Perempuan di Jakarta: Cerita Perjuangan dan Kenyamanan di Tengah Hiruk Pikuk Transportasi Publik

Perjalanan Aprilia (32) dimulai jauh sebelum matahari terbit. Pukul 05.00 WIB, dapur rumahnya di Sawangan, Depok, sudah ramai dengan aktivitas menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak serta suami. Setelah menyelesaikan urusan rumah tangga, Aprilia bersama suami bersiap menuju tempat kerja. Suaminya mengantar Aprilia ke halte TransJabodetabek D41 di dekat Tol Desari, yang membawanya ke Stasiun MRT Fatmawati. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan ke kantornya di Cempaka Mas.

“Aku sebagai ibu bekerja bisa dibilang cukup hectic, karena harus membagi waktu antara urusan rumah, anak, dan pekerjaan. Aku tinggal di Sawangan bersama suami dan satu anak balita, sementara tempat kerjaku di daerah Cempaka Mas, jadi setiap hari harus mengatur waktu dan tenaga,” kata Aprilia saat ditemui di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan.

Aprilia mengungkapkan bahwa integrasi TransJabodetabek dengan MRT sangat membantu rutinitasnya. Ia tidak perlu mengeluarkan energi ekstra menggunakan kendaraan pribadi. Meski perjalanan harian terkadang melelahkan, tanggung jawab sebagai ibu dan pekerja mendorongnya untuk mengatur waktu dan tenaga agar keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga tetap terjaga. “Transportasi umum cukup membantu aku menjalani rutinitas tersebut,” jelasnya.

Saat hamil, Aprilia menjadi lebih selektif dalam memilih transportasi umum, memprioritaskan kenyamanan dan ketersediaan tempat duduk. “Buat ibu hamil, akses yang mudah, informasi yang jelas, serta kesadaran penumpang lain untuk memberikan tempat duduk itu penting banget,” ujarnya.

Bagi Kuma (32), seorang ibu dua anak, transportasi umum, khususnya MRT, menjadi sarana edukasi bagi anak-anaknya. Ia ingin mengenalkan berbagai moda transportasi, aturan ruang publik, dan pentingnya menggunakan transportasi umum sejak dini. “Bagi saya, pengalaman sederhana seperti ini menjadi bagian dari pembelajaran yang menyenangkan di luar rumah,” kata Kuma kepada kepada detikcom di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Kuma mengaku lebih memilih MRT saat bepergian bersama anak karena suasana yang lebih nyaman dan tidak terlalu padat dibandingkan KRL. Ia juga mengapresiasi fasilitas penunjang seperti nursery room di Stasiun MRT Jakarta. “Sebagai seorang ibu, salah satu fasilitas yang sangat saya rasakan manfaatnya adalah nursery room. Saya beberapa kali memanfaatkan fasilitas ini untuk mengganti popok anak, menyusui, maupun melakukan pumping,” ungkapnya.

Lisa (60), seorang lansia, merasakan kemudahan berkat terintegrasinya moda transportasi. Ia dan putrinya kerap menggunakan TransJakarta yang dilanjutkan dengan MRT untuk mencapai tujuan. “Tadi abis nemenin anak interview, sekarang mau ke Blok M, mau makan,” kata Lisa di Stasiun MRT Blok M.

Namun, Lisa menyayangkan masih banyak penumpang, terutama anak muda, yang enggan memberikan kursi kepada penumpang prioritas. Fenomena ini kerap terjadi pada jam sibuk, membuatnya terpaksa berdiri lebih lama. “Kesadaran anak muda ini kalau sudah kami yang tua ini naik, tolong kasih tempat duduknya gitu,” jelasnya.

Situasi ini diperparah saat jam sibuk, di mana penumpukan penumpang mempersulit penumpang prioritas mendapatkan tempat duduk. Kehadiran petugas yang mendampingi penumpang prioritas hingga masuk kereta dapat membantu mengatasi masalah ini.

Nindy (27), putri Lisa, menambahkan bahwa MRT lebih bersahabat bagi lansia karena tidak terlalu ramai, bersih, dan dilengkapi fasilitas seperti lift prioritas. “Karena MRT kan lebih cepat ya, nggak kena macet. Jadi nggak capek di jalan gitu. Terus di sini juga ada lift, jadi nggak harus capek naik turun tangga. Dan lebih tertata aja, jadi nggak harus desek-desekan,” ujar Nindy.

Di balik kenyamanan transportasi publik, kekhawatiran akan pelecehan seksual masih menghantui penumpang perempuan. Survei Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) menyebutkan 48,9% perempuan pengguna transportasi publik mengalami pelecehan seksual.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengakui bahwa meskipun fasilitas seperti gerbong khusus perempuan sudah ada, pelaksanaannya belum maksimal. Ia menekankan pentingnya peran petugas di lapangan yang proaktif dalam mengawasi dan membantu penumpang. “Setiap angkutan itu harus ada petugas untuk mengawasi setiap gerak gerik (mencurigakan),” ujarnya.

Djoko menyarankan penambahan rangkaian kereta pada jam sibuk dan peningkatan fasilitas pendukung seperti CCTV, imbauan lisan, serta stiker edukasi untuk meminimalkan risiko pelecehan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat peningkatan penggunaan transportasi umum di Ibu Kota, termasuk TransJakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta.

Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta (Perseroda) Rendy Primartantyo menyatakan MRT Jakarta siap mendampingi korban pelecehan seksual sebagai saksi dan menyediakan bukti jika diperlukan. “SOP penanganannya adalah jika korban melaporkan, terbukti dan ingin melanjutkan laporannya, MRT Jakarta akan memfasilitasi laporan tersebut dan bersifat mendampingi korban sebagai saksi dan juga penyedia bukti bila diperlukan CCTV,” kata Rendy.

Rendy menambahkan bahwa MRT Jakarta dirancang secara universal untuk kenyamanan dan keamanan semua pengguna. Fasilitas seperti ruang kamar bayi di seluruh stasiun, pin prioritas, dan kursi prioritas disediakan untuk mendukung penumpang prioritas. “MRT Jakarta dioperasikan dengan standar internasional, yaitu yang lazim digunakan di operator metro lainnya di negara maju,” ujarnya.

Petugas keamanan MRT Jakarta rutin berpatroli untuk menjaga kenyamanan pelanggan. Selama jam sibuk, kereta khusus perempuan juga disediakan. Petugas juga terlihat proaktif membantu penumpang, termasuk mendampingi penumpang tunanetra.

Tinggalkan komentar