10 Inovator Pendidikan Nonformal Berjuang Buka Akses di Daerah Tertinggal

Jakarta – Sepuluh kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam memperluas jangkauan pendidikan di berbagai pelosok daerah. Upaya mereka mencakup penggerakan pendidikan bagi anak di daerah tertinggal hingga pendirian sekolah alam.

Para kandidat ini telah terpilih melalui proses seleksi ketat oleh panitia DPD Awards 2026, dimulai dari ribuan pendaftar yang lolos seleksi administrasi, disaring menjadi 50 besar, hingga akhirnya terpilih 10 besar di setiap kategori.

Penghargaan ini didedikasikan bagi individu yang memiliki semangat tinggi dalam mengembangkan pendidikan nonformal dan memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat luas. “Penghargaan diberikan kepada Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah yang berdedikasi dalam mengembangkan pendidikan nonformal dan memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat,” demikian pernyataan resmi DPD RI.

Berikut adalah profil 10 sosok inovator pendidikan tersebut:

Afakhrul Masub Bakhtiar

Afakhrul Masub Bakhtiar, asal Gresik, Jawa Timur, mendirikan Sekolah Ndeso pada tahun 2017. Sekolah ini menerapkan model pendidikan kontekstual yang berakar pada kearifan lokal namun berorientasi masa depan. Sekolah Ndeso bukan sekadar tempat belajar, melainkan ekosistem pengetahuan yang menyatukan tradisi, budaya, dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Filosofi ‘dari akar lahir harapan, dari harapan tumbuh masa depan yang bermartabat’ menjadi landasan pembelajaran dengan metode TAR (Tumbuhkan, Alami, Rayakan). Konsep belajarnya menyentuh empat dimensi: Laku (praktik budaya pangan), Ingatan (memori kolektif), Doa (nilai syukur), dan Inovasi (menjembatani tradisi dengan kreasi generasi muda).

Alvian Wardhana

Alvian Wardhana mendirikan Literasi Anak Banua pada tahun 2018 di wilayah terpencil Kalimantan Selatan. Lembaga ini berfokus pada pemberdayaan anak dan pemuda adat melalui pendidikan. Pendiriannya dilatarbelakangi oleh persoalan buta huruf, keterbatasan akses pendidikan, ketidaksesuaian kurikulum dengan masyarakat adat, serta kerentanan terhadap perubahan iklim. Program yang dikembangkan meliputi bimbingan belajar, pendidikan iklim, pembangunan perpustakaan, pemberdayaan pemuda adat, inkubator iklim, serta pelatihan advokasi. Program-program ini menggabungkan pendidikan, pengembangan kapasitas, kewirausahaan, advokasi, kesetaraan gender, dan pemecahan masalah lingkungan, bekerja sama dengan berbagai mitra internasional.

Egi Trialogi

Egi Trialogi, seorang guru honorer dan tutor pendidikan kesetaraan dari Majalengka, Jawa Barat, mendirikan sekolah anak jalanan bernama Pustaka Raharja. Melalui sekolah ini, Egi mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pembentukan karakter, dan pemberdayaan ekonomi. Ia menyediakan sistem pembelajaran nonformal yang fleksibel dan berlandaskan kearifan lokal untuk memutus rantai kerentanan sosial-ekonomi. Pustaka Raharja juga mengelola unit usaha seperti angkringan, katering, pelatihan jasa perawatan kendaraan, dan toko sayuran yang dikelola langsung oleh para peserta didik.

Fatmawati Arisuddin

Fatmawati Arisuddin menggagas program Tukar Sampah dengan Ijazah Kesetaraan sejak 2019 di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Program ini merangkul masyarakat prasejahtera dengan mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan sampah. Peserta mendapatkan pendidikan Paket A, B, dan C secara gratis dengan menukar sampah plastik yang diolah menjadi material bangunan. Program ini diperluas dengan Keaksaraan Dasar dan Keaksaraan Usaha Mandiri, serta beasiswa bagi lulusan Paket C untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, menciptakan ekosistem pemberdayaan desa yang menghubungkan pendidikan, lingkungan, dan kemandirian.

Gusti Mohammad Hamdan Firmanta

Gusti Mohammad Hamdan Firmanta adalah pendiri Kawan Netra di Surabaya, Jawa Timur, sejak 2021. Lembaga ini fokus pada pendampingan tunanetra melalui program Gerakan Tunanetra Mengaji (GTM) dan Buta Digital (BD). GTM digagas karena tingginya angka buta huruf Al Quran Braille di kalangan tunanetra muslim. Program ini menyediakan support system pendidikan baca tulis Braille yang berkelanjutan. Sementara itu, program BD memberikan bimbingan dan pelatihan literasi digital agar tunanetra mandiri dalam mengoperasikan platform digital dan terhindar dari penipuan.

Kanaya Malika Amanda

Kanaya Malika Amanda, dari Kabupaten Bungo, Jambi, adalah penggagas program Edukasi Berjalan. Gerakan youth changemaker ini berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam memajukan pendidikan masyarakat marjinal. Inisiatif ini lahir dari minimnya inovasi pendidikan daerah yang melibatkan pemuda. Kanaya menggerakkan anak muda untuk merangkul, berbagi, dan menginspirasi anak-anak dari komunitas rentan demi menciptakan akses pendidikan yang setara. Hingga kini, gerakannya telah memimpin lebih dari 253 program pendidikan langsung yang mencakup isu HAM, lingkungan, pemberdayaan perempuan, keamanan digital, dan pencegahan kekerasan, berdampak pada puluhan ribu orang di berbagai kota dan negara.

Sofian

Sofian mendirikan Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) pada tahun 2010 di Bengkulu, sebuah wadah pendidikan konservasi bunga Rafflesia. KPPL didirikan atas keprihatinan terhadap rendahnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian Rafflesia. Melalui KPPL, Rafflesia dijadikan media pembelajaran dan pintu masuk pendidikan lingkungan melalui pengenalan, pembelajaran langsung di habitat, ekspedisi, kampanye, hingga edukasi ke sekolah dan pemanfaatan media digital. Pendekatan ini memberikan pengalaman nyata kepada masyarakat untuk mengenal, memahami, mencintai, dan menjaga kekayaan alam.

Sri Wahyaningsih

Sri Wahyaningsih adalah inisiator Sanggar Anak Alam (SALAM), sebuah “Laboratorium Pendidikan” yang melayani anak-anak dari jenjang PAUD hingga SMA, didirikan pada 1988 di Banjarnegara. SALAM mengembangkan pendekatan “sekolah hadap masalah”, yaitu pembelajaran berbasis pengalaman nyata, pengamatan lingkungan, diskusi, riset, dan pencarian solusi bersama. Proses belajar tidak berbasis mata pelajaran, melainkan riset sesuai minat anak dengan empat pilar utama: pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya. SALAM membuktikan bahwa komunitas lokal mampu mengelola pendidikan yang inklusif, humanistis, dan memberdayakan tanpa bergantung pada standardisasi kaku.

Taryaningsih

Taryaningsih mendirikan Kawasan Inklusif di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pada 2019. Ini adalah wadah pendidikan nonformal pertama di Indonesia yang didedikasikan untuk penyandang disabilitas. Kawasan Inklusif membekali penyandang disabilitas dengan keterampilan vokasi dan mengajarkan hidup berdampingan di masyarakat. Tujuannya adalah memberikan kesempatan bagi disabilitas dan kelompok rentan untuk memiliki rumah sendiri dengan infrastruktur yang ramah disabilitas, serta menciptakan usaha yang memudahkan pemasaran melalui sentra usaha produktif.

Yudhi Hari Wibowo

Yudhi Hari Wibowo adalah inisiator ASN Mengajar, sebuah gerakan nasional yang dimulai dari pengalaman mengajar sukarela sejak 2017 dan dipimpinnya sejak 2022. Gerakan ini mengajak Aparatur Sipil Negara (ASN) di seluruh Indonesia untuk berperan dalam pemerataan pendidikan bagi masyarakat prasejahtera melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal. ASN Mengajar menyelenggarakan kegiatan pengajaran rutin, bantuan pendidikan, kelas minat bakat, kewirausahaan remaja, outing class, serta beasiswa dan bantuan perlengkapan sekolah. Kini, gerakan ini berbadan hukum sebagai Yayasan Pendidikan Dewantara Muda dan memiliki jaringan di enam wilayah binaan.

Tinggalkan komentar