Presiden Mesir Puji Komitmen Indonesia untuk Palestina di Forum Board of Peace

Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi menyampaikan apresiasi mendalam kepada Presiden Prabowo Subianto atas partisipasi aktif Indonesia dalam upaya perjuangan kemerdekaan Palestina. El-Sisi secara khusus menyoroti posisi Indonesia dalam forum Board of Peace (BoP) yang dinilai krusial.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih atas kehadiran Presiden Subianto pada 2025 hadir di Sharm El-Sheikh yang menyaksikan untuk kesepakatan penghentian gencatan senjata di Gaza,” ujar El-Sisi melalui penerjemah di Istana Kepresidenan, Jakarta, Minggu (11/10/2026).

Lebih lanjut, El-Sisi berterima kasih atas komitmen Indonesia dalam upaya rekonstruksi Gaza. Ia menegaskan penolakan Mesir terhadap segala upaya Israel yang bertujuan mengusir masyarakat Palestina dari tanah mereka.

“Dan kami juga mengucapkan terima kasih Indonesia berada di BoP untuk memastikan terjadinya perdamaian dan pembangunan kembali Gaza dan untuk memberikan bantuan kepada saudara-saudara kita di Palestina,” tambahnya. Ia menekankan pentingnya jaminan pasti dan keberlanjutan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Presiden Mesir juga menegaskan kembali penolakan terhadap segala bentuk pengusiran masyarakat Palestina atau upaya untuk melupakan isu Palestina. “Dan saya juga ingin menyampaikan dan kami selalu menolak semua bentuk untuk mengusir masyarakat Palestina atau menganggap hilang isu Palestina ini,” tegasnya.

Situasi di Palestina menjadi perhatian utama dalam pertemuan bilateral tersebut. El-Sisi berharap terciptanya perdamaian yang komprehensif bagi seluruh masyarakat di sana.

“Dan yang terkait dengan isu Palestina, dan itu menjadi pembahasan yang penting antara kami berdua untuk memperhatikan apa yang terjadi di sana sangat dan itu yang akan memiliki pengaruh terhadap kestabilan-kestabilan di kawasan,” jelas El-Sisi.

Ia menambahkan bahwa kedua negara sepakat untuk mencari penyelesaian menyeluruh dan komprehensif bagi masalah Palestina, termasuk mewujudkan negara Palestina yang merdeka dengan batas wilayah Juni 1967 dan ibu kota Yerusalem Timur. “Itulah jalan satu-satunya untuk mewujudkan perdamaian yang komprehensif,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar