Tol Jogja-Bawen Seksi 3: WIKA Kejar Target Juni 2028, Fokus Konektivitas Borobudur

JAKARTA – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), melalui KSO PP-Waskita-WIKA, terus memajukan pembangunan Jalan Tol Jogja-Bawen Seksi 3. Proyek strategis ini ditargetkan selesai pada Juni 2028.

Tol Jogja-Bawen Seksi 3 dirancang untuk memperkuat konektivitas antara Yogyakarta dan Jawa Tengah, sekaligus mengukuhkan koridor strategis Joglosemar (Yogyakarta-Solo-Semarang). Pembangunan infrastruktur ini krusial untuk meningkatkan akses menuju kawasan Borobudur, memperlancar mobilitas masyarakat, serta menggerakkan roda ekonomi di wilayah sekitarnya.

Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, menyatakan bahwa pembangunan ini tidak hanya tentang konektivitas, tetapi juga keberlanjutan. “Harapan kami, pembangunan Tol Jogja-Bawen Seksi 3 dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan konektivitas dan mobilitas serta mempermudah akses wisatawan menuju kawasan Borobudur yang pada akhirnya mendukung perekonomian masyarakat Magelang,” ujar Ngatemin dalam keterangan tertulis, Senin (5/10/2026).

Ia menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur harus berjalan harmonis dengan pelestarian lingkungan, budaya, dan kepentingan masyarakat lokal. “Sehingga infrastruktur yang dihasilkan tidak hanya berkualitas, tetapi juga berkelanjutan,” tegasnya.

Saat ini, Seksi 3 sedang dalam tahap pekerjaan tanah yang meliputi galian, pembangunan box culvert dan box traffic, serta bore pile untuk struktur jembatan. Fokus percepatan pekerjaan diarahkan pada penyelesaian galian, timbunan, dan struktur melalui pemantauan produktivitas harian dan mingguan, serta pengendalian pada lintasan kritis.

Pembangunan Seksi 3 sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam mendorong infrastruktur yang mendukung pariwisata dan konektivitas, sembari memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan pelestarian budaya. Mengingat lokasinya yang berdekatan dengan kawasan Borobudur, aspek lingkungan dan budaya menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan konstruksi.

Mitigasi dilakukan dengan pengendalian metode kerja, pergerakan alat berat, debu, getaran, kebisingan, serta pengelolaan material dan limbah. Pendekatan ini bertujuan meminimalkan gangguan terhadap lingkungan dan kawasan budaya.

Pada beberapa pekerjaan struktur, pengendalian dilakukan lebih ketat mengingat aktifnya jalan nasional, kondisi tanah, dan muka air tanah. Pengendalian ini mencakup verifikasi data geoteknik, pemilihan metode konstruksi, pemantauan deformasi dan elevasi, pengaturan lalu lintas, hingga pemeriksaan mutu pada titik, pembesian, sambungan, pengecoran, dan pengujian beton.

Proyek ini juga membuka peluang bagi tenaga kerja, pemasok, dan pelaku usaha lokal di Magelang yang memenuhi persyaratan. Keterlibatan mereka diharapkan dapat mendorong perputaran ekonomi masyarakat sekitar.

Untuk mendukung efektivitas, WIKA menerapkan inovasi seperti pemanfaatan teknologi survei, pengendalian progres berbasis data, optimalisasi alat, dan prefabrikasi. Pengendalian mutu dilakukan sejak tahap perencanaan melalui Inspection and Test Plan (ITP), checklist, dan hold point. Material hasil galian juga dimanfaatkan kembali sebagai material timbunan untuk efisiensi dan pengurangan emisi.

Tinggalkan komentar