Mentrans M. Iftitah Pelajari AI Pertanian di Chongqing, Buka Peluang Investasi RI

JAKARTA – Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menekankan pentingnya penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam sektor pertanian untuk meningkatkan produktivitas, setelah melakukan kunjungan kerja ke Chongqing, Tiongkok. Pembelajaran ini diharapkan dapat diaplikasikan untuk mengembangkan kawasan transmigrasi di Indonesia menjadi pusat ekonomi berbasis pertanian modern.

Dalam kunjungannya ke Chongqing Academy of Agricultural Sciences (CQAAS), Iftitah mendalami bagaimana penelitian, teknologi digital, dan inovasi pertanian di Tiongkok mampu meningkatkan efisiensi produksi serta mendukung pembangunan ekonomi perdesaan. Pengalaman ini dinilai sangat relevan bagi Indonesia, terutama untuk kawasan transmigrasi di Papua, Sulawesi, dan wilayah lainnya.

“Kami belajar bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi baru, langkah tersebut harus berbasis riset dan ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya akan sporadis,” ujar Iftitah dalam keterangan tertulisnya.

Ia menambahkan bahwa potensi lahan dan sumber daya alam Indonesia sangat besar, namun keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya bergantung pada perluasan lahan dan infrastruktur. Pengetahuan mengenai kondisi tanah, pemilihan komoditas tepat, teknologi budidaya, keterampilan petani, dan kepastian pasar juga menjadi faktor krusial.

“Kita juga harus meningkatkan kapasitas para transmigran dan masyarakat lokal di kawasan tersebut agar mereka memiliki know-how,” jelasnya lebih lanjut.

Inovasi AI Mendukung Efisiensi Pertanian

Salah satu inovasi yang menarik perhatian Iftitah adalah sistem pertanian cerdas yang mengintegrasikan budidaya ikan dan sayuran melalui teknologi akuaponik. Sistem ini memanfaatkan air dari kolam ikan yang telah diolah untuk nutrisi tanaman, sehingga penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien.

Sistem akuaponik tersebut didukung oleh teknologi AI dan otomasi untuk pemantauan budidaya, pemberian pakan presisi, dan pengendalian proses produksi. Inovasi ini menunjukkan bagaimana penelitian dapat diterjemahkan menjadi teknologi yang membantu meningkatkan hasil produksi, menghemat sumber daya, dan mengurangi pekerjaan berulang.

CQAAS juga mengembangkan penelitian mengenai karakteristik tanah dan kesesuaian tanaman, memastikan hasil penelitian tidak hanya berhenti di laboratorium tetapi dapat diterapkan langsung oleh petani. Iftitah mengapresiasi pendekatan ini, di mana pemerintah secara aktif melakukan riset bulanan dan membagikan hasilnya kepada seluruh petani.

Pendekatan ini memberikan pelajaran penting bagi Indonesia, mengingat setiap kawasan transmigrasi memiliki karakteristik lahan, iklim, dan potensi komoditas yang berbeda. Pengembangan harus didasarkan pada penelitian yang sesuai dengan kebutuhan setempat, serta teknologi yang mempertimbangkan kemampuan masyarakat untuk menggunakannya secara berkelanjutan.

Peluang Investasi Pertanian di Papua dan Sulawesi

Selain mempelajari teknologi, Iftitah juga mendorong penguatan kerja sama investasi pertanian antara Indonesia dan Tiongkok. Ia telah berdiskusi dengan Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, mengenai peluang pengembangan kerja sama di bidang pertanian, khususnya di Papua, serta sektor pariwisata.

“Saya sudah berdiskusi dengan Duta Besar Wang Lutong, dan kami berdua sepakat untuk mengembangkan kerja sama di bidang pertanian di Papua, serta industri lain seperti pariwisata,” tuturnya.

Kerja sama ini diharapkan dapat mempertemukan potensi sumber daya Indonesia dengan teknologi, pengalaman industri, investasi, dan akses pasar Tiongkok. Iftitah melihat peluang besar untuk mengembangkan komoditas unggulan Indonesia, seperti durian, yang memiliki potensi di Sulawesi melalui peningkatan produksi, pengolahan, dan penguatan rantai pasok.

“Tiongkok membutuhkan banyak durian. Anda bisa membawa investasi ke Indonesia, menanam durian di negara kami, misalnya di Sulawesi, dan mari kita nikmati durian tersebut bersama-sama,” ujar Iftitah, menggambarkan potensi kolaborasi.

Ia menekankan bahwa investasi asing perlu diarahkan untuk membangun kegiatan ekonomi di daerah penghasil komoditas, bukan sekadar memperbesar perdagangan bahan mentah. Pembangunan teknologi budidaya, industri pengolahan, fasilitas penyimpanan, dan jaringan pemasaran diharapkan dapat memberikan kesempatan kerja lebih luas bagi masyarakat.

Investasi asing juga harus memberikan manfaat melalui transfer pengetahuan dan teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta keterlibatan pelaku usaha lokal, sehingga masyarakat dapat mengembangkan usaha secara mandiri.

Solusi Pertanian untuk Kawasan Transmigrasi

Pengalaman Chongqing menjadi referensi dalam mengembangkan solusi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan kawasan transmigrasi di Indonesia. Salah satu contohnya adalah pengembangan pertanian di kawasan transmigrasi Barelang, khususnya Rempang, Kota Batam.

BP Batam dan Pemerintah Kota Batam menawarkan lahan seluas 25 hektare untuk kegiatan pertanian masyarakat setempat sebelum pengembangan industri dilaksanakan. Peluang ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembibitan, pengembangan komoditas, serta pertanian produktif bagi masyarakat.

Pengembangan ini diharapkan dapat membantu warga mempertahankan dan memperluas sumber penghidupan selama proses pembangunan kawasan berlangsung. Kementerian Transmigrasi juga mendorong pengembangan ekonomi perikanan dan kelautan melalui kolaborasi lintas kementerian.

Setiap kawasan memerlukan pendekatan yang berbeda, namun tujuannya sama: menciptakan kegiatan ekonomi produktif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pendidikan, Industrialisasi, dan Pasar sebagai Penggerak Pertumbuhan

Iftitah melihat pentingnya menghubungkan pendidikan, industrialisasi, dan kebutuhan pasar dalam membangun ekonomi berkelanjutan. Pendidikan dan penelitian meningkatkan kemampuan masyarakat dan produktivitas, sementara industrialisasi menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja.

“Pendidikan adalah kunci pembangunan. Kedua, menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan melalui industrialisasi. Ketiga, yang baru saya pelajari dari kunjungan ini, adalah mengenai konsumsi,” kata Iftitah.

Peningkatan produksi pertanian harus disertai kepastian pasar, baik melalui industri pengolahan domestik maupun perluasan akses perdagangan internasional. Tanpa keterhubungan ini, peningkatan produksi belum tentu meningkatkan pendapatan petani.

Transformasi transmigrasi diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi yang menghubungkan lahan, tenaga kerja, riset, teknologi, investasi, industri, dan pasar dalam satu perencanaan kawasan.

Iftitah berharap pembelajaran dari Chongqing dan penjajakan kerja sama dengan mitra Tiongkok dapat mempercepat pengembangan pertanian modern dan industri berbasis potensi daerah di Indonesia. Namun, penerapan teknologi dan model pembangunan harus disesuaikan dengan karakteristik lahan, kebutuhan masyarakat, kesiapan infrastruktur, dan kelayakan ekonomi masing-masing kawasan.

Tujuan akhirnya adalah memastikan masyarakat dapat menghasilkan lebih banyak, memperoleh pendapatan lebih baik, dan memiliki kesempatan kerja lebih luas. “Jika kita konsisten, kita tidak akan kalah dengan produk-produk dari luar negeri,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar