Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, menekankan pentingnya menanamkan nilai toleransi di lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 Jakarta. Hal ini disampaikannya saat mengunjungi sekolah tersebut dan memperkenalkan dua siswa, Jesse dan Latifah, yang berbeda keyakinan namun memiliki persahabatan yang erat.
Gus Ipul juga mengapresiasi penerimaan siswa terhadap Libo, seorang siswa asli Papua, yang menunjukkan bahwa perbedaan tidak menghalangi kenyamanan dan keakraban di SRT 4 Jakarta. “Jesse ini non-muslim, Latifah muslim, tapi akrab seperti saudara, tidak ada perbedaan. Tepuk tangan dong, itulah Sekolah Rakyat,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulisnya.
Dalam kunjungannya, Gus Ipul mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman bagi seluruh anak, tanpa memandang perbedaan agama, suku, warna kulit, atau latar belakang keluarga. Ia menjelaskan bahwa keberagaman latar belakang, kebiasaan, pengalaman hidup, dan keyakinan di antara siswa Sekolah Rakyat seharusnya tidak menjadi pemisah.
“Anak-anakku sekarang ini kumpul di sini macam-macam latar belakangnya, macam-macam keyakinannya, macam-macam sukunya, macam-macam kebiasaannya. Tapi kita semua ini adalah saudara satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia,” tegasnya. Gus Ipul mendorong para siswa untuk berteman dengan siapa saja dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan identitas.
Ia berpesan, “Jangan membeda-bedakan teman. Semua temanmu, semua saudaramu. Tidak ada yang perlu dimusuhi. Semua harus ditemani.” Gus Ipul juga mengingatkan bahwa perundungan sering kali berawal dari tindakan sepele seperti mengejek atau menghina teman karena perbedaan fisik maupun agama, dan meminta agar kebiasaan tersebut tidak tumbuh di lingkungan sekolah.
“Jangan ada yang mem-bully temannya gara-gara beda kulit, gara-gara beda agama. Tidak boleh, tidak baik, dan itu merugikan masa depan kita semua,” ungkapnya. Ia menekankan bahwa setiap anak harus merasa diterima di Sekolah Rakyat, dan perbedaan latar belakang justru menjadi kesempatan untuk belajar hidup bersama dan saling menghormati.
Gus Ipul kembali mengingatkan, “Jangan suka meledek temannya. Jangan suka menghina temannya. Bisa jadi yang dihina lebih baik daripada yang menghina.” Kedekatan Jesse dan Latifah dijadikan contoh nyata bahwa pertemanan tidak harus dibatasi oleh perbedaan keyakinan.
Usai pertemuan tersebut, Gus Ipul menyatakan bahwa pencegahan perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan Kementerian Sosial (Kemensos) di seluruh Sekolah Rakyat. Pendidikan karakter dianggap sebagai elemen krusial dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang berasrama.
Melalui pendampingan intensif dari wali asuh dan wali asrama, Gus Ipul berharap siswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga terbiasa menghargai perbedaan, menjaga hubungan baik, dan memperlakukan teman sebagai saudara. “Monitoring evaluasi terus, mulai dari bagaimana kita mencegah terjadinya bullying, kekerasan fisik seksual maupun juga intoleransi. Kami juga memiliki mekanisme untuk melakukan mitigasi jika ada hal-hal yang perlu dicarikan jalan keluar atau solusi,” pungkasnya.