Jakarta – Dewan Pakar telah memilih tiga besar DPD RI Awards 2026 untuk kategori Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah. Ketiga sosok ini dinilai memiliki dedikasi luar biasa dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.
Proses pemilihan tiga besar ini berlangsung dalam rapat perdana Dewan Pakar yang diselenggarakan di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Senin, 5 Oktober 2026. DPD RI Awards 2026 sendiri memiliki empat kategori penghargaan, yaitu Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan, dan Pelestari Budaya Daerah.
Dewan Pakar yang bertugas dalam DPD Awards 2026 terdiri dari sejumlah tokoh terkemuka. Mereka adalah Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr. H. Fadli Zon, SS, M.Sc; Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si; Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol; Anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H; serta Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc.
Profil Tiga Besar Inovator Pendidikan Nonformal
Berikut adalah profil singkat dari tiga sosok yang berhasil masuk dalam tiga besar DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Nonformal:
1. Alvian Wardhana (Kalimantan Selatan)
Alvian Wardhana adalah pendiri Literasi Anak Banua yang didirikan pada tahun 2018. Organisasi ini fokus pada pemberdayaan anak serta pemuda adat di wilayah terpencil Kalimantan Selatan, dengan tujuan utama memperluas akses pendidikan.
Inisiatif pendirian Literasi Anak Banua muncul sebagai respons terhadap berbagai persoalan, termasuk buta huruf, keterbatasan akses pendidikan, ketidaksesuaian kurikulum dengan konteks masyarakat adat, serta kerentanan terhadap dampak perubahan iklim. Berbagai program telah dikembangkan, mencakup bimbingan belajar, pendidikan literasi-numerasi, edukasi iklim, pembangunan perpustakaan mini, pemberdayaan pemuda adat, inkubator iklim Meraki, program SAFE for Gender and Climate, serta Pelatihan Advokasi Pembaharu Muda Kalimantan Selatan.
Program-program tersebut secara komprehensif menggabungkan aspek pendidikan, pengembangan kapasitas, kewirausahaan, advokasi, kesetaraan gender, dan pemecahan masalah lingkungan. Pelaksanaannya melibatkan partisipasi aktif dari pelajar, guru, pemuda adat, komunitas lokal, serta berbagai mitra internasional seperti UNICEF, UNESCO, Plan International, dan Rockefeller Foundation.
2. Egi Trialogi (Jawa Barat)
Egi Trialogi, seorang guru honorer dan tutor pendidikan kesetaraan dari Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mendirikan sekolah anak jalanan bernama Pustaka Raharja. Melalui Pustaka Raharja, Egi mengintegrasikan pendidikan kesetaraan, pembentukan karakter, dan pemberdayaan ekonomi bagi anak jalanan.
Ia menyediakan sistem pembelajaran nonformal yang fleksibel dan berlandaskan pada kearifan lokal untuk memutus rantai kerentanan sosial-ekonomi. Egi juga aktif membuka dan menggerakkan unit usaha yang dikelola langsung oleh para peserta didik dengan bimbingan operasional, pelayanan, dan keuangan. Unit usaha yang dijalankan oleh anak didik Egi meliputi Angkringan Senja (kuliner malam), Dapoer Senja (olahan pangan lokal dan katering), Nusantara Steam (pelatihan jasa perawatan kendaraan), dan Toko Sayuran Berkah Nusantara (tata kelola ritel dan distribusi bahan pangan segar).
3. Taryaningsih (Jawa Timur)
Taryaningsih mendirikan Kawasan Inklusif di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, sebagai wadah pendidikan nonformal yang didedikasikan untuk penyandang disabilitas. Kawasan Inklusif, yang merupakan inovasi pertama di Indonesia dan dibangun dengan investasi lebih dari Rp 3 miliar pada tahun 2019, bertujuan membekali penyandang disabilitas dengan keterampilan vokasi untuk menciptakan ‘disabilitasmart’.
Selain itu, para penyandang disabilitas diajari untuk hidup berdampingan dan bersosialisasi dengan masyarakat non-disabilitas. Pembangunan Kawasan Inklusif berupaya memberikan kesempatan yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk memiliki kemandirian dan rumah sendiri. Program ini juga fokus pada penciptaan infrastruktur yang ramah disabilitas, pengembangan usaha yang dikelola oleh penyandang disabilitas, serta fasilitasi pemasaran produk melalui sentra usaha terpadu.
Seluruh layanan umum di Kawasan Inklusif dirancang khusus agar mudah diakses oleh penyandang disabilitas, termasuk penyediaan jalur kursi roda dan guiding block bagi penyandang netra.