pelestari, penggerak, dan pendiri Sentra Tenun Lepo Lorun di Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia fokus memberdayakan perempuan lokal untuk menjaga kelestarian tenun ikat tradisional. Inisiatifnya tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan bagi para perempuan. Alfonsa mengembangkan budidaya bahan baku pewarna alam, memberikan pelatihan teknik menenun, pewarnaan, dan desain, serta mengedukasi makna filosofis setiap motif. Ia juga membentuk kelompok usaha perempuan untuk mengorganisasi produksi dan pemasaran, serta mengintegrasikan tenun dengan pariwisata budaya.
Anitawati: Revitalisasi Tenun Tidore yang Hilang Ratusan Tahun
Anitawati diakui atas upayanya merevitalisasi Tenun Tidore (Puta Dino Kayangan), yang sempat hilang lebih dari 100 tahun di Tidore, Maluku Utara. Berbekal riset arsip sejarah dan penelusuran jejak penenun, ia berhasil merekonstruksi teknik, motif, dan filosofi tenun sebagai identitas budaya Kesultanan Tidore. Melalui pelatihan dan pendampingan usaha, Anitawati memberdayakan perempuan, pemuda, pelajar, hingga warga binaan rutan. Ia mengembangkan motif-motif yang mengangkat sejarah Tidore sebagai Spice Islands dan memamerkan tenunnya di berbagai ajang internasional seperti Indonesia New York Fashion Week (2022), Kyoto (2023), dan Paris (2024), bahkan berhasil menembus pasar ekspor ke Hamburg, Jerman.
Cletus Beru: Mengembangkan Desa Wisata Budaya Berbasis Masyarakat Adat
Cletus Beru diusulkan sebagai kandidat karena menjadi pelopor dan pelestari budaya di Desa Umauta, Sikka, Nusa Tenggara Timur, hingga menjadikannya desa wisata. Ia mengembangkan model wisata budaya berbasis masyarakat adat dengan mengedepankan gotong royong dan keberlanjutan. Cletus menghubungkan budaya dengan ekonomi kreatif desa dan aktif memperjuangkan perhatian pemerintah. Berkat dedikasinya, Desa Umauta berhasil masuk 100 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 dan 50 Besar ADWI 2022.
Endang Dzunuraini: Sanggar Mbah Guru, Pusat Pelestarian Batik Lamongan
Endang Dzunuraini, pendiri Sanggar Mbah Guru di Lamongan, Jawa Timur, diakui karena menghidupkan kembali pengrajin batik desa yang sempat punah. Sanggar ini memberdayakan perempuan pedesaan dan seniman lokal, serta membuka wisata edukasi membatik lengkap dengan kunjungan ke kebun pewarna alam. Sanggar Mbah Guru memiliki laboratorium hidup berisi sekitar 100 jenis tanaman pewarna alam dan mengolah limbah pertanian menjadi pewarna batik inovatif. Endang juga berkontribusi dalam mengurangi pernikahan dini, KDRT, dan perceraian di kalangan perempuan desa melalui pemberdayaan ekonomi.
Juwandi: Menjadikan Desa Bukit Batu Pusat Kebudayaan Melayu
Juwandi diusulkan atas perannya menggerakkan Desa Budaya Bukit Batu di Bengkalis, Riau, menjadi pusat pelestarian budaya Melayu. Ia merangkul generasi muda untuk menjaga dan mengembangkan warisan Melayu melalui berbagai kegiatan seperti Festival Budaya Bukit Batu, pengembangan Kampung Tenun, pertunjukan seni, dan diskusi sejarah. Gerakan ini menjadikan budaya sebagai sumber kebanggaan, kreativitas, pendidikan, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi. Tenun Bukit Batu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022, dan desa ini meraih berbagai prestasi serta dukungan dana dari Kementerian Kebudayaan.
Leni Febrianti: Batik Kagano, Identitas Budaya Bengkulu Utara
Leni Febrianti merupakan penggagas dan pemegang hak cipta Batik Kagano, yang lahir pada 2019 untuk menghadirkan identitas budaya Bengkulu Utara. Mengangkat Kacamata Enggano dan Rafflesia Kemumu sebagai inspirasi motif, Batik Kagano mengubah kekayaan lokal menjadi identitas visual yang dapat dikenali dan diwariskan. Batik ini kini menjadi seragam resmi pemerintah dan sekolah di Bengkulu Utara, serta menjadi fondasi pengembangan ekosistem pelestarian budaya melalui pelatihan perajin, pemberdayaan UMKM, hingga pengenalan budaya ke tingkat internasional.
Maulana Muhammad Syuhada: Mempromosikan Angklung ke Seluruh Dunia
Sejak tahun 2002, Maulana Muhammad Syuhada aktif melestarikan dan mempromosikan angklung di kancah global. Ia mendirikan berbagai grup angklung dan kesenian tradisional di berbagai negara, serta memimpin Tim Muhibah Angklung (TMA) dalam enam misi budaya ke Eropa, Australia, Amerika Serikat, dan Timur Tengah. Maulana juga aktif dalam festival internasional, menggelar “Flash Mob Angklung” di berbagai landmark dunia, serta menerbitkan buku dan film dokumenter tentang angklung. Ia mendirikan Angklung Centre sebagai platform online untuk kebutuhan masyarakat akan angklung.
Mugiyono Kasido: Maestro Tari Kontemporer dengan Karya Fenomenal
Mugiyono Kasido adalah maestro seniman tari yang karyanya telah dipentaskan di berbagai kota di Indonesia dan mancanegara. Ia menelurkan karya-karya fenomenal seperti “Mencari Mata Candi” (2003) yang menggabungkan gerak tari Siwa dengan tari topeng Jawa, “Kabar Kabur” (sejak 2000) yang membiaskan batas tari, teater, dan pantomim, serta “Bima Suci” (2011) yang menampilkan tarian nonstop selama 36 jam. Karya-karyanya yang inovatif telah dipentaskan di berbagai festival internasional di lima benua.
Muhammad Ridwan Alimuddin: Revitalisasi Kebudayaan Bahari Mandar dan Perahu Sandeq
Muhammad Ridwan Alimuddin, peneliti independen, Duta Baca Sulawesi Barat, dan pendiri Komunitas Bahari Mandar, berdedikasi merevitalisasi kebudayaan bahari Mandar, khususnya perahu tradisional Sandeq. Ia menginisiasi dan mengkurasi program Student on Sandeq (SOS) untuk mendekatkan generasi muda pada teknik pembuatan dan pelayaran perahu tradisional. Ridwan juga aktif dalam festival Sandeq Race dan pelayaran rekonstruksi historis seperti ekspedisi Padewakang ke Australia.
Poltak Tambunan: Sastrawan Pendiri Komunitas Sastra Etnik Tortor Sangombas
Poltak Tambunan, sastrawan nasional, adalah pendiri komunitas sastra etnik Tortor Sangombas di Sumatera Utara. Komunitas ini bertujuan untuk penyelamatan, pelestarian, dan pengembangan penulisan sastra modern berbahasa Batak. Poltak membina para penulis sastra modern dalam bahasa daerah dan telah menghasilkan sejumlah karya sastra modern berbahasa Batak. Dedikasinya menginspirasi munculnya sastrawan dalam berbagai bahasa daerah dan membawanya meraih berbagai penghargaan.